Keesokan harinya, Millen sudah cantik dengan celana kain hitam yang dipadukan dengan tunik selutut berwarna putih dan kerudung berwarna peach bermotif abstrak. Dengan menenteng tas hitam miliknya ia berjalan keluar kamar menuju ruang makan.
Di meja makan terlihat Anisa yang sedang menyiapkan sarapan. Sementara Mbak Tini terlihat sedang menyiapkan segalanya untuk memulai memasak. Millen meletakkan tasnya di kursi kemudian pergi mengambil cangkir untuk membuat teh,
"oh iya mah—minggu depan Bella sama Acen mau ke Jakarta. Kayaknya mereka bakalan nginep di sini"
Anisa yang sedang menata makanan di meja menoleh sekilas, "bagus dong. Mama tuh kangen banget sama Acen"
Sambil mengaduk teh buatannya Millen berjalan ke meja makan, "iya mah. Lagian kan nggak mungkin juga mereka nginep di rumah tante Tiwi—rumah mereka kecil dan anaknya juga banyak. Bella sih bilang mau nginep di hotel tapi langsung aku larang jadi mending nginep di sini aja, jadi rame kan karena ada Acen"
"yaudah nanti kamu kasih tahu mama aja kapan mereka mau datengnya. Biar nanti mama masak banyak" Anisa sudah duduk di kursi meja makan dan siap sarapan
Millen yang sedang menyeruput tehnya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan sang mama. Setelahnya ia meletakkan cangkir teh di meja dan mulai menyantap sarapan karena sebentar lagi ia harus segera berangkat ke kampus.
Satu jam berselang Millen sudah sampai di kampus tempatnya mengajar. Ia berjalan di lorong panjang kampus menuju ruang dosen sambil sesekali mengumbar senyuman pada mahasiswa yang tak sengaja berpapasan dengannya.
Begitu di ruang dosen, Millen menuju mejanya yang berada bersebelahan dengan meja Jeny. Ia meletakkan tas di atas meja sambil mendaratkan bokongnya pada kursi beroda. Matanya menatap pada tiga tumpukan skripsi dan selembar jadwal sidang skripsi di atas meja.
"udah dateng lo? ada jam hari ini?" Jeny yang baru saja datang langsung duduk di kursinya dan bertanya pada Millen
Mendengar suara Jeny membuat Millen menoleh, "nggak ada jam sih. Cuma nyidang skripsi aja" ia menunjukkan jadwal sidang skripsi yang ada di tangannya
"nyidang sama siapa?"
"Danu"
"cie jodoh emang nggak kemana" ledek Jeny sambil tersenyum
Millen tertawa sambil merogoh tas mengambil ponsel, "apaan sih. Gosip" ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi
Setelah lima menit memainkan ponsel, Millen bangkit berdiri lalu menggantungkan tali tas pada bahu sebelah kanan, membawa tiga tumpukan skripsi dan berjalan keluar ruangan dosen—siap untuk menguji sidang skripsi hari ini. Sementara Jeny sendiri sudah masuk ke kelas mengajar mahasiswanya.
Sidang skripsi hari ini berada di lantai sembilan. Lift yang tadi ditunggu Millen datang bersamaan pintu besi tersebut yang terbuka lebar. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Lalu menekan tombol penutup pintu, ajaib sekali disaat hari sepagi ini ia menaiki lift seorang diri. Padahal biasanya lift akan ramai disaat pagi seperti ini.
Ting. Lift berhenti di lantai sembilan, gadis cantik itu melangkahkan kakinya keluar lift lalu berbelok kanan menuju ruangan yang menjadi ruangan sidang skripsi. Sambil mengucapkan salam, ia membuka handle pintu.
Senyuman terukir diwajahnya saat melihat beberapa mahasiswa yang ada di dalam ruangan. Salah satunya sudah siap dengan rok hitam, kemeja putih beserta dengan almamater.
Sedangkan dua lainnya hanya berpakaian biasa. Sudah bisa ditebak kalau dua mahasiswa tersebut hanya menemani temannya yang akan sidang skripsi.
Millen duduk di kursi lipat dan meletakkan tas pada kursi kosong di sampingnya, "pak Danu belum dateng?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Love [Completed]
Ficción GeneralSemua terasa membingungkan bagi Milen. Aby yang setahun lalu meminta putus secara tiba-tiba datang bersama keluarganya untuk melamar Millen. Belum cukup sampai disitu, Millen pun merasa ada yang aneh saat melihat kedekatan antara Aby dan Aksen--anak...
![Everlasting Love [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/132831758-64-k389838.jpg)