XIX

179K 23.9K 1.7K
                                        

Kaila menyilangkan kedua tangannya di depan dada setelah mendengar ucapan Orion, ini bukan jam kerja dan apa yang Orion minta adalah urusan di luar kantor. Jadi Kaila bisa menolaknya bukan? Tidak akan ada sanksi atas penolakannya.

"Tapi saya nggak mau, saya lagi sibuk." Kaila menantang Orion, memangnya Orion saja yang bisa menolak. Kaila kali ini juga bisa menolak keinginannya. "Bapak bisa ajak teman Bapak yang mau aja."

"Ya udah, nggak apa-apa," ucap Orion santai dengan penolakan Kaila. "Saya mau teh anget."

"Pak?" Kaila menaikan sebelah alisnya penuh tanya, memang rumahnya warteg bahari bisa pesan teh hangat sesuka hati.

"Kenapa? Saya ini tamu lho di rumah kamu. Masa cuman minta teh anget aja nggak boleh?" Orion masih duduk santai tanpa peduli Kaila yang terkejut dengan kelakuannya.

"Nggak bisa buat teh anget?" Orion menggelengkan kepalanya, seolah Kaila perempuan yang tak bisa apa-apa. "Ya udah air mineral aja kalau kamu lupa caranya buat teh."

"Pak." ulang Kaila, ayolah kenapa pula ia sulit berkata-kata. Bukankah Orion tadi hanya ingin mengajaknya pergi menonton, lalu ketika Kaila menolaknya seharusnya Orion pergi bukannya masih duduk santai tanpa rasa bersalah. Untung Kaila masih tahu sopan santun dan sisa rasa hormat pada atasannya.

Kaila akhirnya pasrah membawakan apa yang Orion mau, berharap setelahnya Orion akan pulang dan membiarkan Kaila menikmati sisa hari sabtunya.

"Saya lapar," ucap Orion setelah menyesap teh hangat yang Kaila buat.

"Ya Allah, bapak tuh sebenernya mau ngapain ke rumah saya?" Kaila melirik pada Orion yang malah kembali meminum teh yang Kaila buatkan tadi.

"Mau ajak kamu nonton, cuman kamunya kan nggak mau. Dari pada kamu nggak ada temennya mending saya temenin 'kan?"

"Ada adik saya Pak di dalem yang nemenin, kenapa bapak harus repot-repot nemenin saya." Kaila rasanya ingin mengusir Orion sekarang juga.

"Teh nya nggak manis," ucap Orion tanpa rasa bersalah

"Lah kan nggak saya kasih gula, gimana mau manis?"

"Bisa manis kok," ucap Orion yakin, Kaila semakin dibuat pusing kepala olehnya. "Kalau kamu senyum."

Kaila menarik napas pelan.

Mohon bersabar, ini ujian.

"Bapak mau pulang jam berapa dari rumah saya?" sebut saja Kaila bawahan tak tahu diri, tapi keberadaan Orion yang tak jelas juga membuat dia tak nyaman.

"Memangnya saya nggak boleh bertamu lama di rumah kamu, kan kita bisa menghabiskan waktu dengan mengobrol." tawar Orion, ia berharap Kaila sedikit melunak, sejak ke datangannya tadi Kaila hanya memasang wajah tak bersahabat. "Jarang-jarang lho saya pergi bertamu."

Lagi-lagi Kaila menghela napas pasrah, "Bapak lagi kesepian yah? Temen-temen bapak pasti sibuk 'kan?"

"Anggap aja seperti yang kamu bilang."

Akhirnya Kaila berdamai dengan hatinya, menemani Orion dengan ketidakjelasannya.

"Pak, kan anak buah bapak di kantor bukan cuma saya. Tapi kenapa bapak selalu mengganggu saya, nggak ada niat ganggu yang lain aja?"

"Jadi kamu merasa terganggu dengan kedatangan saya?"

"Nggak sih, cuman ya aneh aja."

"Saya juga pernah ke rumah Venus dulu," ucap Orion, tolong garis bawahi dulu. "Jadi, kamu nggak usah merasa menjadi yang spesial karena saya datang ke rumah kamu."

TIRAMISUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang