Jakarta.
Kota metropolitan yang tak akan pernah sepi setiap waktunya. Baik itu pagi, siang, sore atau pun malam. Jalanan Jakarta tak akan pernah sepi, selalu saja ramai yang akhirnya berujung pada kemacetan yang membuat kendaraan mengular panjang.
Seperti saat ini disaat waktu menunjukkan pukul tujuh malam, keluarga kecil Farhaby masih terjebak macet di jalanan ibukota. Mereka berencana ke supermarket membeli bahan makanan yang sudah menipis.
Millen yang malam itu mengenakan celana cullotes abu-abu dan blouse berwarna putih yang ditimpali dengan kerudung segiempat berwarna senada menolehkan kepalanya ke belakang melihat Aksen yang sedang sibuk dengan mainan mobil-mobilan mininya. Seulas senyuman terukir diwajah cantik Millen.
Ia bersyukur karena Aksen berbeda dengan anak lainnya, disaat anak-anak lain lebih menyukai bermain gadget dibandingkan mainan lain pada umumnya. Aksen justru berkebalikan, ia lebih menyukai bermain mobil-mobilan, robot-robotan, bola, lego dan lain sebagainya.
Selain karena Millen atau pun Aby yang tidak membiasakan Aksen bermain gadget, Aksen sendiri memang tidak tertarik dengan games yang ada di gadget hanya sesekali memainkan saja. Nggak seru katanya.
Jadi memang seperti inilah, setiap Aksen pergi kemana pun ia selalu membawa tas ransel kecil berwarna kuning bergambar minions. Tas tersebut bukan berisi bekal makanan atau apapun tetapi berisi mainan wajib yang selalu dibawa Aksen kemana pun.
“Mas”
Aby yang sedang menyetir menoleh sekilas, “iya sayang?”
Terlebih dulu Millen membenarkan posisi duduknya menjadi menghadap suaminya, “aku kepikiran omongan ayah waktu di Bandung deh”
“omongan apa?” Aby menginjak pedal remnya karena macet kemudian menoleh menunggu jawaban istrinya
“ayah bilang ke aku katanya ayah digugat cerai tante Ina—istri kedua ayah”
“hah? yang bener kamu?” ia kembali melajukan mobilnya sedikit
Millen mengangguk, “ayah sendiri yang bilang ke aku Mas. Kalo misalkan ayah cerai sama tante Ina terus sekarang ayah tinggal dimana ya Mas. Aku jadi khawatir sama ayah”
“coba kamu telepon aja biar sekalian kita ketemu ayah”
Menyetujui ucapan suaminya, Millen mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia mencari kontak ayahnya kemudian menghubungi nomor tersebut menempelkan ponsel ke telinga.
Terdengar nada sambung pertama, kedua, ketiga sampai akhirnya terdengar suara serak sang ayah dari sebrang sana. Sambil berbicara dengan ayahnya melalui telepon sesekali Millen melirik ke arah suaminya yang sibuk menyetir sedikit demi sedikit sebelum akhirnya terbebas dari kemacetan.
Bersamaan dengan itu, Millen mengakhiri teleponnya kemudian memasukkan ponsel ke dalam tas.
“ayah udah pindah ke rumah ayah Mas. Nggak bareng tante Ina lagi”
Aby menoleh sekilas, “mau ke sana?”
Istri cantiknya menganggukkan kepala, “aku khawatir sama ayah. Dari suaranya ayah kedengaran lagi nggak enak badan”
Senyuman terukir diwajah tampan suaminya seraya tangannya yang mengambil tangan Millen kemudian membawanya untuk dikecup punggung tangannya, “ayah pasti baik-baik aja” ibu jarinya bergerak mengelus punggung tangan Millen
Karena mereka sudah setengah perjalanan dan jika ke rumah Rudi terlebih dulu harus memutar arah ditambah lagi harus kembali berjibaku dengan kemacetan maka mereka memutuskan untuk ke supermarket terlebih dulu dan baru akan ke rumah Rudi setelah dari supermarket nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Love [Completed]
Fiksi UmumSemua terasa membingungkan bagi Milen. Aby yang setahun lalu meminta putus secara tiba-tiba datang bersama keluarganya untuk melamar Millen. Belum cukup sampai disitu, Millen pun merasa ada yang aneh saat melihat kedekatan antara Aby dan Aksen--anak...
![Everlasting Love [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/132831758-64-k389838.jpg)