Ini cerita di revisi dari awal. Bagi yang sudah pernah baca, mau baca ulang atau enggak terserah. Any sudah pernah bilang ya kalau cerita ini bakal di revisi. Btw, maaf baru bisa sekarang.
-Apa Kabar Rindu?-
"Pertemuan akan berujung perpisahan. Lalu apakah perpisahan akan berujung pertemuan kembali? "
-Fachela Anjasmara
Pesawat yang ditumpangi Nicho telah terbang di atas sana. Achel melambaikan tangan bak anak kecil yang meminta uang pada pesawat.
Senyumnya kecut. Kakinya melangkah lemas. Tangan kanannya memegang boneka Danbo pemberian Nicho saat akan take off.
Kedua kakinya masih memijak bandara. Tempat perpisahan. Mulai detik ini, ia membenci tempat perpisahan ini.
Geva, kerabat Nicho, berlari menghampiri Achel.
"Kau tak apa, Chel?" katanya. Basa-basi. Tatapan Achel bahkan sudah menjelaskan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
"Nicho sudah pergi?" tanya Geva. Lehernya memutar kanan-kiri, mencari kerabatnya yang mungkin sudah di atas awan.
"Achel?" panggil Geva sekali lagi. Gadis itu masih saja diam. Matanya bengkak. Rambutnya acak-acakan. Pasti orang yang berlalu-lalang menganggap gadis cantik itu orang gila.
"Nicho kapan pulang, Gev?" ucap Achel. Tatapannya masih kosong. Tak menatap orang yang diajak bicara satu derajat pun.
"Nicho bahkan baru saja pergi, Chel." Geva menggandeng tangan gadis cantik itu. Membawanya pergi dari sana.
Dan Achel hanya pasrah ke manapun Geva membawanya asal tidak aneh-aneh. Achel sangat percaya dengan Geva.
"Yuk, naik," ajak Geva. Membangunkan lamunan Achel.
Achel melototkan matanya berusaha mengembalikan separuh nyawanya yang memaksa pergi mengikuti bayangan Nicho.
"Bus?"
Geva mengangguk.
Biaya bus lebih murah daripada taxi, maka dari itu Geva memilih mengajak Achel pulang baik bus saja. Sekarang, mereka sedang menaiki bus arah Jepara.
"Udah jangan nangis. Nanti Nicho marah sama aku."
"Kenapa?"
"Karena dikiranya aku yang membuatmu menangis."
"Kan dia yang buat aku nangis, apa dia akan marah sama dirinya sendiri?"
Geva bungkam. Pertanyaan Achel barusan seperti pertanyaan retoris. Tidak ada jawabannya.
"Sudah kuduga kamu akan diam, Gev."
"Pintar sekali menyekakku."
"Kenyataan yang menyekakmu."
Achel perlahan tersenyum sendiri melihat wajah kucel Geva.
"AWAS CHEL!" Geva menarik tubuh Achel hingga wajah mereka hanya berjarak satu jengkal.
"Aduh, maaf mbak, mas, saya nggak sengaja," ucap sosok itu. Sosok bertubuh tinggi dengan paras rupawan membawa ransel besar bagai kura-kura dan dua koper ditangannya. Berat sekali bawaannya, kayak hidup saja.
Achel segera menjauhkan tubuhnya dari Geva. Apa-apaan si Mas tadi, sudah membuatnya mendengar detak jantung Geva. Untung saja tidak terjadi anu.
"Kau tak apa, Chel?"
"Ha? Ah, iya, baik-baik saja."
Sosok yang tadi hampir terjatuh mengenai Achel duduk di belakang mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Apa Kabar Rindu?
Genç Kurgu[PROSES REVISI] #71 Teen fiction (13/08/2018) #1 dearmantan (20/05/2019) Fachela Anjasmara, biasa dipanggil Achel. Ia berpisah dengan mantannya, Nicho, hanya karena mengejar cita-cita masing-masing. Dalam cerita ini, kalian bisa tahu sakitnya menung...
