Tujuh belas 🙂

1.1K 70 5
                                        

Di sebuah bangunan area parkiran tua yang tak terpakai, lantai ke lima. Adam berdiri menatap lurus dengan retina yang membeku sengit. Di kepung tembok abu-abu kotor yang keropos, sekelompok laki-laki berbaju hitam berlagak seolah menjadi prajurit sang tuan yang tidak lebih hanya seorang bajingan bagi Adam.

"Long time no see, but... gimana bisa lo berfikir seburuk itu sama gua?” Lelaki berkacamata dengan kemeja putih yang lengannya dilipat bersuara seolah dialah raja. Senyum merendahkan di bibirnya ingin sekali Adam lenyapkan. Minggu lalu Mayang mengalami gangguan teror, mendapati orang ini berada di Indonesia sudah cukup bagi Adam untuk melayangkan persepsi.

Adam membeku bibirnya tak bisa berkata-kata, jika pun ia paksakan pasti yang keluar hanya akan berupa cacian, kututkan, hal-hal yang pantas untuk diterima oleh seorang pembunuh.

"Sayangnya, lo gak pernah bisa memberikan bukti apa-apa,” lelaki itu tersenyum sinis. Lalu masuk ke dalam mobil hitam mewahnya. Diikuti para jongosnya yang setia mengabdi pada kesalahan demi uang. Mungkin hanya beberapa orang termasuk Adam yang kemudian diberi kesadaran.
.
.
.

"Emang mau kemana sih?!" Itu pertanyaan sama yang ke sekian kalinya, terselip diantara rutukan Mahesa sore ini. Padahal dia bisa saja pulang terlebih dulu dan berhenti menguntit Mayang. Tapi entah sejak kapan rasanya terlalu sulit untuk berhenti mencampuri urusan perempuan itu.

Pulang sekolah Mayang langsung pergi ke tempat yang membuatnya akhir-akhir ini kepikiran untuk mengunjunginya. Mungkin, Mayang memang pernah berjanji untuk mendatangi tempat tersebut sesudah ujian sekolah selesai. Tadinya Mayang mau melupakan saja janji itu, bukan apa-apa hanya saja Mayang takut akan kembali teringat dia.

"What the f... kuburan—?” Mahesa di belakangnya berujar tidak jelas ketika dia mendapati gerbang menuju tempat pemakam umum. Mungkin karena bingung dan terkejut menyerangnnya secara bersamaan. Tapi langkahnya kembali membututi gadis itu.

Mayang merengkuh, lalu menekan kedua lututnya ke rumput. Berhadapan dengan dua buah kuburan. Gibert Athony dan Aini. Nama kedua orang tuanya tertulis di sana. Mahesa yang berdiri di sampingnya tak lagi berkomentar. Dia ikut jongkok di sebelah Mayang dengan wajah tertunduk. Dia juga berdo'a untuk kedua orang tua Mayang.

Mayang mencoba menahan air matanya, tapi tak bisa ia tahan. Mayang  tidak mau Mahesa tahu. Jadi sebisa mungkin ia meredam suara isaknya.

"Yuk," ujar Mahesa setelah cukup lama. Mayang ikut berdiri tapi tidak mengikuti langkahnya. Menghampiri kuburan lainnya adalah hal yang Mayang lakukan yang membuat Mahesa akhirnya merengut heran dan kembali mengikuti Mayang.

Mayang dan Mahesa jongkok, tepat di sebuah makam yang Mayang pun yakin Mahesa pun ingat, dia tahu siapa orang yang terpendam di dalam.

"Gamalil?" gumam Mahesa perlahan menatap Mayang lurus. Korneanya berpendar di bawah alis-alis tebalnya yang mengerut, ia menuntut penjelasan.

Mayang tersenyum samar menatapnya, tak mau setetes air matanya terlihat kembali terjatuh lalu ia mengalihkan pandangannya. Tangan halusnya menyapu nisan. "Gua ke sini Mal, seperti janji gua," kata Mayang. Seolah bukan sebuah gundukan tanah melainkan Gamalil yang tengah berhadapan dengannya.

"Maksud lo gimana sih? Kok bisa lo?” Mahesa tak melanjutkan ucapannya, ketika karena tatapan Mayang kembali terpatri tepat di matanya.

"Iya, gua tahu lo gak tahu. Lo melewati banyak hal walau menurut gua, kita sudah ketemu sejak lama. Cuma aja gak saling kenal." Mahesa sedikit terhenyak, itulah kebiasaannya melewati berbagai hal di sekelilingnya. Ia benci hal itu. Dirinya yang terlalu cuek entah terlalu egois, yang jelas kadang itu jadi bumerang yang menyerangnya balik.

"Bisa gak? To the point."

Ada detik yang mengisi kekosongan sejenak, sebelum akhirnya Mayang menjelaskan dengan mencoba menahan sesak.

BILURTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang