Kembali bercahaya.
Semuanya tertegun melihatku dengan ekspresi keingintahuan, ketakutan, yang tengah menguasai diri mereka. Tak terkecuali empat sahabat baruku ini, dan juga Rixton yang membelalakkan matanya.
Bahkan pikiranku tengah dikelabui dengan suatu pandangan bayangan yang semakin lama menjadi banyak. Bukan hanya dikelabui, bayangan itu juga mengendalikanku! Hingga aku tidak dapat merasakan perasaan orang-orang sekitarku saat ini.
Biar kutebak, bahkan bola mata violetku semakin berpendar kilat. Debu tulisan yang ada pada lenganku naik ke atas, membentuk partikel kecil yang masuk ke dalam mataku. Entah mengapa, aku merasa nyaman dengan hal ini. Pengaruh 'terkendalikan' sehingga mataku berubah menjadi hitam dengan beberapa asap yang mengepul sekitarannya.
Tanah bergetar, dan sambaran petir biru menghancurkan bangunan yang ada di sebelah sekolah. Bangunan tersebut terbakar, petir yang lain saling sahut-menyahut. Semua orang berlarian, kecuali Andina, Andika, Hexa, Rixton, dan satu orang cowok yang bernama Cannon, berusaha menarik lenganku tanpa mempedulikan perubahan yang terjadi pada tubuhku ini.
"Serr! Come on! BADAI!" teriak Hexa histeris. Ragaku masih setia mematung.
"Astaga, kenapa dia berubah kayak gini? Cepetan gendong dia!" perintah Andika. Rixton hendak mengangkatku, namun dengan spontan kedua tanganku terangkat, mendorong mereka semua.
WUSH! Gelombang angin menderu kencang dari kedua telapak tanganku sehingga mereka semua terlempar. Posisi Rixton menabrak dinding dekat papan tulis, sehingga punggung nya bisa saja sedang kritis sekarang ini. Andina dan Andika bertubrukan dengan meja guru yang terbuat dari kaca, sehingga pecah dan kepingannya mampu menggoreskan kulit wajah halus mereka. Hexa beserta Cannon, terlempar melalui jendela sehingga pecah.
Aku menatap mereka dengan datar. Entah sejak kapan diriku berubah antagonis seperti ini.
Kulangkahkan dengan santai kakiku menuju pintu keluar. Api yang berasal dari bangunan sebelah semakin berkobar, mewakili perasaan dan pikiranku saat ini. Tidak ada manusia yang tersisa lagi disini, mungkin mereka sudah dievakuasi oleh para guru.
Langit berubah menjadi pekat, tidak sengaja aku bertubrukan dengan kaca yang menempel di dinding dekat lift. Kulihat diriku, yang dikelilingi oleh kepulan asap hitam yang tebal, dan mataku yang sudah sempurna berubah warna menjadi violet-kehitaman.
Tidak kupedulikan keadaan temanku saat kini, aku menengadahkan tangan kananku ke atas.
BLAR! Sambaran petir muncul dari telapak tanganku, sekilas berefek dengan naungan langit-langit. Muncul sebuah pusaran disertai angin yang mulai berhembus halus, hingga menjadi sangat kencang dan sudah tidak perlu diduga lagi.
Topan.
Kunikmati pemandangan ini sesekali menghirup nafasku dalam-dalam. Pertama kali aku merasa free. Seperti sudah menjadi kesenanganku dalam melakukan hal ini.
"SERRENA!" teriak seseorang dari belakangku. Kutolehkan cepat kepalaku, mendapati Andika dengan wajahnya yang robek sebelah. Hal yang mengerikan, namun tidak bagiku. Daging-daging wajah Andika sebelah kiri kelihatan jelas, dengan cucuran darah yang tiada hentinya mengalir.
"BERHENTI!" namun telat, perlahan bangunan sekolah yang indah ini mulai roboh. Aku berjalan santai menuju balkon sekolah, lalu melompat.
"JANGAN!"
BLARRR!
Andika mati.
π°π
Para polisi mengelilingi bangunan yang rubuh sekitar 45 menit yang lalu. Hampir seluruh siswa yang selamat, namun ada yang terluka dikarenakan mereka terjebak di dalam gedung sekolah. Ya, siapa lagi kalau bukan Cannon, Rixton, Hexa, dan Andina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky Will End
Teen Fiction"Jangan memaksakan aku menjadi kalian, karena aku, bukan kalian," Ketika kendaraan menyemaraki tanah Klakson-klakson berdengung dibawa haluan udara Lampu-lampu kota menjadi bintang Disitulah aku berdiri Menatap langit dengan tatapan kosong Indahnya...
