19

5.4K 213 39
                                    

Shani mengerjapkan matanya menyesuaikan pandangannya. Ia meraba-raba ke sampingnya. Perlahan Shani pun duduk bersandarkan pada kepala ranjang.

Dilihatnya jam dinding di kamar Vino, menunjukkan pukul 05.38. Baru beberapa jam yang lalu ia bisa tertidur dengan tenang setelah bersama Vino.

Lebih baik, ia sekarang menyiapkan sarapan untuk kesayangannya itu.

Shani bangkit dari kasur Vino. Ia berjalan menuju kamar mandi terlebih dahulu sekedar mencuci muka agar terlihat sedikit segar.

Setelah itu, ia pun berjalan keluar kamar menuju dapur sembari membawa tas kecilnya.

Dibukanya kulkas milik Vino, dilihat-lihatnya apa isi di dalam kulkas tersebut. Tak ada yang bisa ia olah untuk sarapan mereka.

Ia pun mengitari pandangannya, ah ia melihat roti di atas meja makan sana. Mungkin sarapan roti tidak buruk, pikirnya.

Shani pun mulai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Shani terdiam kala menuangkan susuk coklat untuk Vino. Seketika, senyumnya pun mengembang dengan sendirinya.

Dirogoh-rogohnya isi dalam tasnya, ia mencari-cari sesuatu yang selalu ia bawa kemana-mana. Padahal, mungkin ini bisa dibilang sangat tidak diperlukan tapi Shani selalu membawanya.

Ia mengambil sebuah bungkusan kecil. Lalu dibukanya bungkusan tersebut dan dimasukkannya ke dalam susu milik Vino.

Setelah itu, ia pun mengaduk-ngaduknya agar larutan yang dituangkannya tercampur bersama susu tersebut.

"Selesai!" Gumamnya dengan riang.

"Hmm? Shani?"

Shani terlonjak kaget, ia pun membalikkan badannya, "kamu udah bangun?"

Vino mengangguk, "kamu ngapain pagi-pagi ada di sini?" Vino mengucek-ngucek matanya sembari berjalan mendekat pada Shani.

"Jangan suka dikucek gitu," tegur Shani sambil menahan tangan Vino agar tidak melakukannya lagi.

Dengan perlahan, tangan Shani pun mengalung di leher Vino. "Aku kan nginep di rumah kamu, Vin." 

"A-ah i-iya, aku lupa."

Shani terkekeh, lalu ia pun mencium kilat bibir Vino. "Yaudah sana, mandi dulu atau mau kita sarapan dulu?"

Vino menimang, "mandi dulu deh, ya?"

Shani mengangguk tersenyum, "yaudah, sana gih."

"Kamu juga mandi. Pakai baju aku aja dulu. Nanti baru ke rumah kamu ganti baju lagi."

Shani menggigit bibir bawahnya. "I-iya."

Mereka pun berjalan ke kamar Vino terlebih dahulu, untuk memilih baju yang dipakai oleh Shani sekaligus mengambil seragam sekolah yang akan Vino pakai.

Setelah itu, Shani pun mandi di kamar mandi kamar Vino dan Vino di kamar lainnya.

Shani keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia memakai kaos milik Vino, yang terlihat kebesaran di badannya.

Shani pun berjalan keluar kamar bersamaan dengan Vino yang keluar dari kamar lainnya.

Vino sempat terdiam sejenak memandangi Shani beruntung kesadarannya cepat kembali.

"Kamu duluan aja, aku mau ngambil tas dulu," ucap Vino.

Shani mengganguk. Lalu ia pun berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Vino yang kembali masuk ke dalam kamarnya.

Shani duduk menunggu di meja makan dengan tenangnya. Tak berapa lama, Vino pun datang dan langsung duduk di samping Shani.

Mereka berdua pun sarapan bersama-sama pagi itu.

The LessonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang