New Matter

58 13 10
                                        

Langkahku bergerak cepat, kontras seimbang dengan kecepatan suara. Reyynard dan Cannon kesusahan menyeimbangkan langkah mereka, sehingga mereka tertinggal jauh di belakang. Aku tahu kemana arah tujuanku, pusat asal-mula suara tembakan petir yang telah kutimbulkan.

Sejauh mata memandang, orang-orang berkerumunan menyisir lingkungan salah satu rumah yang gosong dan hancur tak berbentuk. Bau hangus melambung bersama partikel-partikel udara, sesuatu yang menarik perhatianku ada satu sosok perempuan berusia sekitar 30 tahun, terbatuk-batuk karena debu yang menyusuri setiap jengkal kulitnya.

Wajahnya.

Kuduga ia adalah pemilik dari rumah yang hangus. Kulempar pandanganku ke arah sudut lain, berusaha mencari sosok yang menghantuiku dalam mimpi buruk, sekaligus dunia realitaku.

Reyynard tiba duluan, berada di sampingku. "Apa yang bakal kau lakukan?"

Kutatap matanya, tajam. "Ada sosok yang mengganjal."

"Mana?" Dia terlihat kebingungan.

Aku memutar bola mata, jenuh. "Kau sendiri sosoknya."

Reyynard menatapku tercengang, tidak mengerti akan  setiap jengkal kalimat yang kulontarkan.

Cannon meringis, dapat kulihat dari gerak-geriknya bahwa ia mengerti maksud dari ucapanku yang tidak segera dimengerti oleh Reyynard. Cannon menepuk sebelah bahu Reyynard.

"Tidak perlu terlalu dipikirkan." Ucapnya. Aku mendelik.

Semilir angin menggulung, berhembus kencang menerpa wajah kami. Perasaanku menjadi tidak enak, ditambah lagi kami menjadi pusat perhatian sejenak. Seseorang mendekati kami.

Sontak aku tidak percaya dengan apa yang kulihat, begitu juga dengan Cannon dan Reyynard. Perempuan yang tadi menjadi korbanku, tersenyum canggung yang ditujukan kepada kami bertiga, seolah ia telah mengenal kami.

Mataku mengerjap-ngerjap.
Apa yang diinginkannya?

Perempuan itu berdiri di hadapanku. "Panggil aku Lilly."

Kupaksa sedikit untuk menarik ujung bibirku, sekilas. "Ah, iya. Senang bisa mengenalmu, nyo-"

"Jangan sebut diriku nyonya. Aku belum menikah."

"Baiklah, nona. Kenapa Anda mendatangi kami?"

Dia menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan. "Kau Serrena Sloan, bukan?"

Jantungku berdegup kencang. Bagaimana bisa nona ini mengenalku?! Apalagi ia menyebutkan nama lengkapku??? Kulirik Reyynard, dia pun sama terkejutnya.

"Errr-i..iya, nona. Kalau boleh tahu, darimana Anda mengenal saya?"

Air mata perlahan menetes di pipi kirinya, "Kau keponakanku."

DUARR! Apalagi yang dapat menyaingi keterkejutanku saat ini?

Cannon tiba-tiba menyerobos. "Itu berarti, tante-"

"Lilly."

"Yah, maksud saya...Lilly, Anda mengetahui keberadaan ibu Serrena?"

"Kurang lebih. Ikuti aku."

Dahiku berkerut. "Kita akan kemana?"

"Lebih baik kita sesegera mungkin membicarakannya di suatu tempat. Jangan khawatirkan kerusakan tempat tinggalku, aku dapat tinggal sementara di cafe usahaku sendiri."

<~>

"Pesanlah sesuatu."

Kuteguk salivaku susah-payah, memandang Cannon dan Reyynard yang duduk di hadapanku, sedangkan Lilly duduk di sebelahku, mengelus kepalaku dengan rasa sayang.

Sky Will EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang