Empatbelas

2.9K 131 7
                                        

Bagi ku, masa lalu itu halangan bukan kenangan.
Dia melekat pada kenyamanan,
Datang melalui orang terdekat.
Lalu menjauhkan jarak yang dekat.
-Dear, Mantan 2

\\//

Wanita berkaus merah lengan panjang dipadu dengan jeans hitam baru saja keluar dari kelas nya, terlihat dari raut wajah nya bahwa dia sedang lelah.

"Mau kemana?" Tanya Angel, yang menyusul nya dari arah belakang. Ardita hanya menggeleng lemah sambil berjalan mendahului Angel.

"Cafe dekat kampus ya?" Tawar Angel. Lagi-lagi Ardita tidak bersuara, dia hanya mengangguk pelan.

Angel hanya diam tidak berkomentar lagi, dia tahu betul Ardita sedang dalam mood yang tidak baik. Sudah 3 hari ini dia lebih banyak diam, setelah datang ke Bandung dia langsung pergi ke kamar dan mengunci diri. Saat ditanya kenapa, dia hanya tersenyum tipis atau sesekali menjawab 'gapapa'.

Kini, mereka sudah ada di tempat biasa. Cafe dekat kampus, Angel masih menunggu pesanan nya datang. Sedangkan Ardita terlihat melamun sambil mengaduk-aduk minuman nya.

"Diminum ta, lo beli bukan buat dijadiin mainan." Ardita hanya melirik nya tanpa berniat menjawab.

Angel sudah menggunakan berbagai cara, mulai dari cerewet, pura-pura marah atau bahkan memarahi dan membentak Ardita. Tapi, hasilnya tetap saja. Ardita hanya memasang ekspresi datar, dan sikap nya yang dingin.

"Ta? Gue gatau berapa kali gue nanya sama elo. Kenapa sih?"

"Gapapa." Ardita sedikit tertawa hambar, menyamarkan sedikit pikiran nya agar Angel sedikit lebih tenang.

"Semenjak balik dari Jakarta lo diem, bahkan tau-tau lo keluar dari kamar tanpa gue tau kapan lo dateng ke Bandung." Angel meneguk sedikit minuman nya, lalu bersiap untuk melanjutkan ucapan nya. "Gue liat ya lo suram banget, ngelamun ga pernah senyum. Ditanya cuma geleng-geleng, atau jawab gapapa." Cerocos nya lagi.

"Sometimes you know." Jawab nya sambil tersenyum.

Angel hanya menarik nafasnya dalam dan mengeluarkan, dia bingung harus berbicara seperti apalagi. Sedikit yang dia bisa tebak, mungkin ini menyangkut Galih. Karna, selama beberapa hari Ardita berubah Galih tidak pernah datang.

"Balik yu." Ajak Angel.

"Masih ada kelas, duluan aja."

"Gue tungguin deh." Angel kali ini serius, "Gausah, lo balik aja." Masih saja datar.

"Gue gamau lo kenapa-napa."

"Gue gapapa."

"Engga! Gue mau nungguin." Paksa Angel.

"Setiap orang bakal bertemu waktu, dimana mereka hanya menginginkan sendiri dan berbicara dengan semesta." Susah berbicara dengan pendiksi yang sedang patah hati.

"Oke, gue balik. Lo jaga diri, jangan balik malem." Pesan Angel, sebelum pergi. Ardita hanya mengiyakan dan tersenyum tipis.

Sejujurnya dia sudah tidak ada jam hari ini, harusnya dia pulanh seperti Angel. Hanya saja, Ardita perlu waktu. Dia memilih lebih lama di tempat ini, mengenang beberapa hal yang bisa membawa nya pada hari ini.

Dear, Mantan 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang