21. Senja yang Mengembalikanmu

383 22 0
                                        

"Kamu adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Terima kasih telah kembali."

***

"Hai, sobat." Marchel menepuk pelan pundak sosok itu lalu memeluknya.

Sosok itu beralih menatap Achel dengan senyum manisnya. Senyum itu masih sama seperti dulu. Manisnya pun tak berkurang sama sekali.

"Akel, kenalin dia Randi."

Achel geleng-geleng tak percaya. Orang yang selama ini dinantinya datang dengan nama yang berbeda. Apa hanya karena wajah mereka mirip? Achel rasa tidak.

"Hai Achel," sapa sosok itu masih dengan senyumnya.

Achel masih diam tak bergeming. Rasanya ingin ia mencari oksigen bantuan. Entah mengapa ia mendadak berubah seperti patung layaknya maling Kundang yang terkutuk.

"Masih ingat saya?"

Sosok itu mengedipkan sebelah matanya. Jaket biru itu...

Achel merasakan matanya memanas. Satu detik kemudian butir itu menetes. Ia ingin berteriak, namun tak bisa. Entah mengapa tubuhnya seolah-olah mati.

"Fachela, ini gue. Gue pulang."

Achel masih tak berkata-kata.

"Lo nggak lupa kan?"

Achel melirik pakaian yang dikenakan sosok itu. Kaos biru polos yang tertutupi jaket yang sangat dikenalinya. Serta celana jeans yang robek-robek di bagian lutut. Penampilan yang sangat berbeda sebelumnya. Membuat keraguannya semakin besar.

"Ini aku, Achel. Nicho."

Sontak Achel melompat ke pelukan sosok itu. Nicho. Lelaki pujaannya yang ditunggu kepulangannya.

"Achel, gue kangen sama lo."

Air mata gadis itu semakin mengalir deras tanpa henti. Meskipun dalam hatinya ia sedang berbahagia.

Butiran bening pertanda kerinduan. Achel merindukan sosok itu. Ia kira, bertemu dengannya lagi adalah sebuah kemustahilan. Tentang mimpinya setiap malam yang sekarang menjadi nyata.

Pelukan itu cukup lama. Berakhir ketika seseorang berdeham.

"Jadi kalian?" Marchel menatap mereka tak percaya.

Mereka mengangguk. Lalu kembali berpelukan.

"Kamu adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Terima kasih telah kembali."

***

Langit jingga menjadi saksi bisu pertemuan mereka. Pertemuan yang sudah lama diinginkan.

"Masih ingat senja?" Nicho menoleh Achel dengan tatapan teduh.

Achel masih menangis. Hidungnya merah, serta mata yang membengkak. Tangannya menggenggam erat, seolah-olah tak ingin kehilangan sosok itu. Lagi.

Suasana sore hari di pantai cukup ramai. Menyambut kebersamaan mereka kembali. Serta senja yang perlahan sirna. Meninggalkan Achel yang kembali berbahagia.

Mereka duduk di tepi pantai. Di depan ombak yang bergembia kejar-kejaran. Desiran angin menghanyutkan mereka dalam situasi tersebut.

Achel menyandarkan kepalanya, Nicho pun langsung mengelus puncak kepala gadis itu. Hati kecilnya berbisik,

Terima kasih senja...
Engkau telah mengembalikan sosok yang ku kira takkan kembali
Mengembalikanku ke pelukan hangatnya
Terima kasih....
Telah mengembalikan kami dalam keadaan baik-baik saja
Serta dengan perasaan yang sama.

Apa Kabar Rindu?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang