Pagi ini begitu dingin, waktu menunjukan pukul setengah delapan pagi. Tidak ada jadwal mengajar pagi, hanya ada kunjungan ke kampus untuk bimbingan nanti siang. Aku bangkit dari kasurku dan segera mandi tidak berapa lama ponselku berbunyi, sebuah panggilan masuk dari dosen sebelah di kampus negeri yang terkenal di bandung.
"Selamat pagi bapak kiki, maaf mengganggu. Jam sepuluh nanti ada jadwal mengajar tidak ya?", "Oh iya pak meka, tidak ada tuh, hanya nanti siang ada jadwal bimbingan mahasiswa di kampus, ada keperluan apa ya?", "Kalau tidak keberatan, bisa gantikan saya mengajar di kampus? Kebetulan saya ada keperluan mendadak, jadi tidak bisa mengajar. Bisa tidak ya? Nanti bahan ajarnya saya kirimkan via email dan saya sudah memberitahukan kepada mahasiswa saya kalau saya berhalangan hadir",
"Sepertinya bisa pak, nanti emailkan saja ya ke saya. Nanti saya baca dahulu agar paham", "Wah pak, terima kasih banyak ya, sebagai ucapan terima kasih nanti saya belikan oleh – oleh", "Ah tidak usah pak, kan bapak juga sering membantu saya, nanti merepotkan", "Tidak apa, baik pak terima kasih, nanti saya emailkan". Dan begitulah percakapan singkat kami.
Setelah selesai mandi, aku mencari sarapan di luar dengan memanaskan kendaran terlebih dahulu. Mungkin aku ingin menggunakan mobil agar bisa cepat sampai. Tidak berapa lama akupun pergi berangkat dengan semua perlengkapan, termasuk materi ajarku. Memakan waktu hampir satu jam melalui tol agar lebih cepat namun sialnya aku terjebak macet.
Setelah sampai di kampus, aku memarkirkan kendaran dan bergegas menuju kelas yang aku ajarkan. Sesosok perempuan yan tidak asing menabrakku hingga menjatuhkan tumpukan buku yang dibawanya. Aku hanya membantunya merapikan, tidak ada percakapan diantara kita dan kemudian akupun bergegas menuju kelas.
Setelah kurang lebih dua jam setengah kuliah berlangsung, akhirnya selesailah kegiatanku di kampus itu. Akupun menuju ke mobilku dan berusaha kembali ke kampus karena ada jadwal bimbingan dengan mahasiswaku. Perjalanan menuju mobil aku menemui perempuan tadi sudah berada didepan mobilku sedang bersender sambil memegang buku.
"Maaf, permisi. Saya boleh masuk ke mobil?", "Oh iya maaf". Saat aku berusaha untuk membuka pintu mobil, kemudian dia menarik tangan dan tubuhku sehingga dia memelukku. Apa ini? Sebuah kehangatan yang dulu aku rasakan, seolah pelukan ini memberikan aku kenangan lama yang seharusnya aku lupakan. Tiba – tiba air mataku menetes di balik kacamataku. Entah kesedihan atau hanya sebuah perasaan yang lama aku rindukan.
"Aku rindu, tidakkah kau mengingatku? Ah aku lupa, kecelakaan berat empat tahun lalu sebelum kamu wisuda sudah menghapuskan beberapa memorimu tentang masa lalu, mungkin diantaranya adalah aku. Siapalah aku dihidupmu? Berhargakah aku? Aku rasa tidak, semuanya sudah berlalu, setidaknya pesan singkatku sudah tersalurkan oleh sebuah pelukan", aku tidak berusaha melepaskan pelukannya, malah berusaha memeluknya lebih erat.
"Lepaskan pelukanmu, ini masih di lingkungan kampus. Apakah kamu ingin membuatku menangis? Tidakkah kamu malu untuk memelukku? Bagaimana jika mahasiswamu melihat kita?", "Siapa kamu? Mengapa aku memelukmu begitu erat? Apakah kita ada hubungan di masa lalu? Mengapa aku melupakannya? Mengapa aku menangis? Apakah kamu sosok dibalik pesan di ponselku?",
"Sudahlah, aku bukan orang penting lagi di hidupmu, aku tahu kamu sedang dekat dengan mahasiswimu itu. Aku harap dengan memelukmu dan melihatmu baik – baik saja bisa melupakan semua keriduanku padamu, aku harap kamu bahagia disini. Tidak perlulah aku menjawab semua pertanyaanmu itu. Aku pamit".
Kemudian dia perlahan melepaskan pelukanku, dan berjalan meninggalkanku. Siapa kamu sebenarnya? Mengapa aku menangis saat memelukmu? Mengapa aku tidak melepaskan pelukan itu? Kenapa aku merindukamu? Ah tidak, aku tidak ingin mengingatnya. Ada hati yang harus aku jaga.
