Should I forget him?

95 23 11
                                        

09:00 am.

Bel sudah berbunyi sedari tadi. Aku hanya terduduk lemas di kursiku, membuka buku secara acak-acakan, dan mengerang sendiri bahkan tidak jarang aku menjambak rambutku. Kini, aktivitas belajar-mengajar aktif kembali, walaupun banyak yang tidak datang ke sekolah. Ada yang shock, dirawat, dan lain sebagainya.

Aku menumpukan kepalaku di atas lenganku. Buliran air mata menetes manis dari kedua mataku. Pikiranku melayang menuju kejadian yang terjadi sekitar 16 jam yang lalu. Faktor-faktor membuatku melamun ada banyak, termasuk tadi pagi....

Pertama kalinya aku tidak diantar oleh Reyynard.

Flashback on

"Nard?" panggil gadis yang dirawat. Reyynard yang peka terhadap suaranya walaupun terdengar lirih, segera melepaskan pelukannya dariku.

Ia menggenggam kedua tangan gadis tersebut. "Badanmu sedikit enakan?"

Gadis itu tersenyum manis sekali. Aku berusaha menahan air mataku yang ingin menyeruak.

"Hampir sempurna sekali, bahkan aku merasa tidak mengalami kejadian berat kemarin,"

Reyynard tersenyum bahagia. Tatapan mata gadis tersebut beralih ke arahku.

"Nard? Dia siapa?" tanya gadis itu bingung.

"Ohya, Serr, kesini," aku berusaha bersikap normal.

"Serrena Sloan." jawabku pendek.

"Dia adik angkatku, Cherly." gadis yang ternyata bernama Cherly mengukir senyumnya dengan manis.

"Kenapa harus adik angkat? Jadian saja."

Reyynard cemberut. "Kan sudah kubilang, aku hanya mencintaimu."

Hatiku yang sedikit berbunga-bunga langsung berubah drastis menjadi layu.

Cherly menggeleng. "Aku sudah punya Nard, bahkan aku sangat mencintai Marx," Reyynard tertunduk lesu. Ada sedikit kelegaan di dalam hatiku ketika cinta Reyynard tidak dibalas oleh gadis yang sempat membuatku iri.

"I will waiting."

"Mau sampai kapan menunggu terus Nard? Kamu harus bisa mencari yang lebih baik, dari aku...,"

"Kamu tahu sendiri kan? Aku setia?"

"Aku tahu, tapi maaf. Hati tidak bisa dipaksa," tutur Cherly dengan lembut. Reyynard menitikkan air matanya.

"Tidak apa, setidaknya kita bisa bersahabat kan?"

"Pasti."

"Janji?" Reyynard mengangkat jari kelingking nya. Cherly melingkarinya.

Sial! Air mataku perlahan menetes!

"Emm, aku ke toilet dulu ya? Tiba-tiba mataku kelilipan kena ujung rambut." tanpa meminta persetujuan, aku segera berlari menuju toilet. Tempatnya ada di ujung sebelah timur, dekat dengan tangga darurat.

Sesampai di toilet, tanpa sengaja aku meninju kaca di depanku. Perlahan, kaca tersebut goyang, lalu pecah menyemaraki lantai toilet yang lumayan licin. Semua kaca hancur dalam sekali tinju. Aku tidak peduli! Terserah jika ada orang yang melihatku atau tidak, aku hanya ingin melampiaskan semuanya!

Aku menangis tersedu-sedu. Suaraku yang kutahan kini kusembur habis-habisan. Walaupun serpihan kaca berada dekat denganku, namun aku tidak tergores sedikitpun. Dan hal ini, tidak perlu ditanyakan lagi.

Sky Will EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang