Park Nara, atau mungkin bisa di bilang Kwon Nara. Gadis dengan umur yang hampir 6 tahun beberapa bulan yang akan datang. Gadis periang yang memiliki tingkat kecerewetan yang cukup tinggi. Gadis yang memiliki seribu ekspresi.
Dan gadis yang mempertemukan kedua orang tuanya dan menjadi dewa cinta bagi keduanya.
Cukup sulit untuk mendeskripsikan gadis itu, karena tak akan habis kalimat yang harus tercurah untuk menggambarkan anak sulung Park Sandara tersebut. Namun jika satu kata dapat mewakili. "Menggemaskan" kata itu dapat mewakili setidaknya untuk satu sifat dan, "Luar Biasa" untuk keseluruhannya.
Ya, gadis itu sangat luar biasa. Ia memiliki sebuah aura yang dapat membuatmu tenang. Ia memiliki aura yang dapat membuatmu merasa nyaman dan begitu mencintainya. Kau akan dapat mencintai gadis ini bahkan saat pertama kali kau menatap wajah cantiknya.
Wajah berbentuk bulat, dengan mata berbentuk almond dengan warna coklat tua khas ibunya, jangan lupakan bibir mungil yang selalu mengerucut jika keinginannya tak tersampaikan atau saat merajuk pada ayahnya. Hidung mancungnya yang akan memerah jika ia kedinginan, dan rambutnya yang lembut.
Bagaimana ia tak manja jika kakeknya saja tak bisa mengatakan 'tidak' pada setiap keinginannya, neneknya yang selalu menuruti keinginannya, ayahnya yang selalu kalah jika ia mulai mengerucutkan bibirnya atau membendung air mata, Sanghyun dan Seungri Uncle nya yang selalu mengatakan 'ya' dan para Imo nya yang tak pernah absen untuk menuruti keinginan gadis kecil itu.
Mungkin hanya ibunya yang dapat tahan pada setiap rajukan atau keinginan gadis itu. Namun ibunya pun akan sangat lemah jika gadis itu sudah menangis. Dan sayangnya gadis itu sangat pandai berakting layaknya para aktris di drama yang pernah ia lihat bersama Bom Imo nya dulu. Karena sekarang, ibu dan ayahnya melarang ia untuk menonton acara TV lain selain Kartun, begitu membosankan.
Jiyong berada di dalam kantornya saat ketukan pintu menginterupsinya. Ia menyimpan berkasnya diatas meja sebelum meminta siapapun itu untuk masuk. Kepala kecil menyembul di sela pintu meminta izin agar ia dapat masuk.
Dengan senyum hangat pria itu mengizinkan gadis favoritnya masuk. "Apa yang kau inginkan, Baby?" tanya Jiyong, pria itu melirik jam di meja kerjanya, "Bukankah ini sudah lewat dari jam malammu?" tanya pria itu lagi.
Gadis kecil itu memanjat naik ke pangkuan Jiyong dan duduk disana. "Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Nara, Jiyong mengerutkan keningnya, "Apakah aku akan memiliki seorang adik?" tanya gadis itu dengan alis berkerut.
Jiyong tersenyum hangat, apakah kini anak gadisnya menginginkan seorang adik? "Kau akan mendapatkannya nanti" ucap Jiyong.
Nara menganggukkan kepalanya mengerti, "Apakah aku boleh memakan candy dari Seungri Uncle, Appa?" tanya Nara dengan mata berkilau. "Hanya satu candy, bolehkah?" tanya Nara mengacungkan satu jarinya ke hadapan mereka.
"Jangan termakan oleh rayuannya, ia telah menghabiskan hampir seluruh toples cookies pemberian Chaerin" ucap Dara yang masuk dengan piyama gadis itu.
"Kau menghabiskan semua itu? Sendiri?" tanya Jiyong tidak percaya.
Nara hanya mengerucutkan bibirnya, "Jangan berikan tampangmu itu, Nona kecil. Turun dari pangkuan ayahmu dan ikut denganku, ia bahkan lari saat aku memintanya untuk menggosok gigi" ucap Dara mengulurkan tangannya.
"Appa" panggil gadis itu kini menarik baju Jiyong, pria itu melirik anak gadisnya sebelum melirik istrinya.
"Ini waktunya kau tidur, Nona kecil. Ikut dengan ibumu dan gosok gigimu sebelum tidur" ucap Jiyong mengusap rambut anak gadisnya.
"Aku sudah menggosok gigiku" ucap gadis itu memainkan ujung kaos yang Jiyong gunakan.
"Kapan kau mencuci mulutmu?" tanya Dara, gadis kecil itu meliriknya sebelum kembali pada ujung kaos ayahnya.
"Saat aku mandi sore tadi" gumam Nara, "Aku bahkan mencucinya dua kali" ucap gadis itu mengacungkan dua jarinya.
"Dan kau mandi sore sebelum makan malam?" tanya Jiyong, Nara menatapnya sebelum mengangguk, "Sisa makan malam yang kita makan tadi masih ada di gigimu. Kau harus membersihkan dan membuangnya agar kau tak sakit gigi" ucap Jiyong mencubit hidung mungil gadisnya.
"Bagaimana jika, aku akan menggosok gigi jika aku makan candy terlebih dahulu?" tawar gadis itu, Jiyong tertawa pelan, melirik istrinya yang memutar matanya tak percaya.
"Tak ada penawaran Nona, turun dari pangkuan ayahmu dan ikut denganku sekarang" ucap Dara beranjak dari duduknya dan mendekati mereka.
"Aku ingin bersama Appa" ucap gadis itu kini memeluk leher ayahnya. Membuat Jiyong tertawa dan Dara kembali memutar matanya. Pria itu memeluk tubuh mungil di pelukannya dan beranjak dari tempatnya.
"Kita langsung gosok gigi dan pergi tidur. Kau sudah terlalu banyak memakan makanan manis, kau ingin gigimu menjadi hilang huh?" tanya Jiyong dengan tangan di punggung gadis itu dan lengan gadis itu di lehernya.
Nara menggeleng kepalanya tanda ia tak ingin giginya hilang. Jiyong berjalan mendekati Dara dan mengambil piyama tidur anak gadisnya.
"Aku akan mengambil kimbap yang tadi aku buat" ucap Dara saat mereka bertemu, Jiyong menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi.
Dara berjalan keluar dan mengambil kimbap yang tadi dibuatnya sebelum kembali ke ruang kerja. Ia masih harus mengerjakan laporan bulanan untuk bagian Fashion karena mereka mengalami keterlambatan pelaporan.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka menampilkan prianya yang masuk dengan dua gelas mengepul di tangannya. Senyum Sandara tercetak begitu saja saat ia mengingat kesalahannya.
"Aku mengenalmu kini" ucap pria itu menyimpan satu gelas berisi greentea di meja gadisnya. Gadis itu selalu lupa untuk membawa minuman setiap mereka bekerja lembur seperti saat ini.
"Terimakasih" ucap gadis itu. Jiyong hanya bergumam sebagai jawaban. "Apakah Nara sudah tidur?" tanya Dara.
Jiyong meliriknya dari meja kerjanya dan mengangguk, "Ia begitu mengagumkan" ucap pria itu, "Ah Nara bertanya tentang adik kecil padaku. Sepertinya ia sudah siap untuk memiliki adik kecil sekarang" ucap pria itu.
"Benarkah?" tanya Dara, Jiyong meliriknya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Apakah kita harus membuatnya dari sekarang?" tanya Jiyong sebelum mengerlingkan matanya.
Dara tertawa kecil dengan rona merah di pipinya, "Suit yourself, sir" ucap gadis itu sebelum kembali ke pekerjaannya.
Ada keheningan diantara mereka. Hanya suara dari kertas atau suara keyboard yang ditekan oleh Dara yang terdengar. Dan setelah beberapa saat, ia merasa kehadiran seseorang dibelakangnya.
Ia tahu bahwa suaminya mengamatinya sejak tadi, tapi ia tak ingin mengalihkan fokusnya dari pekerjaannya yang baru sampai di mejanya tadi pagi.
"Bagaimaa jika sekarang kita buat adik kecil untuk Nara?" tanya Jiyong yang cukup berhasil mengejutkan Dara. Gadis itu bahkan terlonjak dari tempatnya. Jiyong memutarkan kursi gadis itu agar berhadapan dengannya.
"Kau mengejutkanku, Ji. Dan kau harus berhenti melakukan itu sebelum kau membuatku memiliki penyakit jantung" ucap Dara mengusap dadanya yang berdebar.
"Maafkan aku, aku fikir kau menyadari keberadaanku" ucap pria itu dengan tawa renyahnya.
Dara memutar matanya, "Aku masih harus mengerjakan pekerjaanku. Kau bisa menungguku di kamar" ucap Dara memutarkan kursinya untuk kembali pada pekerjaannya.
"Kau fikir aku akan melakukan itu? Ikut aku atau aku angkat kau dari sini. Aku tidak masalah jika Nara terbangun dan mendengar suara desahanmu" ucap Jiyong kembali memutarkan kursi Dara dan mengunci gadis itu dihadapannya.
"YA! Jaga bicaramu, Tuan" ucap Dara, "Aku bahkan belum menyentuh kimbap dan hanya meneguk setengah dari satu gelas greentea ku. Bolehkan aku menghabiskan greentea ku terlebih dahulu?" tanya Dara
Jiyong menganggukkan kepalanya dengan tawa renyah keluar dari bibirnya, "Aku akan menyimpan kimbap buatanmu di kulkas agar kau bisa menghangatkannya besok" Dara menganggukkan kepalanya.
---

KAMU SEDANG MEMBACA
After Story : 5 Years Ago
FanfictionApa yang terjadi setelah dua orang manusia menikah? Tentu memiliki keturunan dan hidup bahagia selamanya. Itu merupakan pemikiran setiap orang setelah selesai membaca sebuah cerita dengan akhir yang bahagia. Apakah kisah mereka selanjutnya tak menar...