Mrs. Forrest?

77 8 6
                                        

Sesuatu membelai lembut rambutku.

Aku menganga tidak percaya.

















Ny. Forrest?!

Untuk apa dia berada disini? Apakah Mera ada di sekitaran sini? Aku menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang, jangankan wujudnya....Batang hidungnya saja pun tidak kutemukan. Kutepuk jidatku, dia kan sudah mati! Lantas, mengapa Ny. Forrest mendatangiku? Darimana ia tahu bahwa aku berada disini? Apakah ada alat pelacak yang disimpannya diam-diam, agar mengetahui keberadaanku dan bisa membalas dendam terhadapku, terlebih lagi putri tunggalnya meninggal?

Tapi, mengapa perlakuannya kali ini berbeda?
Kalaupun yang mendatangiku adalah Maxrou, masih bisa kuresapi dalam akal sehat karena ia memang berteman baik denganku, walaupun caranya menemuiku mungkin tidak akan masuk akal.

Pandanganku menerawang, terpaku menatap sesosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meneteskan bulir mutiaranya---kuakui---dia terlihat anggun walau sedang menangis. Hey, kenapa dia menangis? Apa ada sesuatu yang salah dari diriku? Yah, sepenuhnya banyak kesalahan yang ada pada diriku, seharusnya aku tidak dilahirkan, jikalau memang harus dilahirkan seharusnya aku menjadi manusia biasa saja.

Rintik-rintik hujan menaungi bumi, menambah suasana kian kelam serta sendu mengarungi ruang gravitasi. Entah apa yang harus kulakukan agar Ny. Forrest berhenti terisak, kuulurkan saja tanganku untuk menghapus bulir air mata indahnya.

Sial, kenapa aku memuji begini?

"Kenapa Anda menangis?" Akhirnya, pertanyaan itu terlontar juga dari tenggorokanku.

Ny. Forrest langsung memelukku erat, membuatku membulatkan mata. "Maafkan aku,"

Diam, mungkin ada kalimat selanjutnya.

"Aku takkan menyalahkanmu sepenuhnya terhadap kematian anakku. Dia juga bersalah, karena itu arwah temanku mengamuk hal yang wajar,"

Arwah temannya. Jadi dia berteman dengan wanita iblis itu....

Ny. Forrest kembali menitikkan air mata. Oh, tolong jangan pamerkan air matamu disini, nyonya! Perlakuanmu yang sekarang takkan mengubah bad first impression-ku. Aku tak memercayai siapa-siapa lagi.

"Jadi...," Ny. Forrest menggenggam kedua tanganku erat, seolah sedang memohon. "Aku takkan memintamu untuk memaafkan anakku. Karena semua orang mulai mengincarmu, aku sudah mengambil keputusan lain. Mari kita berangkat, akan kutunjukkan keputusan apa yang kumaksud!"

Lenganku ditarik kasar olehnya. Ny. Forrest membawaku ke mobil sedan nya---mobil yang ini sama sekali tidak memiliki sistem transparan, kuduga dia memakai mobil lama. Kami memasuki mobil, kemudian dia menancapkan pedal gas dan melaju cepat membelah jalan raya yang sepi. Tentu saja sepi, kebanyakan kendaraan-kendaraan canggih itu memakai jalur lain.

Zaman ini, hanya sedikit orang-orang yang memakai kendaraan biasa tanpa kecanggihan mesin modern. Paling hanya orang tua, pekerja miskin (tapi yang satu ini hampir tidak pernah terlihat); kala perusahaan bangkrut bisa menjadi penyebab, orang-orang yang lebih suka cara biasa; tidak terlalu mencintai kemewahan canggih yang ada. Para pejalan kaki memiringkan posisi awalnya, guna memberi kami jalan untuk berkendara. Kulihat dari raut wajah mereka, tidak ada yang menampakkan ekspresi kebingungan. Mungkin mereka sudah tahu bahwasanya kendaraan yang melewati jalan raya abad ini bukanlah hal aneh!

Mobil berbelok, kulihat langit diluar sana. Semakin gelap, prediksiku menyatakan gerimis berubah menjadi hujan lebat saat ini. Kami melewati jalanan yang lebih sepi, jauh dari perkotaan maupun pejalan kaki. Tak butuh waktu lama, mobil Ny. Forrest bergeser ke kiri secara mendadak.

Sky Will EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang