“Mil, makan nggak?” tanya Jenny
“bentar bentar Jen”
Millen terlebih dulu mematikan laptopnya kemudian merogoh tas mengambil dompet beserta ponsel. Setelahnya ia berjalan keluar ruangan dosen menyusul Jenny yang sudah menunggunya di sana.
Siang ini Millen dan Jenny sudah menyusun rencana sebelumnya untuk makan siang bersama di restoran yang baru saja buka tepat di depan kampus.
Beberapa dosen yang sudah pernah mencicipi makan di sana sering kali memuji kelezatan makanannya. Membuat Millen dan Jenny penasaran.
Di luar ruangan dosen, Millen mengangkat kedua alisnya saat melihat Jenny dan Danu yang sedang mengobrol bersama. Apa Danu juga akan ikut makan bersama mereka?
Entah kenapa semenjak mendengar ucapan Danu yang seakan belum bisa move on dari dirinya, Millen menjadi sedikit menjaga jarak dengan pria itu.
Ia hanya tidak ingin Danu terus terusan menyimpan perasaan padanya. Millen juga berpikir mungkin saja dengan dirinya menjaga jarak dengan Danu maka pria itu sedikit demi sedikit akan mulai menghapuskan perasaannya pada Millen.
Ya, semoga saja.
“Mil, si Danu mau ikut. Barengan nggak pa-pa kan?” Millen mengangguk walaupun dalam hati ia menolak.
Mereka bertiga pun berjalan keluar gedung kampus. Melewati parkiran kampus yang ramai dengan mahasiswa yang tersenyum menyapa melihat ketiga dosen mereka. Sampai akhirnya menyebrang jalan menuju restoran yang terlihat ramai disaat jam makan siang seperti ini.
Seorang pelayan menyambut mereka di pintu masuk. Beruntung walaupun restoran terlihat ramai namun masih ada meja yang kosong dan cukup untuk mereka bertiga.
Meja yang berada di sudut ruangan. Millen memilih duduk di samping Jenny sementara Danu duduk di hadapan Jenny. Ia bersyukur karena Danu tak duduk dihadapannya.
Tak lama berselang seorang pelayan datang dengan membawa buku menu. Mereka bertiga memegang satu per satu buku menu kemudian menyebutkan pesanan masing-masing dengan si pelayan yang sibuk mencatat pesanan mereka. Setelahnya si pelayan pergi dengan membawa kembali buku menu.
Selagi menunggu pesanan mereka datang, Millen mengedarkan pandangan menatap ke sekeliling. Restoran benar-benar ramai dan didominasi oleh para karyawan kantor. Beberapa mahasiswa juga terlihat di sana. Ditambah lagi dengan adanya wifi gratis yang pasti membuat mahasiswa betah berlama-lama di sana.
“Nu, cewek tuh. Cantik. Deketin sana” ujar Jenny sambil melirik ke arah wanita kantoran yang duduk sendiri sambil mengutak-ngatik ponsel
Danu mengikuti arah pandang Jenny kemudian tersenyum tipis, “nggak lah. Bukan tipe gue”
“emang tipe lo kayak gimana sih?”
“baik, sholehah, berhijab, cantik”
Selesai mendengar jawaban Danu, Jenny langsung melirik ke arah Millen. Ia merasa kalau ciri-ciri yang baru saja diucapkan Danu sangat mengarah pada Millen.
Terlebih lagi saat pria itu menjawab matanya sesekali mencuri pandang ke arah Millen. Dan nyatanya bukan hanya Jenny yang berpikir seperti itu, Millen pun demikian.
Beberapa menit berselang pelayan yang berbeda datang mengantarkan pesanan mereka. Pelayan pria tersebut menata piring demi piring berisi makanan di atas meja sebelum akhirnya pergi.
Mereka bertiga pun langsung menyantap makanan masing-masing dalam diam. Hanya terdengar sesekali suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring. Lagipula bukankah saat makan lebih baik tidak berbicara?
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Love [Completed]
General FictionSemua terasa membingungkan bagi Milen. Aby yang setahun lalu meminta putus secara tiba-tiba datang bersama keluarganya untuk melamar Millen. Belum cukup sampai disitu, Millen pun merasa ada yang aneh saat melihat kedekatan antara Aby dan Aksen--anak...
![Everlasting Love [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/132831758-64-k389838.jpg)