Gelap.
Ya, aku tahu itu.
Hanya bisa melihat gelap,
gelap,
dan terus gelap.
Tak ada satupun hembusan angin yang berani membelaiku.
Setitik oksigen pun, rasanya kurang diizinkan.
Pengap disini,
sangat pengap.
***
"SERRENA! TOLONG!" Cannon meronta-ronta ketika tangannya ditarik oleh seorang lelaki paruh baya---kemeja hitam, jeans hitam, bahkan bayangannya pun terlihat sangat hitam dikarenakan penerangan disini terlalu redup. Aku yang mulai sedikit mengumpulkan kesadaran; terguncang apalagi ditarik kuat-kuat oleh anak buah Ayahku. Hmm, apa masih pantas disebut Ayah?
Punggungku terbentur sangat sakit....Aku dilemparkan ke gudang, tak ada ventilasi maupun penerangan lainnya. Pikiranku melayang, mungkinkah Ibuku juga disiksa seperti ini dulu?
Pintu dibanting keras. Suara besi nya berbenturan di ruangan sempit ini, telingaku berdengung seolah baru saja mendengar suara lalat yang tak ingin kunjung pergi dari jangkauanku. Samar-samar teriakan Cannon masih terdengar dari kejauhan sana, kemudian tak sengaja aku menangkap bunyi tongkat dari logam yang seakan menghantam sesuatu secara disengajakan. Hatiku memekik perih, bayangan selintas muncul dari pikiranku; kalau Cannon---seandainya dipukul oleh si pemukul; mengenai kepalanya yang dipenuhi pemikiran gesreknya yang---maksudku, jika dia mengalami geger otak....
Ah, masa bodoh. Kenapa aku malah memikirkan orang lain?
Diri sendiri saja belum terselamatkan.
Kusambar petir berkali-kali ke arah pintu besi sekaligus berteriak. Berbagai macam umpatan yang berasal dari kebun binatang, lontaran kata-kata kasar membuat emosiku semakin meluap untuk segera menghancurkan tempat ini.
Tempat ini? Keberadaanku saat ini saja tidak tahu.
Banyak hal yang tidak kuketahui. Terutama, ketika mengetahui kenyataan bahwa petirku tidak mempan oleh besi pintu ini. Aku menggerutu. Berapa lapis besi sih, pintunya?!
Suasana makin mendesak disaat kudengar suara Reyynard menggelegar diluar sana, kudengar bunyi hantam pukulan---tinju mungkin, berlangsung secara memilukan. Ringisan Reyynard, yang mungkin ia mengalami pendarahan pada bibirnya, telinganya, tangannya, kakinya, punggungnya, entahlah pokoknya di bagian tubuhnya; membuatku tidak terima.
"SIAPAPUN DILUAR SANA, JANGAN BERANI MENYAKITI REYYNARD! AYO LAWAN AKU SEBELUM AKU HANCURKAN WAJAH KALIAN BERLEBUR-LEBUR!!!"
BRAK!! Pintu kembali dibanting; terbuka. Segera kulancarkan aksi--thunder shoot. Namun entah mengapa, pukulan petirku tidak berpengaruh sedikitpun pada tubuh si lelaki suruhan Ayah. Kupicingkan mata....
Pantas saja. Dia memakai baju pelindung besi.
Hfft, ini semakin merepotkan. Tentu saja mereka telah merencanakan ini sejak awal.
Termasuk si Lilly sialan itu!
"Diam, atau kusiksa temanmu ini." ia mengangkat kepala Reyynard secara kasar, membuatku mendengus kesal.
"Tanpa kau ancam pun, kau berencana membunuh kami."
"Oh, tentu saja!" pria itu tersenyum miring. "Sangat disayangkan bila aku melewatkan kesempatan ini. Memburu sang pemilik kekuatan? Sang kunci kehancuran dunia? Haha, orang bodoh mana yang tidak ingin mengambil kesempatan ini?! Sebuah kehormatan besar bila aku melumpuhkan kalian, sekaligus." Pria itu tertawa terbahak, seolah menganggap hal ini lelucon sedunia. Kujuruskan kembali pukulan petirku tanpa ampun, dia merasa marah hingga....
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky Will End
Fiksi Remaja"Jangan memaksakan aku menjadi kalian, karena aku, bukan kalian," Ketika kendaraan menyemaraki tanah Klakson-klakson berdengung dibawa haluan udara Lampu-lampu kota menjadi bintang Disitulah aku berdiri Menatap langit dengan tatapan kosong Indahnya...
