Night Before

11 2 0
                                        

Selamat datang, Intrepid-79.

"Brandon," panggil Erry begitu memasuki ruangan Brandon. Pria itu tengah merenung sejak pulang dari kantor hari ini dan sama sekali belum keluar ruangan.

"Kau belum makan sejak kemarin. Makanlah." Erry meletakkan nampan berisi piring lengkap dan segelas air di meja kerja Brandon. Brandon tak menggubris, masih diam duduk bersandar sambil memejamkan mata dan mengatupkan ujung jarinya di depan muka.

"Apa yang kau lakukan?"

"Berdoa."

"Untuk apa?"

"Untuk kelancaran misi."

Erry menautkan alis. Well, terima kasih untuk itu. "Tapi kau perlu makan," ujarnya.

"Aku kehilangan selera."

Erry mendengus. Ia menarik kursi di seberang Brandon lalu duduk. Ia menopang dagunya. "Aku takkan bisa tidur."

Brandon membuka mata. "Yang penting kau siap mental. Masalah fisikmu, aku yakin kau selalu siap."

"Jangan lupa stok pendinginku."

"Sudah."

"Bagus."

Mereka diam.

"Berapa lama kira-kira perjalanan kami besok?" tanya Erry.

"Seharusnya hanya perlu tiga jam. Tapi kalau kalian perlu bersiap lagi, turunkan saja kecepatannya. Kalian akan tiba dalam sepuluh jam."

Erry mengangguk paham. "Luar biasa."

Ia beranjak dan pergi tanpa memberitahu Brandon akan ke mana ia. Malam ini ia sudah ada janji dengan Angen. Pemuda itu rupanya sudah menunggu di depan.

"Hei, sudah lama?" Erry menghampiri Angen lalu merangkul lengan kirinya.

"Tidak kok."

Mereka sebenarnya hanya akan pergi untuk mengobrol berdua. Tak banyak percakapan terjadi selama di jalan. Mereka berhenti di taman dekat pusat kota dan duduk di kursinya. Banyak orang yang juga berada di sana ternyata, termasuk anak-anak kecil.

"Aku akan merindukan semua ini," tutur Erry.

Angen menoleh. "Apa maksudmu?"

"Bagaimana kalau aku tidak kembali?"

"Hei," Angen menangkup pipi Erry dan mempertemukan manik mata mereka. Ia menggenggam kedua tangan Erry erat. "Kau pasti kembali. Kita pasti kembali bersama dokumen itu."

Erry diam. Ia belum bisa menghilangkan pikiran negatifnya. Bagaimana pun ia juga butuh pikiran positif. Itu sebabnya ia mengajak Angen pergi malam ini.

Angen merangkul bahu Erry yang kembali menghadap depan. Ia menghela napas berat. "Kita pasti bisa," ujarnya.

Angen tersenyum simpul.

"Tapi ... "

Angen menoleh.

"Kenapa harus Ivy?"

Angen terdiam.

"Bukannya aku apa, hanya saja ... bagaimana jika ia melakukan hal bodoh? Satu hal kecil bodoh saja dan aku yakin kita pasti habis di tangan mereka."

"Tidak. Aku yakin nanti ketika kita sudah di sana ia akan mengerti," balas Angen. Ia melepas rangkulannya.

"Kenapa rasanya aku takut sekali ... untuk kehilangan kalian? Jika aku harus ... maksudku, kehilangan kau dan Gwen."

"Kita takkan pergi ke mana-mana. Kau akan tetap ada di sini bersamaku dan Gwen."

"Bagaimana jika kita gagal?"

Angen membuang muka. "Kita lakukan dulu yang terbaik. Masalah gagal dan berhasilnya, itu urusan terakhir."

Erry menunduk. "Berjanjilah padaku." Ia menggenggam tangan Angen.

Angen menoleh, mengangkat wajah gadis itu. "Aku janji," ujarnya. Mata mereka bertemu, begitu pun bibir mereka sesaat kemudian.

Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, entah memang begitu atau karena Erry yang terlalu gugup. Kejutan hangat yang Angen berikan belum sepenuhnya mampu membuat Erry yakin bahwa mereka akan baik-baik saja esok. Semua itu terlalu tabu. Erry terlalu takut untuk kehilangan Angen dan Gwen. Jangan lagi setelah kedua orang tuanya.

 Jangan lagi setelah kedua orang tuanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

≈≈≈≈≈

INTREPID [FINISHED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang