Fake Pain

57 11 14
                                        

Sudah 2 hari aku tergeletak lemas, napas tidak beraturan; mengharapkan sedikit oksigen yang berhembus bebas, dan lambungku terasa perih sekali tanpa asupan makanan.

Mengerikan, ya? Aku akan mati disini.

Jam berapa sekarang? Entahlah.
Darimana aku tahu telah ditahan 2 hari? Firasat.
Bagaimana aku bisa bertahan dalam 2 hari ini tanpa makan maupun minum? Keajaiban.

Tapi hari ini, bisa saja hari terakhirku menghembuskan napas.

Karena aku sudah tidak tahan lagi! Tubuhku pun sepertinya kehilangan penopang, berkelontang tulang kurus kering.

Teringat lagi sekilas ingatan Reyynard ditembak dihadapanku. Memori itu terus berputar berkali-kali di otakku membuatku semakin gila.

Kurasakan pipiku memanas sekarang.

Bokongku terasa sakit---duduk dan berbaring sepanjang hari, tanpa melakukan aktivitas yang dapat membuatku relax. Kuraba-raba sisi dinding, mencari dan berharap menemukan sesuatu yang dapat kuminum. Nihil, aku meremas rambutku; frustrasi. Hatiku menyimpan kebencian amat dalam, hanya itulah yang dapat kujadikan 'makanan' sehari-hari.

Kebencian, ya....
Makananku.

BRAKK!

ERGGHHH! SUARA ITU MASIH SAJA MAMPU MENGEJUTKANKU, MENYEBALKAN! Jantungku berdetak kencang, adrenalin-ku terus berpacu; waspada. Dalam keadaan lunglai begini, 25% harapanku muncul begitu saja untuk melarikan diri dari tempat ini ketika---lelaki kemarin yang membunuh Reyynard, membanting pintu dengan kasar---menatapku dingin. Cahaya remang-remang dari luar menelusuk ke dalam retina-ku. Segera otakku berputar; menyusun rencana untuk melarikan diri, memastikan diri selamat, menyelamatkan Cannon, lalu membalas dendam tepat pada waktunya.

Tapi sepertinya, lelaki itu tahu apa yang kupikirkan.

"Akan kutembak teman sialanmu yang satu lagi itu, jangan berani mencoba melarikan diri!" Ia menjambak rambutku, aku meringis; memukul lemas tanpa daya lengan cokelat kekarnya itu. Dia langsung membenturkan kepalaku ke tembok; tak sudi bila aku menyentuhnya sedikitpun.

"SAKIIIIT!" aku mendelik tajam.

"Tn. Parker ingin berbicara dengan Anda, Nona. Jadi, jangan berani macam-macam dengan saya! Nyawa teman Nona ancamannya!" Pria itu berucap dingin.

Dia membisikkan sesuatu yang amat pilu, sekaligus membuat amarahku bergejolak. "Kau tidak mau temanmu yang lain, berakhir lebih tragis daripada yang kubunuh kemarin, bukan?"

Belum sempat aku memukulnya, dia kembali menjambak rambutku dengan keras. Aku terseok-seok seperti tulang tanpa daging, melewati banyak lorong, pijakannya terasa lembap disini. Mereka memakai penerangan lilin yang menggantung, sangat kuno sekali.

Kiri, kanan, kiri....Akan kuusahakan mengingat arah jalur yang kami lalui. Lorong ini tidak terlalu besar, sepertinya ini merupakan lorong terpencil yang lumayan terawat. Beberapa detik kemudian, kami sampai di depan pintu besi juga (tapi terlihat lebih lebar dari pintu besi lainnya), yang kuduga sebagai ruangan privasi Ayahku. Pria ini melonggarkan jambakan yang ia lakukan pada rambutku, mendorong pintu itu sedikit lebih lembut dibandingkan 'gudang' tadi. Hffft, setidaknya gendang telingaku tidak pecah lagi!

Dalam hati, aku bertanya-tanya. Untuk apa aku dibawa kesini?

Pemandangan mengejutkan. Kulihat Ayah duduk di atas meja---kurasa itu meja kerja---mengangkat kepala Cannon dengan pisau yang berada tepat di lehernya. Aku meringis ngilu, tersenggol/disenggol 1 cm saja pasti sudah robek leher temanku itu.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Semakin aku berteriak, lambungku terasa kian perih. Ayah tersenyum psikopat, terus menodongkan pisaunya tanpa ada niat menjauhkannya beberapa jarak saja. Yang ditodong---Cannon, menatapku sendu.

Sky Will EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang