Dan hari minggu pun datang dengan cepatnya, tidak terasa waktu berjalan dengan cepatnya. Hari yang ku lewati tetap sama, bayangan yang mengikutiku dan kenyataan yang dihadapi pun tidak berubah.
"Masih aja, ketemu kamu mulu disini, kamu kaga bosen apa disini mulu", suara yang tidak asing bagiku dan suara itu pun mendekat.
Ah, aku lupa untuk mengenalkannya, dia bernama Irena, juniorku beda kampus, perempuan keturunan Sunda Australia ini memiliki kelakuan yang hanya dia yang mengerti. Memang bukan nama yang wajar bagi perempuan keturunan aust, tapi itulah dia, yang biasa dipanggil dengan sebutan iren.
Dahulu, irena kuliah di tempat yang sama dengaku, sebelum pada akhirnya pindah ke jakarta karena orang tua yang mengharuskannya pindah kampus dan jurusan. Ada beberapa hal yang tidak dapat diceritakan mengenai kisahnya dengan keluarganya. Mungkin mereka hanya ingin sesuatu yang lebih privasi.
"Boleh nanya ga? Apa sih rasanya punya pasangan, tapi hatinya masih terjebak sama masa lalu, gampangnya gini, udah pacaran sama yang baru, udah ada rasa sayang bahkan cinta sama yang baru juga, tapi bayangan masa lalu kamu masih ngikut aja gitu di belakang",
"Ya gitu, sama kaya yang kamu jalanin saat ini, kamu ga capek apa kaya gitu? Kan kasian juga sama yang baru kalo kamu masih terjebak di masa lalu, kamu jalanin hubungan sama yang baru, tapi kamunya masih sayang sama yang lama, yang udah ga ada pula.... eh maap",
"Capek sih iya, banget malahan, susah gitu ya move on? Perasaan dulu gampang aja dah, ketika udahan sama yang lama, terus move ke yang baru, dengan orang baru dan perasaan yang baru. Ya tapi gitulah hidup, makanya ada yang bilang hati itu tanpa logika, gabisa digunain dengan akal sehat. Iya gapapa ko, dia juga udah ga ada, walau raganya ga ada tapi hatinya masih membekas",
"Nah gantian, aku yang nanya, segitu pentingnya emang posisi kak kay di hidup kamu sampai kamu gabisa move on? Segitu besarnya sampe kamu lupa kalo hidup itu tetap harus melangkah maju, kamu lupa? Banyak loh yang sayang sama kamu sebenernya, kamu aja yang terlalu fokus sama satu orang di masa lalu, peka sama sekitar, ntar kamu tau sendiri, siapa yang sayang sama kamu",
"Kalo dibilang penting, emang penting, kalo dibilang besar bisa jawab banget, aku sih ga lupa, dan aku juga peka ko sama sekitar, banyak emang yang sayang sama aku, tapinya aku terlalu fokus dan stuck di tempat",
"Yaudah, jangan galau mulu, belajar ikhlas dan merelakan, apapun yang terjadi di masa lalu, biarlah jadi kenangan aja, ya kaya kata aku kemarenan dah, camkan, pahami, dan lakukan".
Kemudian suasana menjadi ramai dengan sekitar, aku dan dia menghentikan pembicaraan saat pikiranku banyak teracuni oleh kata-katanya.
