Promised Hope

8.6K 608 5
                                        

"Kenapa kita ke sini?" Isyan bertanya saat Limosin hitam itu membawa mereka ke sebuah gedung yang merupakan apartemen paling mewah di Manhattan.

Lebih dari seminggu Isyan dirawat di rumah sakit. Namun ia harus memaksa agar Lucas mau membawanya pulang. Isyan merasa sudah sehat sepenuhnya, tapi pria itu bersikeras menyuruhnya istirahat dan melupakan pekerjaannya.

"Well, kupikir, bangunan tua yang kau anggap sebagai apartemen itu tidak layak untuk ditempati. Jadi, aku putuskan bahwa kau akan tinggal di tempat yang benar-benar merupakan apartemen." Lucas memiringkan kepala. Memandang Isyan dengan tatapan seksi.

"Dan siapa kau sampai berhak memutuskan hal itu?" Isyan melipat kedua tangan di dada. Mengabaikan tatapan Lucas yang berusaha menggodanya. Walaupun, sejujurnya ia merasa hatinya berdebar-debar karena tatapan itu.

Lucas mengambil napas dalam-dalam. Ia tahu Isyan tidak akan mudah untuk menyetujui hal ini. Jika wanita lainnya akan menjerit senang karena diberi sebuah apartemen mewah, maka gadis di sebelahnya ini pasti akan berdebat sengit dengannya.

"Dengar! Banyak musuhku berkeliaran di luar sana. Dan beberapa diantara mereka mungkin sudah tahu bahwa kau adalah kekasihku yang—"

"Padahal bukan!!!" Isyan menyela dengan nada ketus.

"Baiklah. Tapi mereka mengira begitu. Jadi, lebih aman jika kau tinggal di tempat ini. Berada di tengah kota, dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi. Lagipula..." Lucas mendekatkan wajahnya dengan wajah Isyan. "Penthouse-ku berada di lantai paling atas."

"Whattt????"

"Yeah, aku tahu kau tidak akan mau tinggal satu unit denganku. Karena itu aku memberimu satu unit sendiri yang berada tepat di bawahku." Tiba-tiba Lucas memikirkan Isyan yang benar-benar berada di bawahnya secara harfiah.

"Tidak! Aku tidak bisa tinggal di sini dan menikmati kemewahan ini begitu saja!" Isyan menggelengkan kepala.

"Kenapa tidak? Satu unit apartemen tidak akan membuatku jatuh miskin!"

"Tidak! Aku—"

"Dengarkan aku, Isyan!" Lucas memegang kedua lengan Isyan. Memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Aku tahu bahwa kau bukan gadis yang mau menerima sesuatu dari sembarang orang. Tapi aku ingin kau tahu bahwa kau adalah seseorang yang sangat penting dalam hidupku, dan aku akan melakukan berbagai cara untuk melindungimu."

Isyan berusaha melepaskan kedua tangan Lucas.

"Baiklah, kalau kau masih sulit menerimanya. Bagaimana jika begini. Kau telah menyelamatkan hidupku, jadi sebagai gantinya aku akan melindungimu."

"Aku tidak pernah mengharapkan orang lain akan membalas kebaikanku."

"Oh, come on! Kau hanya sementara tinggal di sini. Setelah selesai magang, kau akan kembali ke London." Dan Lucas akan memikirkan berbagai cara untuk membuat Isyan tinggal lebih lama. Atau membuat gadis itu pindah kuliah di salah satu Universitas yang berada di New York.

Isyan menghela napas. Ia lelah dan ingin segera membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan nyaman.

"Baiklah...." Isyan memicingkan mata menatap Lucas dengan curiga. "Tapi kau tidak akan masuk ke tempatku seenaknya, kan?"

"Tentu saja!" Lucas mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Aku tidak akan masuk, kecuali kau mengundangku."

Isyan menyandarkan tubuh di sandaran mobil mewah itu. Memilih untuk mengendurkan urat-uratnya yang tegang akibat perdebatan mereka. Ia harus segera pulih agar bisa kembali pada pekerjaan yang sudah menunggunya.

***

Ruangan besar dengan nuansa putih dan cream terhampar di hadapan Isyan. Pada bagian depan terdapat jendela besar yang menampilkan kota New York di malam hari. Hanya ada satu kamar tidur utama dan satu kamar tidur pembantu.

Apartemen ini sangat sederhana bagi Lucas, tapi sangat mewah bagi Isyan. Lucas tahu bahwa gadis itu tidak menyukai kemewahan, karena itu, selama Isyan di rumah sakit Lucas mulai mempersiapkan tempat yang aman dan nyaman untuk gadis itu.

Di tengah ruangan juga sudah berdiri seorang perawat dan pelayan wanita yang khusus disiapkan Lucas untuk merawat Isyan. Juga beberapa pengawal yang berjaga selama 24 jam. Mereka harus menjaga Isyan seperti menjaga Lucas. Begitulah perintah Lucas.

"Bukankah ini terlalu besar untuk kutempati sendirian?" Isyan berjalan perlahan sambil memandang sekeliling ruangan.

Lucas memutar bola mata. Padahal ia sudah berusaha menyiapkan tempat yang "tidak mewah", tapi gadis itu masih saja mendebatnya.

"Tidak juga. Di sini ada beberapa orang yang akan melayani dan menjagamu." Lucas melingkarkan tangannya di pundak Isyan. Menggiring gadis itu agar duduk di sofa empuk berwarna putih gading.

"Kurasa itu juga terlalu berlebihan! Aku bukan bayi!" Isyan mengerutkan dahi. Menatap Lucas dengan tajam.

"Kau sendiri yang memaksa untuk segera pulang dari rumah sakit, ingat?"

"Dokter bilang tidak masalah."

"Ya, tidak masalah jika ada perawat yang mengurusmu di sini."

"Lucas—"

"Ssssttt...." Lucas meletakan jarinya di bibir Isyan. "Kau lelah dan harus istirahat. Besok kita akan berdebat lagi jika kau mau, tapi sekarang kau harus segera naik ke ranjang dan menutup matamu, oke?"

Isyan menghela napas. Lucas benar. Ia lelah. Sangat lelah. Dan besok mereka akan berdebat lagi untuk banyak hal.

Melihat Isyan menyerah, tanpa kata Lucas menggendong gadis itu dan membawanya ke kamar. Membaringkannya dengan hati-hati seolah Isyan adalah keramik langka yang sangat mahal.

"Kalau kau butuh sesuatu, tekan saja tombol itu!" Lucas menunjuk sebuah tombol yang berada di meja nakas sebelah ranjang.

"Hmm...." Isyan menarik selimut hingga menutupi dada. Memberi isyarat agar Lucas segera pergi.

Tanpa di duga Lucas mendekatkan wajahnya dan mengecup dahi Isyan. Hanya sebuah kecupan ringan, namun rasa hangat menjalar ke seleuruh tubuh Isyan. Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya, berusaha untuk menyadarkan diri dari perasaan aneh itu.

"Have a nice dream, Princess!" Lucas tersenyum. Sebuah senyum yang sangat menawan.

Lucas berjalan mundur. Masih menatap Isyan dengan senyum di bibirnya, seolah enggan meninggalkan gadis itu sendirian. Hingga tubuh menghilang di balik pintu.

Isyan menyentuh dadanya dengan kedua tangan. Ia tidak tahu kenapa jantungnya bergemuruh seperti ini. Karena perhatian Lucas? Atau karena senyumnya? Keduanya sama-sama membuatnya merasa tergoda.

Ahh, tentu saja pria itu memang terbiasa menggoda wanita. Lucas pasti sudah sering melakukan hal ini kepada kekasihnya yang lain. Isyan tidak mau berpikir berlebihan. Sebenarnya, ia takut hatinya akan berharap. Sebuah harapan tentang....

Sebelum akal sehatnya hilang, ia buru-buru memejamkan mata dan menenggelamkan tubunya ke dalam selimut.

Sebelum akal sehatnya hilang, ia buru-buru memejamkan mata dan menenggelamkan tubunya ke dalam selimut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan ada plagiat di antara kita, oke???

Capek nih harus nulis dan re-publish banyakkk bangettt, jadi jangan lupa vote dan komen, yaaa... 😘

TBLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang