Ini makan malam pertama mereka berdua. So Eun tak mau lagi menghindar karena tak ingin di sindir kembali oleh Kim Bum, namun tetap dengan sikap cueknya. Dan Kim Bum juga masih mempertahankan sikap dinginnya di depan So Eun.
Semua makanan sudah tertata di meja, So Eun dan Kim Bum juga sudah menempati posisi masing-masing yang saling berhadapan. Tapi tak ada pergerakan dari mereka. Sama-sama menunggu siapa yang akan memulai terlebih dahulu.
Kim Bum duduk tenang dengan tangan berlipat di depan dada, punggungnya bersandar pada sandaran kursi. So Eun tak mau ketinggalan dengan melakukan posisi yang sama. Mereka bertahan mempertahankan posisi masing-masing. Mata mereka saling menatap.
Setelah cukup lama saling bertatapan, So Eun bertindak duluan, mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi angkuh. Dan Kim Bum membalas dengan senyum miringnya.
"Aku makan." Kim Bum mendahului So Eun, mulai mengambil piring yang terletak di atas meja.
"Aku juga makan." So Eun membalas dengan angkuhnya, mengambil sendok yang tadi hendak di ambil Kim Bum, padahal tersedia banyak sendok di sana. Saat Kim Bum ingin mengambil gelas, dengan cepat So Eun lebih dulu mengambil gelas yang akan di ambil Kim Bum.
Baiklah, Kim Bum mengalah. Membiarkan So Eun mendahuluinya. Menikmati semua yang terjadi saat ini. Kekanakan, namun ada rasa bahagia di hati Kim Bum.
Mereka menikmati makan malam dengan caranya masing-masing. Kim Bum yang terlihat santai, dan So Eun yang kesal setengah mati melihat kesantaian Kim Bum. Maunya ini anak apa sih?
"Berapa usiamu?"
Pertanyaan dari Kim Bum menghentikan tangan So Eun yang hendak menyendok makanannya.
"Kau selalu mengucapkan selamat ulang tahun setiap tahunnya padaku." Jawaban ketus keluar dari mulut So Eun, membuat Kim Bum sedikit mengernyit mendengarnya.
Itu benar. Setiap tahun Kim Bum akan dengan senang hatinya mengucapkan happy birthday pada So Eun, memberikannya kado yang bahkan sudah membuat Kim Bum pusing jauh hari sebelum hari itu datang, memikirkan hadiah apa yang akan di berikan untuk adik ipar dan calon adik iparnya kala itu.
"Sikapmu tak menunjukkan jika kau telah genap berusia 22 tahun."
"Dan sikapmu juga tidak menunjukkan jika usiamu sudah 28 tahun." Balas So Eun cepat, tak mau kalah.
So Eun marah, Kim Bum menyinggung soal umurnya. Apa maksudnya?
"Bersikaplah lebih dewasa. Sekarang kau sudah menikah dan menjadi seorang istri."
Perkataan Kim Bum barusan sukses membuat So Eun menghentikan makannya. So Eun memberikan tatapan tajamnya pada Kim Bum.
"Aku tak ingin jadi seorang istri, jika kau lupa."
"Tapi itulah faktanya." Jawab Kim Bum dengan tenang menatap So Eun.
"Dan aku benci fakta itu."
Selesai. So Eun bangkit dan pergi dari sana. Meninggalkan Kim Bum dan makanannya yang baru di makan setengahnya.
So Eun keluar rumah lewat pintu samping, berjalan ke arah belakang sampai tiba di dekat kolam renang, dan duduk diam di sana. Wajah marahnya begitu ketara. Dia marah pada Kim Bum yang mengungkit tentang statusnya. Dia sudah tau tentang itu, jadi tak perlu lagi di ingatkan.
Di meja makan Kim Bum juga hanya diam, tak melakukan apapun. Juga tak melanjutkan makannya yang belum selesai.
Tak jauh dari sana ahjumna Song melihat semua yang terjadi. Merasa heran melihat tuan dan nyonyanya, tapi ia bisa apa? Ia hanya seorang pelayan yang tak punya hak untuk ikut campur urusan majikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE EXAM OF LOVE (Complete)
FanfictionKesedihan akan kepergian sang kakak membuat So Eun terpuruk. Akan tetapi kesedihan itu semakin bertambah dikala orang tuanya memintanya untuk menikah dengan Kim Bum, suami kakaknya. Padahal orang tuanya tau dia memiliki kekasih yang masih mempunyai...
