20. Anak Baru Lagi

363 17 0
                                        

"Kamu adalah pelangi di musim kemarau."

***

Selain warna ungu, Achel menyukai hujan. Rintik air yang berjatuhan membuatnya kehilangan kata-kata. Rasa kesalnya seolah-olah terhanyut oleh rintikan itu.

Seorang pluviophile dapat menghilangkan kejenuhannya dengan hujan. Hujan adalah mood kedua Achel setelah Nicho. Meskipun ada mood booster yang dapat menemaninya di malam ini, Nicho tetaplah mood booster Achel yang pertama.

Achel menghembuskan napas pelan. Melangkahkan kakinya untuk tidur.

Ia memejamkan matanya bersama suara rintikan air. Tiada petir yang menganggu suasana sendu ini.
Kemudian memeluk boneka danbo kesayangannya, "Selamat malam Nicho. Pulanglah."

Sunyi, hanya terdengar suara awan yang menangis dan dengkuran napas dari Achel.

***

Tujuh warna memancar indah pada langit yang putih. Menyapa Achel yang bersedih hati. Membangunkannya dari lelah semalam.

Achel tersenyum tipis menatap pelangi itu. Sembari menyiapkan sajak yang akan ia titipkan pada pelangi. Hatinya berbisik,

Hai, pelangi yang sudah lama tak membias.
Sayang, Rinduku tak pernah terbalas.
Dia yang buas, sudah lama tak datang menghias.
Ruang kosong, sunyi, tanpamu.
Pelangi ku, tujuh warna yang menarik di mataku.
Layaknya kamu yang indahnya sesaat,
Sebelum putih menjadi hampa yang tersesat.

"Kok jelek ya puisi aku?" tanya Achel pada dirinya sendiri. Tatapannya masih terpaku pada tujuh garis lengkung yang membuatnya takjub.

"Kak Achel belum berangkat? Udah siang loh ini," ujar Amara yang mendapati putrinya sedang berdiri tidak jelas di luar rumah.

Achel kemudian menyusul Ibunya, menjabat tangannya lalu meninggalkan rumah.

Sesampainya di sekolah, Achel tak lagi kehilangan semangat. Entah mengapa sejak kehadiran pelangi itu ia menjadi lebih tenang. Seperti akan ada hal indah setelah hujan di matanya.

Seperti pelangi, keindahannya datang setelah hal buruk. Achel percaya, ada hal indah setelah saat-saat buruk di tujuh bulan ini.

Achel sesekali menyapa teman seangkatannya. Ini lain, biasanya ia selalu berjalan menunduk atau berlari. Teman-temannya menatap heran, namun juga membalas sapaannya.

Achel berbahagia hari ini.

"ACHEL!!!" suara lengking itu hampir melepaskan telinganya.
Achel menatap pemilik suara itu dengan cemberut.

"Ih, jangan gitu. Ada hal yang bakal buat kamu seneng," ucap Misya begitu membuat Achel bingung. Senyum Misya seakan-akan sulit pudar. Buktinya sedari tadi ia masih tersenyum. Ada berita yang bahagia, mungkin.

Achel mendekatkan wajahnya ke Misya. Matanya mengoreksi, tangannya tertempel di jidat yang sedikit panas. "Pantes aja aneh, panas sih." Achel terkekeh. Tertawa kecil yang membuat Misya sedikit lega. Akhirnya seorang Achel bisa tertawa. Percayalah, Misya merindukan itu.

"Btw, kabar apa?"

Misya menatap Achel dengan raut sedih. Achel semakin bingung dibuatnya. Sesaat kemudian, ledakan Misya membuatnya ingin jantungan.

"AAAAA!! ACHEL TAU GAK SIH!! LUSA BAKAL ADA MURID BARU DARI JAKARTA!!"

Misya melompat-lompat kegirangan. Siswa-siswi yang berlalu-lalang pun geleng-geleng kepala. Biasanya Achel yang gila, lalu mengapa sekarang bergilir Misya? Apa mereka menyiapkan jadwal siapa yang gila hari ini?

Apa Kabar Rindu?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang