Belom diedit ya~
***
Seorang wanita cantik dengan blue jeans yang ditimpali dengan kemeja berwarna navy berjalan menyeret koper besar dengan seorang anak kecil laki-laki yang berjalan disisinya. Tas bergambar kartun toy story terlihat dipunggung mungil bocah laki-laki tersebut.
Suasana bandara yang ramai membuat Bella terus memegangi tangan Aksen, takut kalau putra kecilnya akan hilang di tempat umum seperti itu. Bella celingak-celinguk mencari sosok sahabatnya yang katanya akan menjemput mereka di bandara tetapi sejak tadi ia tak menemukan Millen—sahabatnya,
"bun, aku lapar" rengek Aksen mendongakkan kepala menatap bundanya
Bella sedikit menundukkan kepala menatap Aksen, "yaudah kalo gitu kita cari restoran deket sini ya. Biar nanti sekalian tunggu onty Millen-nya di sana aja"
Aksen mengangguk sambil tersenyum senang. Setelahnya mereka langsung menuju restoran yang tepat berada di sebrang bandara. Selagi Aksen melahap makanan dipiringnya, Bella tersenyum sambil terus memandangi wajah tampan putra kesayangannya. Ia memang memilih tidak makan karena tak lapar.
Sesekali tangannya bergerak mengelus rambut bocah lucu itu. Dalam hati ia bersyukur karena memiliki anak seperti Aksen yang penurut, baik, cerdas dan tampan. Tetapi terkadang ia juga merasa miris dan kasihan pada Aksen.
Sejak kecil anak itu tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Bahkan mengetahui atau mengenal ayahnya saja tidak. Bella memang masih merahasiakan siapa sosok ayah kandung Aksen. Entah sampai kapan ia akan merahasiakan ini terus menerus dari semua orang dan juga Aksen.
Sering kali Aksen bertanya kenapa ia tak memiliki ayah sedangkan semua temannya memiliki ayah. Disaat seperti itu Bella sendiri bingung harus menjawab apa, ia hanya bisa mengatakan kalau sesungguhnya Aksen pun memiliki ayah.
Hanya saja saat ini ayahnya sedang bekerja jauh di kota lain dan suatu saat ayahnya akan datang untuk bertemu dengan Aksen. Beruntung tiap kali Bella menjawab seperti itu, Aksen tak lagi bertanya hal-hal lain. Baginya jawaban seperti itu sudah cukup membuatnya puas.
Deringan ponsel membuyarkan lamunan Bella, ia mengambil ponselnya kemudian menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinga. Selagi bundanya menerima telepon, Aksen tetap sibuk melahap makanannya sambil sesekali melirik ke arah bundanya,
"onty Millen ya bun?" tanyanya begitu Bella selesai menelpon
Bella meletakkan ponsel di meja kemudian tangannya menangkup sebelah pipi Aksen dengan gerakan ibu jarinya yang mengelus pipi gembul itu, "iya. Katanya onty Millen nggak bisa jemput karena ada rapat mendadak"
Kedua alis Aksen menyatu mendengar ucapan bundanya, "terus kita gimana?"
Senyuman terukir diwajah cantik Bella melihat wajah menggemaskan Aksen, "kita naik taksi sayang. Yaudah makannya cepet dihabisin supaya kita cepet ke rumah onty Millen"
Lagi-lagi Aksen mengangguk patuh sambil tersenyum. Ia kembali memasukkan sesedok nasi ke dalam mulut membuat Bella mau tak mau tersenyum melihatnya. Bella memajukan wajahnya mencium dahi Aksen sayang. Sungguh ia benar-benar menyayangi putra semata wayangnya.
Beberapa menit berselang, Bella dan Aksen sudah keluar restoran. Mereka berdiri di pinggir jalan menunggu taksi yang lewat. Begitu melihat mobil berwarna biru dari kejauhan, Bella pun langsung menyetop taksi tersebut.
Mereka sudah duduk di kursi penumpang belakang sementara sang sopir masih memasukkan koper mereka di bagasi belakang. Setelahnya barulah sopir duduk di kursi kemudi dan menjalankan mobil sesuai dengan tujuan yang tadi disebutkan Bella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Love [Completed]
Fiksi UmumSemua terasa membingungkan bagi Milen. Aby yang setahun lalu meminta putus secara tiba-tiba datang bersama keluarganya untuk melamar Millen. Belum cukup sampai disitu, Millen pun merasa ada yang aneh saat melihat kedekatan antara Aby dan Aksen--anak...
![Everlasting Love [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/132831758-64-k389838.jpg)