Everlasting Love | 6

21K 1.7K 66
                                        

Selesai mengajar di salah satu kelas, Millen langsung keluar kelas dengan langkah terburu-buru. Ditangannya sudah ia genggam kunci mobil sambil dirinya yang melangkah menuju parkiran kampus,

"mau kemana Mil? Buru-buru banget kayaknya" tanya Danu yang tak sengaja berpapasan dengannya

"jemput Aksen di sekolahnya. Gue duluan ya"

"oh yaudah, hati-hati Mil"

Setelah menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Danu, Millen kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran.

Begitu sudah duduk di kursi balik kemudi, Millen meletakkan tas di kursi penumpang sebelahnya yang kosong, memasang seatbelt sebelum akhirnya ia melajukan mobil keluar kampus.

Biasanya dijam segini ia sudah berada di sekolah Aksen--menunggunya keluar kelas tetapi sekarang ia masih dalam perjalanan. Ya, Millen terlalu lama di kelasnya tadi sehingga ia sampai terlambat menjemput Aksen seperti ini.

Millen bersyukur karena jalanan yang lengang sehingga bisa membuatnya sampai di sekolah Aksen lebih cepat dari biasanya. Begitu selesai memarkirkan mobil, ia langsung keluar mobil dan melangkah dengan terburu-buru mencari Aksen.

Ruang kelas Aksen yang sudah kosong membuat Millen panik harus mencari Aksen dimana. Sedangkan ia juga tak melihat Aksen di luar ruangan kelas tadi.
Gadis dengan hijab berwarna maroon itu membalikkan badannya hendak menuju ruang guru menanyakan keberadaan Aksen.

Namun langkahnya terhenti saat matanya tanpa sengaja melihat sosok anak laki-laki tampan yang sedang duduk melamun di tengah teriknya matahari di taman kecil sekolah.

Millen menghembuskan nafas lega karena akhirnya menemukan Aksen. Ia pun berjalan menghampiri Aksen yang masih belum menyadari keberadaannya,

"Acen"

Mendengar suara Millen, Aksen pun menolehkan kepalanya sekilas kemudian kembali menundukkan wajahnya. Millen mengerutkan dahi bingung saat melihat wajah Aksen yang murung.

Ada apa sebenarnya? Padahal saat berangkat sekolah tadi Aksen terlihat sangat bersemangat dan ceria seperti biasanya.

Millen sudah duduk di samping Aksen yang masih terus menundukkan wajahnya, "jagoan onty kenapa? Kok sedih?"

Aksen mulai mengangkat wajahnya menatap lurus Millen yang sudah memegang sebelah pipinya, "aku sedih onty"

"sedih kenapa sayang? Cerita sama onty"

"aku mau punya mama. Semua teman ku punya mama, mereka juga punya papa" jelas Aksen

Terenyuh. Hal itulah yang dirasakan Millen saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Aksen. Millen berpikir kalau hal tersebut wajar-wajar saja dirasakan Aksen.

Karena bagaimana pun juga ia ingin seperti temannya yang lain. Yang setiap harinya diantar sekolah oleh mama dan papanya.

Aksen juga ingin seperti temannya yang lain, yang sering berbagi cerita kalau mama atau papanya mengajak mereka jalan-jalan atau pun membelikannya mainan baru.

Ia juga ingin seperti itu tetapi mau bagaimana lagi kalau nyatanya Aksen tak bisa berbagi cerita seperti temannya yang lain. Ia tak memiliki cerita apapun tentang mama atau pun papanya. Karena nyatanya Aksen tak memiliki keduanya.

Aksen hanya-lah seorang bocah laki-laki yang ditinggal pergi selama-lamanya oleh sang bunda dan saat ini tinggal dengan sahabat dekat bundanya.

Ia tak memiliki cerita tentang mama atau papanya yang mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat. Ia juga tak memiliki cerita tentang mama atau papanya yang membelikan mainan baru.

Everlasting Love [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang