Everlasting Love | 14

19.4K 1.6K 50
                                        

“Nin, dibagian ini nanti kamu jelasin lagi pakai bahasa kamu sendiri terus di bagian—“ Millen membalik halaman selanjutnya,

“... di bagian paragraf ini kamu samain dengan paragraf yang di atasnya. Margin kamu masih banyak yang berantakan, coba kamu perbaiki lagi dan lihat buku pedoman”

Nina—mahasiswi bimbingan Millen menganggukkan kepala mengerti, “iya bu”

Setelahnya Millen memberikan skripsi Nina pada si pemilik. Nina mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya pergi meninggalkan meja dosen pembimbingnya.

Mahasiswa yang mempunyai dosen pembimbing seperti Millen bisa bersorak girang karena selain Millen salah satu dosen yang sangat baik dan benar-benar membimbing mahasiswa dalam menyusun skripsi.

Millen juga mudah ditemui di kampus dan salah satu dosen pembimbing yang sangat teliti. Satu buah koma saja salah tempat maka Millen akan mengetahuinya.

Meskipun begitu banyak mahasiswa yang ingin mempunyai dosen pembimbing seperti Millen. Tetapi Millen selalu membatasi jumlah mahasiswa bimbingannya. Ia tidak ingin terlalu banyak membimbing mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi.

Millen hanya takut kalau terlalu banyak menghandle mahasiswa bimbingan maka tugas yang lainnya akan terbengkalai. Ia juga takut nantinya ia tidak akan memberikan bimbingan skripsi yang maksimal pada mahasiswanya.

Jadi hanya mahasiswa-mahasiswa yang beruntung saja yang menjadi mahasiswa bimbingan Millen.

Sepeninggal Nina, Millen menyambar ponselnya yang tergeletak di meja. Terdapat satu chat masuk dari suami tampannya.

Mas Aby💞
Aku sama Aksen on the way jemput kamu

Millen membalas oke ditambah dengan emoji kiss pada chat suaminya kemudian meletakkan ponsel kembali saat ada mahasiswa yang menghampirinya dengan takut-takut. “Bu, masih bisa bimbingan nggak?”

Dahi Millen berkerut, ia merasa asing dengan mahasiswa di depannya. Walaupun Millen memiliki lima belas mahasiswa bimbingan tetapi ia hafal dengan wajah-wajah mahasiswa bimbingannya tetapi dengan mahasiswa yang kini ada di depannya, Millen merasa asing.

“kamu mahasiswa bimbingan saya?” Mahasiswa tersebut mengangguk.

“udah berapa kali bimbingan? Baru kali ini?”

Lagi-lagi mahasiswa tersebut menganggukkan kepalanya yang membuat Millen langsung menghela nafas.

Millen menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, “mana judul dan bab satu kamu?”

Mahasiswa berkaos hitam dengan rambutnya yang cepak itu pun membuka tas mengambil beberapa lembaran kertas yang sudah ia berikan paper clip. Kemudian memberikannya pada Millen.

Terlebih dulu Millen membaca judul skripsi yang ada di bagian cover depan kemudian melihat surat keputusan dosen pembimbing yang mana dirinya merupakan dosen pembimbing pertama untuk si mahasiswa tersebut.

“kamu tuh kemana aja sih? Temen kamu udah bab dua, bab tiga tapi kamu malah baru bab satu. Kamu kemana aja? Cuti?” Millen kembali menegakkan tubuhnya

Mahasiswa yang diketahui bernama Ahmad itu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, “saya keasikan kerja bu”

Ia mengambil pulpen kemudian mulai menuliskan sesuatu, “keasikan kerja sampe lupa sama skripsi kamu. Niat mau lulus tahun ini nggak?” tanyanya melirik mahasiswa tersebut

“mau lah Bu masa saya di kampus ini terus”

“ya kalo mau lulus makanya kerjain skripsi kamu. Gimana mau lulus kalo skripsi kamu masih mentah kayak gini. Bahkan judul kamu aja masih berantakan”

Everlasting Love [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang