Everlasting Love | 17

25.6K 2K 147
                                        

Millen mengambil koper miliknya, membuka lemari pakaian kemudian mengambil semua pakaian miliknya dan memasukkannya ke dalam koper. Ia tak peduli dengan susunannya yang berantakan, ia terus memasukkan barang-barang lain miliknya ke dalam koper.

Sementara Aby terus berucap berusaha mencegah kepergiannya. Millen sudah tidak peduli lagi dengan Aby. Ia hanya terus mengemasi barang-barangnya dengan wajah yang basah sehabis menangis.

"Mil, aku mohon jangan pergi" Aby mohon

Kedua tangan Millen bergerak menutup koper kemudian menurunkan koper siap untuk pergi, "aku benci sama kamu Mas!" ia mengatakan itu sambil menatap tajam suaminya.

Setelah itu ia langsung berjalan keluar kamar menyeret koper dan tak sedikit pun mempedulikan Aby yang mengejarnya sambil terus memohon. Tetapi bagaimana pun Aby memohon, Millen tetap pada keputusannya pergi dari rumah Aby.

"mamah" terdengar suara tangisan Aksen yang mengejar dirinya sampai ke teras depan

Langkah Millen sempat terhenti di dekat gerbang rumah. Ia menoleh menatap ke arah Aksen yang menangis sambil terus menatap ke arahnya. Ada perasaan tak tega karena harus pergi meninggalkan bocah tampan itu.

Namun saat Millen kembali menoleh ke arah Aby rasa benci kembali menguasai dirinya hingga membuat wanita itu melanjutkan niatan awal sebelum akhirnya masuk ke dalam taksi.

"Millen!"

Aby membuka mata saat mimpi buruk itu menganggu tidurnya malam ini. Jantungnya berdetak liar. Nafasnya ngos-ngosan seperti baru saja selesai mengelilingi lapangan bola. Bulir-bulir keringat terlihat membasahi dahi hingga pelipisnya.

Millen yang tidur dalam pelukan suaminya membuka mata karena Aby meneriaki namanya barusan. Ia menghidupkan lampu tidur di nakas sisi ranjang kemudian menatap suaminya yang masih berusaha mengatur nafas.

"Mas, kamu kenapa? kamu mimpi buruk?" Tangan Millen bergerak menghapus bulir keringat diwajah suaminya

Mengubah posisi menjadi duduk, Aby menganggukkan kepala mengiyakan ucapan istrinya. Kemudian Millen beranjak dari ranjang, ia mengambil gelas yang kosong lalu membawanya ke dapur untuk kembali diisi air.

Lima menit kemudian Millen kembali dengan gelas yang sudah terisi air. Ia duduk di tepi ranjang sebelah suaminya, menyodorkan gelas tersebut pada Aby dengan sesekali tangannya yang bergerak menghapus keringat di pelipis suaminya.

"kamu mimpi apa sih sampe kayak gini?"

Suami tampannya itu meletakkan gelas di nakas sisi ranjang kemudian menatap istrinya, "aku mimpi-kamu pergi ninggalin aku"

Senyuman lembut sekaligus menenangkan terlukis diwajah cantik istrinya. Millen mengambil tangan Aby mengenggamnya erat, "aku nggak mungkin ninggalin kamu Mas"

"bener kamu nggak akan ninggalin aku?"

Millen mengangguk masih dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Sekarang boleh saja Millen mengatakan demikian. Namun apa jawabannya akan tetap sama jika ia sudah mengetahui semuanya. Entahlah, Aby sendiri tak yakin dengan hal itu.

Aby menjatuhkan dahinya pada bahu Millen dengan sebelumnya mencium pelipis istrinya. Ia memejamkan mata berusaha menghilangkan mimpi buruk yang masih begitu membekas di benaknya, "aku takut Mil"

"itu cuma mimpi. Nggak usah dipikirin. Mendingan tidur lagi, ini masih malem"

Mereka kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Aby sedikit menggeser tubuhnya mendekat ke arah Millen kemudian merengkuh tubuh Millen dalam dekapannya. Millen pun hanya tersenyum dan tangannya andil memeluk suaminya erat.

Everlasting Love [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang