Sejak pagi tadi Kaila datang mengendap-ngendap, seandainya ada tugas yang mengharuskan ia pergi keluar kantor ia akan dengan senang hati pergi hari ini.
Setelah kejadian kemarin malam Kaila merasa menjadi gadis paling bodoh segalaxy, mungkin hari kemarin bisa Kaila dedikasikan sebagai hari tersial baginya.
Bertemu mantan, kerjasama sepihak yang merugikan dengan boss,
dan parahnya ternyata bukan otak Kaila saja yang gesrek. Otak Orion pun tak jauh konslet dari dirinya.
"Gue aja deh, Nggi." Kaila memohon dengan wajah memelas, baru pukul delapan Anggi sudah tiba di kantor. "Gue yang temenin lo cek alokasi pembangunan di Sunter."
"Lo kenapa sih?" tanya Anggi risih, karena tak biasanya Kaila ingin mobile keluar mengecek kondisi lapangan. "Biasanya lo kan anak paling mager se Pluto raya."
"Gue lagi males di kantor." males ketemu Orion lebih tepatnya, Kaila tidak mungkin melupakan kejadian yang sudah membuat harga dirinya jatuh sampai dasar bumi, "Boleh ya, Nggi?"
"Emang kerjaan lo udah selesai? udah recheck RAB yang masuk?" Anggi menyipitkan matanya, "Setahu gue kemaren lo dilarang keluar kantor deh karena kerjaan lo lagi numpuk."
Pikiran Kaila langsung melayang pada kejadian beberapa hari lalu saat dirinya ingin menemani Siera stock opname ke Bogor, Orion melarang keras dirinya pergi karena pekerjaan Kaila yang memang sudah menggunung.
"Udah kok, gue udah selesain tugas gue yang masih on hold."
Semoga bohong gue nggak dosa kali ini.
"Okay, tapi lo harus udah ready lima menit lagi." Anggi akhirnya menyerah pada rayuan Kaila.
"Sekarang aja gue udah ready, berangkat sekarang aja, Nggi." Kaila mengambil tasnya, mematikan kembali laptop yang tadi sudah menyala. "Gue nggak usah bawa laptop deh, berat."
"Ye elaah, entar kalau si Boss ada perlu dengan data yang lagi lu proses gimana? Jangan buat civil war mendadak deh," keluh Anggi. Karena ia sudah tahu percis bagaimana kebiasaan bossnya yang bisa kapan saja dan dimana saja meminta penjelasan soal pekerjaan.
"Iya-iya," Kaila menekuk wajahnya, untuk hari ini ia bisa selamat dari rasa malu yang melingkupi. Soal Siera perempuan itu akan tutup mulut tidak akan membongkar kebodohan Kaila di depan publik.
*****
"Yang seharusnya controll pembayaran ke TIC siapa memang, Kai?" Anggi masih fokus mengemudi, jalanan ke arah Jakarta Utara tak semacet Jakarta Selatan ataupun Pusat.
"Yah harusnya sih Venus," ucap Kaila. Setahunya setiap ada invoice dari jasa luar negeri atas IT Service Venus lah yang membukukannya.
"Setiap Invoice yang mau kita bayar udah kena potong PPH 26?"
"Harusnya udah, tapi nggak tahu berapa persen. Karena kan kadang ada yang lampirin DGT-1 ada yang enggak, yang harusnya tahu soal itu yah Venus. Makanya pas gue ditanya soal lapor PPN JLN gue nggak tahu, yang rekap PPh 26 nya kan Venus." Kaila langsung teringat sesuatu, ia merogoh Tasnya, ada clear holder di dalam tasnya yang berisikan Invoice TIC. "Mateng gue! Invoice TIC ada di gue. Mana yang asli, gimana nggi?"
Kaila lupa jika kemarin ia diperintahkan Orion mengecheck kelengkapan Invoice tersebut karena akan dilakukan pelunasan.
"Handphone lo mati ya?" Anggi justre balik bertanya bukannya menjawab.
"Kenapa jadi bahas handphone gue, kan gue nanyain Invoice?" Kaila menekuk wajahnya.
"Di Grup Whatss app rame nanyain lo. karena si Boss nyariin lo. Katanya nomor lo nggak aktif."
KAMU SEDANG MEMBACA
TIRAMISU
Chick-LitUmur kamu berapa? Sudah punya pacar? Kapan nikah? Temen kamu udah punya anak lho, nggak ada niat nyusul? Kerja terus kapan ke pelaminannya? Kaila merasa pertanyaan seperti itu lebih mengerikan dibanding nonton film horror sekalipun, semua orang terl...
