Yongji's First Word

577 79 12
                                        

Usia Yongji sudah lewat 7 bulan saat bayi kecil itu mampu menanggung berat badannya dengan dua kakinya sendiri. Dan pria mungil itu kini telah bisa berdiri meskipun masih bertumpu pada sebuah benda seperti meja, kursi atau mungkin kakak perempuannya.

"Yongji baby" panggil Nara saat gadis itu baru pulang sekolah. "Aaaaaa" Yongji melepaskan tangannya dan merangkak ke arah kakak perempuannya. "Merindukan Nara noona, eh?" tanya Nara

"Ganti bajumu dulu baby, lalu kau boleh bermain dengan baby Yongji. Kau tak ada PR?" tanya Dara yang datang dari dapur dengan mangkuk kecil ditangannya.

"Aku memiliki PR matematika, aku baru mengerjakannya setengah saat dalam perjalanan kemari. Appa hanya mengantarku hingga depan, ia tidak akan makan dengan kita karena memiliki rapat dengan salah satu temannya" ucap Nara dengan bibir terpaut.

"Tak apa, masih ada eomma dan baby Yongji, dan kita bisa kerjakan tugasmu nanti malam" ucap Dara dengan senyum keibuannya. Nara tersenyum lalu mengangguk. Gadis kecil itu berlari ke arah kamarnya dan berganti pakaian. Setelah membersihkan tubuhnya gadis itu kembali ke ruang tengah.

"Ayo makan siang sebelum kalian tidur siang" ucap Dara mengangkat bayi kecilnya yang kini memainkan tangannya.

Mereka makan siang bersama dengan Yongji yang disuapi oleh Dara. Gadis kecil itu akan mengajak adik bayinya berbicara dan bercanda dengan ia yang akan bercerita mengenai harinya disekolah.

Setelah selesai makan siang, mereka menggosok gigi dan pergi ke kamar untuk tidur siang. Nara mengganti bajunya dan segera merebahkan dirinya di samping baby Yongji yang berada di tengah kasur.

Dara membacakan cerita untuk mereka berdua, saat cerita habis. Keduanya telah berada di alam mimpi masing-masing dengan tangan Nara yang memeluk tubuh mungil baby Yongji. Sedangkan baby Yongji tidur dengan terlentang. Dara keluar dari ruangan itu dengan hati-hati, agar tidak membangunkan keduanya.

---

Ia melirik jam disamping meja kerjanya lalu menutup buku agenda di mejanya dan pergi ke kamar tidur siang kedua malaikatnya. Dari luar ia bisa mendengar Nara yang mengoceh dengan suara Yongji yang masih terdengar tak begitu jelas.

Saat pintu terbuka, Nara dan Yongji melirik pintu yang terbuka dan Yongji yang pertama kali bersuara. "Aaaaa"

"Eomma!! Yongji baby tak mau mendengarku! Tadi dia mengucapkan kata 'Na-na', tapi saat aku memintanya untuk mengulang ia hanya mengucapkan kata 'aaa' seperti yang ia ucapkan padamu" adu Nara dengan wajah yang ia tekuk.

"Kau bisa memanggil noona mu baby?" tanya Dara pada bayi yang kini berada di gendongannya.

"Na-na" itu suara Yongji dengan suara bersemangat

"Oh astaga, kau benar-benar mengucapkannya baby?" tanya Dara bersemangat

"Benarkan, ia memanggilku eomma!!" ucap Nara bahagia, "Katakan lagi baby" pinta Nara

"Na-na-na" ulang baby Yongji lalu tertawa saat kakak perempuannya tertawa. Dara tak bisa menghentikan air matanya, "Mmaaa" air mata itu semakin deras saat suara anak lelakinya memanggilnya.

"Oh astaga kau benar-benar mengucapkannya baby? Aku bangga padamu" ucap Dara mencium pipi Yongji. Bayi mungil itu tertawa bahagia menunjukkan dua gigi atas bawah yang lucu.

"Bolehkah aku menghubungi appa? Aku ingin appa tau berita ini!!!" ucap Nara bersemangat.

"Jangan dulu baby, kita beri appa kejutan, eoh" ucap Dara dengan senyum diwajahnya.

"Ppaa" ucap baby Yongji yang kembali membuat hati Dara berdesir. Oh astaga ini benar-benar waktu yang sangat berharga!

---

Jiyong sampai di rumahnya tepat pukul 8 malam. Penampilan pria itu kusut akibat perusahaannya yang tengah mengalami masalah keuangan. Tadi siang ia mendapat panggilan dadakan untuk hadir di rapat dadakan bersama hampir semua investor dari luar negeri. Dan penyebab diadakannya rapat dadakan itu adalah ada kekeliruan di bagian keuangan.

Setelah ia menyelesaikan rapat darurat yang hanya 30 menit itu, ia meminta kepada para investor untuk percaya padanya. Ia segera menghubungi Dara dan meminta agar gadis itu mencari penyebab dari kesalahan di bagian keuangan. Setelah mendapatkan hasil dari Dara satu jam setelahnya, ia kembali mengadakan rapat dan meluruskan dimana kesalahannya terjadi.

Ia membuka pintu rumahnya, "Aku pulang" ucapnya tak begitu keras.

"Appa" teriak malaikat kecilnya itu membuatnya kembali tersenyum. Seperti sebuah vitamin, gadis kecil itu mampu membuatnya melupakan masalah kantor yang membuat otaknya mengepul. "Aku memiliki kejutan untukmu" ucap Nara menarik tangan Jiyong untuk mengikutinya.

Mereka memasuki ruang keluarga dengan Dara yang bermain bersama baby Yongji, "Yongji baby, Appa pulang" ucap Nara bersemangat.

"Ppaaa" teriak baby Yongji sebelum bayi mungil itu merangkak ke arah ayahnya.

Jiyong diam ditempat saat suara baby Yongji membelai gendang telinganya. Apakah bayi kecilnya itu memanggilnya ppa? Apakah bayi mungilnya itu mulai dapat berbicara? Astaga ini berita besar!!!

"Apa yang baru saja kau ucapkan baby?" tanya Jiyong mengangkat Yongji sehingga bayi itu berada di depan wajahnya.

"Ppaaaa!!" bayi mungil itu kembali berbicara dengan suara yang lebih keras dan wajah yang bersinar.

"Astaga kau benar-benar mengucapkannya?" tanya Jiyong, ia lalu melirik istrinya yang mengangguk dengan senyuman diwajahnya. "Aku sangat bangga padamu baby" ucap Jiyong sebelum memeluk tubuh mungil itu. Yongji tertawa dengan tangan yang melingkar di leher ayahnya.

"Mandilah terlebih dahulu, kita makan malam setelah kau selesai mandi" ucap Dara mendekati suaminya. Jiyong memberikan Yongji pada Dara dan memberi kecupan di bibir wanita itu.

Ia lalu mencium pipi Yongji dan beralih pada Nara yang berdiri disampingnya, memperhatikan mereka dengan manik yang masih berseri, pria itu memberikan satu kecupan di pipi Nara sebelum pergi ke kamarnya dilantai atas.

---

Jiyong memasuki kamarnya setelah membuat anak gadisnya terlelap dalam mimpi. Dara masih berada di kamar Yongji, memberi asi bayi mungil itu sebelum waktunya tidur. Dara memasuki kamarnya saat Jiyong berada di kamar mandi.

"Yongji sudah tidur?" tanya Jiyong saat Dara memasuki kamar mandi dengan gaun tidur ditangannya.

"Begitulah" ucap Dara sebelum membuka bajunya dan celananya. Jiyong berbalik untuk melihat istrinya itu berganti pakaian. "Ada apa?" tanya Dara saat Jiyong memperhatikannya dengan mata yang tak biasa.

Jiyong mendekati istrinya lalu memeluknya, "Aku merindukanmu" ucap Jiyong dengan suara serak. Jantung Dara mencelos saat suara sexy itu menyambangi telinganya.

Oh God! Kapan terakhir kali mereka berhubungan intim? "I want you baby" ucap Jiyong sebelum mencium leher Dara hingga dagu wanita itu.

"Setelah ritual sebelum tidur, kau bisa memilikiku seutuhnya" ucap Dara mendorong Jiyong perlahan.

"Kau janji?" tanya Jiyong menatap manik kecoklatan itu dengan penuh gairah.

"I promise, baby" ucap Dara sebelum mencium suaminya.

---

After Story : 5 Years AgoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang