Kaichou

2.6K 263 170
                                        

"Katakan, sebenarnya sihir apa yang sudah kau lakukan padaku? Kenapa aku menyukaimu?"

- Eza Harudi -

🍀

Senyuman gadis itu tidak bisa Eza lupakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Senyuman gadis itu tidak bisa Eza lupakan. Setiap saat mampir di otaknya, sekedar lewat atau bermain-main cukup lama.

Tanpa sadar bibir Eza melengkung ke atas begitu ingatannya kembali pada kalimat unik si gadis, 'Seribu kurang seratus, bukan seribu namanya.' Eza cekikikan di tempatnya bila ingat hal tersebut.

Gadis itu, yang membuatnya mati gaya di tengah rapat OSIS untuk acara Festival Musik sekolah yang akan diadakan tiga minggu lagi.

Beberapa anggota OSIS yang ikut rapat memperhatikan Eza, heran. Butuh sekian menit sampai Eza sadar telah jadi pusat perhatian karena tersenyum sendiri. Dhani menghentikan lamunan dengan menyenggol lengan Eza.

"Hei boy, kebangetan lu. Orang lagi rapat malah cekikikan sendiri. Mikirin apa sih, oy?" celetuk Dhani.

Sedari pagi Eza sering tidak konsentrasi, otak dan raganya tidak sejalan. Dhani berbaik hati menggantikan Eza memimpin rapat. Ia wakil yang sempurna.

"Sori, sori... lanjut Dhan!"

Eza pura-pura serius dengan mengamati daftar peserta yang siap mengisi acara Festival Musik. Ada sederet nama di kertas. Ia berlagak membacanya.

Dhani menggeleng, bola matanya berputar, masa bodoh dengan ketuanya yang mulai sinting.

Tiba-tiba dahi Eza mengerut begitu melihat tulisan di selembar kertas rundown acara.

"Eh, Dhan... Bagian opening udah ada yang isi?" tanya Eza memotong presentasi rapat yang dipimpin Dhani.

"Iya, pilihan pak Irdan. Katanya dia bisa nyanyi, suaranya bagus."

Pak Irdan adalah guru kelas musik, sekaligus pembimbing OSIS. Festival Musik adalah tanggung jawabnya juga. Eza sempat berdiskusi perihal posisi opening yang masih kosong. Rupanya beliau mencarikan solusi dengan menunjuk satu nama.

Feya Ryuuna. Kelas X-3.

Eza merasa tak asing dengan nama itu. Dahinya mengerut, tatapannya mengawang-awang berusaha ingat. Sampai akhirnya Dhani bantu mengingatkan.

"Masa kagak tahu, dia si murid baru dari Jepang itu," jelas Dhani.

Demi apa, Eza senang luar biasa. Seperti anak kecil disodorkan eskrim gratis. Bola matanya membulat, bibir mengulum senyum simpul, serta dada berdebar tak karuan.

"Ooh, terus... kapan technical meeting sama para pengisi acara?" Kentara sekali Eza menantikan pertemuan dengan si gadis jepang.

F. E. A. R  [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang