Hari ini merupakan hari yang sangat ditunggu oleh Raline dan Seungri. Karena hari ini adalah hari dimana mereka akan membuka lembaran baru sebagai pasangan suami istri. Pria itu jatuh cinta pada seorang gadis yang bahkan baru dikenalnya 2 tahun yang lalu.
Nara menatap pamannya yang berdiri di depan altar bersama wanita yang ia cintai. Ia lalu melirik ibu dan ayahnya yang tersenyum bahagia. Ia mengembangkan senyumnya ikut berbahagia. Meskipun ia sedikit kecewa karena dirinya tak lagi menjadi gadis penabur bunga, tapi setidaknya kedua orang tua dan juga pamannya bahagia.
Acara yang membuatnya mengantuk itu akhirnya selesai setelah seorang pria tua yang berdiri di hadapan pamannya itu berkata sesuatu dan Uncle-nya itu mencium Aunti-nya. Kedua orang tuanya berdiri sambil bertepuk tangan saat Uncle-nya itu membawa Aunti melewati para tamu.
Dan kini mereka tengah berada di pesisir pantai. Merayakan sebuah pesta yang tak begitu ia kenal. Kedua orang tuanya tak pernah lepas dari satu sama lain. Dan ia tak pernah lepas dari genggaman ayahnya. Terkadang ia akan meminta ayahnya itu untuk menggendongnya.
"Eomma aku ingin itu" ucap Nara menunjuk sebuah kue diatas sebuah meja. Dara melirik anak gadisnya sebelum membawa gadis itu ke meja penuh makanan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Dara
"Bolehkah aku mengambil satu untuk semua jenis makanan yang ada disini?" tanya Nara,
Dara tertawa kecil sebelum menggeleng, Jiyong datang dengan lengan yang langsung menyentuh punggung Dara. Wanita itu melirik suaminya lalu tersenyum, "Ada apa?" tanya Jiyong
"Anak gadismu sepertinya kelaparan" Nara memberengut dengan wajah menunduk.
"Acaranya sangat padat dan aku lapar" gumam gadis itu sebelum memandang ayahnya. "Aku ingin makan" ucap Nara
Jiyong tertawa kecil lalu mengangkat anak gadisnya, "Apa yang kau inginkan, kau boleh mengambilnya" ucap Jiyong
"Bolehkah aku mencicipi semuanya?" tanya Nara dengan manik mengkilap.
Jiyong kembali tertawa sebelum mengacak rambut Nara, "Sure baby, kau bisa mengambilnya. Tapi kau tak bisa mengambil makanan itu sekaligus. Itu tidak sopan" ucap Jiyong lembut.
Nara menganggukkan kepalanya, Dara mengambil beberapa cemilan untuknya dan Nara sebelum ketiganya mencari sebuah tempat duduk dan melahap makanan yang Dara bawa.
"Appa" panggil Nara setelah gadis itu memperhatikan rangkaian acara yang cukup meriah.
"Ne?" Jiyong melirik anak gadisnya yang kini menatapnya.
"Mengapa kau tak menikahi Eomma di luar negeri seperti Seungri uncle?" tanya Nara, Jiyong melirik istrinya sebelum tertawa canggung. Ia tak tahu jika anak gadisnya akan bertanya seperti itu.
"Baby" Nara melirik ibunya lalu mengerjap, "Kami tak menikah diluar negeri karena menurut kami, negeri kita memiliki banyak sejarah. Aku dan Appa-mu bertemu di Seoul, kami berasal dari Korea Selatan, dan kau dilahirkan di Seoul. Itu sudah cukup menjadi alasan mengapa kami tak menikah di luar negeri" jelas Dara.
"Lalu mengapa Seungri Uncle menikah di ... In ... Din ... dimana kita sekarang?" tanya Nara setelah ia menyerah untuk menyebutkan negara mana dirinya berada sekarang.
"Indonesia baby, kita berada di Indonesia sekarang" jawab Jiyong, "Dan untuk menjawab pertanyaanmu, Raline Aunti berasal dari Indonesia, Raline Aunti dilahirkan di Yogyakarta dan mereka bertemu di Indonesia saat Seungri Uncle membuka cabang restaurantnya di sini" jelas Jiyong
Nara menganggukkan kepalanya mengerti, "Apakah kau menikmati liburanmu baby?" tanya Dara setelah dirasa Nara tak akan kembali bertanya.
"Aku sangat menikmatinya, kapan kita pulang?" tanya Nara
"Besok siang" jawab Jiyong, ekspresi semangat Nara berubah seketika kala mendengar jawaban yang diberikan ayahnya, "Ada apa dengan ekspresimu?" tanya Jiyong dengan tawa ringan
"Aku masih ingin berada disini. Apakah kita benar-benar berada disini satu minggu?" tanya Nara dengan wajah yang masih memberengut
"Tentu saja, ini adalah hari sabtu dan besok kita harus pulang. Aku masih harus bekerja baby" ucap Jiyong mengusap rambut Nara.
"Kita bisa kembali kemari setelah Yongji baby lahir" ucap Dara, Nara meliriknya dengan alis berkerut, "Adik bayimu, baby" lanjut Dara menjawab pertanyaan tak terucap Nara.
"Yongji" gumam Nara sebelum wajahnya kembali bersemangat, "Namamu Jiyong dan adik bayiku Yongji. Kau membalik nama Appa!!!" ucap Nara dengan semangat.
Kedua orang tuanya tertawa mendengar seruan Nara. "Kau menyukainya?" tanya Dara
Nara mengangguk semangat, "Aku sangat menyukainya, Appa" ucap Nara sebelum gadis itu turun dari pangkuan ayahnya dan berdiri di hadapan perut Dara, "Annyeong baby Yongji, aku noona-mu, Kwon Nara. Cepatlah keluar agar kita bisa bermain" ucap Nara
Keduanya menatap Nara dengan bangga, Dara bersyukur anak gadisnya tak lagi merasa tersaingi dengan hadirnya adik bayi yang bahkan masih berada di kandungannya.
"Eomma, mengapa adik bayi sangat lama keluar dari perutmu? Apakah disana sangat nyaman?" tanya Nara kini menatap ibunya dengan tangan yang masih berada di perut ibunya. Gadis itu mengusap perut ibunya dan sesekali menggaruknya.
"Karena adik bayi masih harus tumbuh dengan baik sebelum keluar. Dan tempat yang aman adalah di dalam perut Eomma" jelas Dara, ia berharap anak gadisnya akan mengerti apa yang ia ucapkan barusan.
"Seperti ayam? Anak ayam harus tetap di telur sebelum ia menetas dan hidup dengan bebas" ucap Nara dengan mata bulatnya.
Dara tersenyum bangga. Anak gadisnya memang cerdas dan ia sangat bangga dengan kecerdasan anak gadisnya itu. "Kau benar baby, aku sangat bangga padamu" ucap Dara sebelum memberi kecupan di pipi anak gadisnya itu.
Jiyong menatap keduanya dengan perasaan hangat. Ia sangat bersyukur bisa bertemu Nara di hari pertama ia masuk ke kantor. Dan ia bersyukur saat Nara memilihnya di banding pria pilihan ibunya.
Dan ucapan Kiko beberapa hari yang lalu kembali terngiang. Ia tak bisa hanya diam, ia harus mulai siaga meskipun ia tak begitu yakin apa yang akan wanita itu lakukan.
Dara menyentuh tangan suaminya yang terlihat tegang. Jiyong bahkan terkejut saat jemari Dara menyentuh lengannya. "Kau baik-baik saja?" tanya Dara, Nara menatap ayahnya.
Jiyong memberikan sebuah senyuman lalu mengangguk, "Jangan terlalu di pikirkan, semuanya akan baik-baik saja" ucap gadis itu.
Jiyong menghela nafas berat sebelum mengambil anak gadisnya dan memeluk tubuh mungil itu erat. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Ia berharap Kiko tak benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya.
Seungri menghampirinya dengan Raline yang berada di sampingnya. Kedua pasangan baru itu terlihat sangat bahagia dan Jiyong tak ingin merusak momen mereka mau tak mau harus tersenyum bahagia.
"Selamat atas pernikahanmu, Ri-ah" ucap Jiyong memberi selamat pada pasangan yang baru memiliki waktu untuk menghampirinya.
"Terimakasih telah hadir, Hyeong" ucap Seungri, "Hello baby, bagaimana Indonesia?" tanya Seungri pada Nara.
Gadis itu memberikan dua jempolnya dengan senyum lebar, "Makanan disini sangat lezat, aku menyukai sate ayam! Dan salad dengan bumbu kacang" ucap Nara
"Aku senang kau menyukainya baby. Beberapa makanan disini memang berasal dari makanan khas Indonesia di beberapa tempat" ucap Raline dengan senyum hangatnya.
"Indonesian Food is jjang!" ucap Nara menunjukkan dua jempolnya dan sebuah senyum lebar.
Keempat orang dewasa itu tertawa melihat respon Nara pada makanan yang disediakan di pesta resepsi pernikahan Seungri itu. Mereka berbincang untuk beberapa saat sebelum Seungri dan Raline melanjutkan kunjungannya pada tamu yang lain.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
After Story : 5 Years Ago
FanfictionApa yang terjadi setelah dua orang manusia menikah? Tentu memiliki keturunan dan hidup bahagia selamanya. Itu merupakan pemikiran setiap orang setelah selesai membaca sebuah cerita dengan akhir yang bahagia. Apakah kisah mereka selanjutnya tak menar...
