Seorang wanita berjalan sambil menggandeng tangan mungil bocah laki-laki dengan seorang pria yang berjalan di samping si wanita. Mereka sedang berada di salah satu mall yang ada di Jakarta.
Bukan. Mereka bukan Millen dan Aby tetapi Sandra dan Adit yang sengaja mengajak Aksen pergi ke mall. Sandra tak tega melihat bocah tampan itu yang terus menerus bersedih karena permasalahan orang tuanya. Millen belum kembali dan sampai sekarang kondisi Aby masih belum membaik.
Untuk itulah disaat Sandra memiliki waktu luang ia berinisiatif mengajak Aksen ke mall untuk jalan-jalan. Ia berharap dengan mengajak anak itu jalan-jalan dapat melupakan kesedihannya yang sudah ia rasakan selama berminggu-minggu ini.
Awalnya pun Aksen menolak untuk ikut dengan alasan ingin menemani ayahnya. Ya, selama Aby sakit sedikit pun Aksen tak bergeser dari sisi ayahnya.
Ia selalu menemani Aby dan selalu berdoa agar ayahnya bisa cepat sembuh dan mamahnya bisa cepat pulang. Aksen ingin kedua orang tuanya kembali lagi seperti sebelumnya.
Dan tadi setelah ia dibujuk oleh Sandra dan juga Adit barulah ia setuju ikut dengan mereka. Tetapi dengan catatan, Aksen tidak ingin berlama-lama pergi ke mall. Lagi-lagi karena ia tak ingin meninggalkan ayahnya terlalu lama.
Mereka bertiga sudah berada di wahana permainan yang terlihat tidak terlalu ramai. Sementara Adit sedang mengisi kartu yang nantinya akan mereka gunakan untuk bermain, Aksen mengedarkan pandangannya mencari permainan mana yang akan ia mainkan terlebih dulu.
“nah tuh papi Aditnya udah selesai. Sekarang Acen mau main apa?”
Bersamaan dengan itu Adit menghampiri mereka. Ia menggandeng tangan mungil Aksen. Bocah tampan itu masih mengedarkan pandangan mencari permainan yang akan ia mainkan, “itu mami. Aku mau main basket”
Setelahnya mereka langsung mengajak Aksen ke permainan bola basket yang untungnya sedang tidak dimainkan siapapun. “Acen main sama papi ya, mami yang semangatin Acen”
Saat permainan dimulai Aksen dengan gesit langsung melempar bola ke dalam ring walaupun ia harus berjinjit karena posisi ring basket yang cukup tinggi. Sesekali Adit dan Sandra tertawa melihat Aksen yang sedikit kesulitan melempar bola.
“ayo dong Cen, masa kalah sama papi” ucap Adit
“bola aku nggak mau masuk. Susah”
Sandra tertawa sebelum akhirnya berdiri di belakang Aksen dan ikut membantu anak itu melempar bola ke dalam ring, “ayo mami. Kita harus kalahin papi”
Bahu Aksen merosot lesu saat permainan berakhir dan ia kalah dari Adit. Bocah tampan itu langsung mencemberutkan wajahnya sebal tetapi hal justru membuat Sandra dan Adit tertawa melihatnya. Tak ingin membuat Aksen bersedih mereka pun langsung mengajak Aksen untuk memainkan permainan lain.
Setelah hampir satu jam berada di wahana bermain dan memainkan berbagai macam permainan di sana, akhirnya Sandra mengajak Aksen untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan sejak tadi.
Dan sekarang di sinilah mereka berada, di salah satu restoran yang sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang mengisi kursi. Mungkin karena ini masih waktu bekerja sehingga membuat restoran menjadi sepi.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Aksen meletakkan dagunya di atas meja dengan kedua tangan yang dilipat menjadi bantalannya. Ia menatap keluar jendela restoran dimana terlihat banyak orang yang berlalu lalang di dalam mall.
“abis ini Acen mau kemana lagi?” tanya Sandra yang duduk di sampingnya
Aksen menoleh, “aku mau pulang”
“kok pulang? Acen nggak mau main lagi? Atau kita beli mainan dulu ya?”
Bocah tampan itu menggelengkan kepala, “aku mau sama ayah”
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Love [Completed]
General FictionSemua terasa membingungkan bagi Milen. Aby yang setahun lalu meminta putus secara tiba-tiba datang bersama keluarganya untuk melamar Millen. Belum cukup sampai disitu, Millen pun merasa ada yang aneh saat melihat kedekatan antara Aby dan Aksen--anak...
![Everlasting Love [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/132831758-64-k389838.jpg)