Akhirnya hujan pun berhenti dan selesailah semua kegalauan dan rasa yang selalu diabawa olehnya. Waktu menunjukan hampir setengah enam sore, saatnya aku pulang dan membuat materi untuk bahan ajarku minggu depan. Berjalan keluar lab yang hanya tersisa aku seorang. Kampusku mulai sepi ketika sore hari, hanya beberapa mahasiswa yang memang 'betah' untuk berada di kampus sampai malam hari.
Langkah demi langkah aku berjalan di sebuah koridor kampus dan menuruni tangga. Mengingat kembali apa yang belum ku lakukan hari ini sambil berpikir siapa orang yang mengirimiku pesan tadi.
Suasana masih sama, hening dengan beberapa suara jangkrik dan kodok yang saling bersautan mencoba memecahkan rasa yang sudah terjadi saat mengingat masa lalu yang dibawa oleh hujan.
"Lupa sama aku? Gapapa sih, aku juga ga berharap diinget. Selamat ya udah jadi apa yang kamu inginkan, seorang dosen. Oh iya, minggu depan aku mau ke bandung. Pengen ke kampus kamu sekalian mampir, bisa ketemu?", sebuah pesan singkat dari nomor yang sama.
Aku masih tidak mengetahuimu, siapa kamu? Apkah berkaitan dengan sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu diantara kita? Aku mencoba berpikir keras selagi mengingat kembali dan kali ini hanya terbayang seorang perempuan yang dulu memang aku kenal dan sempat menjalani hubungan dengannya, entah ini sebuah takdir aku harus berbicara padanya kembali, atau memang ini hanya sebuah kebetulan belaka.
Aku hanya mengingat satu nama, satu wajah beserta seluruh tentangnya. Cerita yang selalu tergambar luas saat aku membaca kata – katanya pada pesan singkat ini. Apakah kamu? Atau orang lain? Aku tidak ingin memikirkannya.
"Pesanku belum juga kamu balas, tapi aku tahu kamu memang belum berganti nomor. Tak apa lah, aku memang bukanlah orang yang spesial dimatamu saat ini. Hanya seseorang dimasa lalu yang berusaha mengambilmu kembali. Aku hanya rindu, tak pernah terpikirkan olehku untuk memintamu kembali. Dahulu, saat kamu kuliah sarjana di bandung saja, aku merindukanmu begitu beratnya sampai pada akhirnya aku menyusulmu untuk berada di dekatmu. Kini kamu menjadi dosen di bandung, dan mungkin kamu punya rumah disana, makin rindu akunya. Ya tidak mengapa lah. Aku tak berharap kamu mengingatku, aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal tentangku. Sampai jumpa di bandung ya, ndut".
Dan semuanya jelas dengan apa yang dia kirimkan, hanya seseorang di masa laluku memanggilku dengan sebutan 'ndut'. Mengapa kamu kembali disaat aku sudah berusaha melupakanmu? Begitu banyak luka yang sudah kulalui saat berusaha meninggalkanmu. Kamu yang melepaskanku, berusaha pergi dan tidak merindukanku lagi. Mengapa kini kamu kembali? Walau hanya bertegur sapa, rasanya tidak ingin aku menemuimu.
