The Truth [END]

6.6K 855 108
                                        

wheew... Gak terasa yah guys? Diposting 10 september 2017, dan sekarang udah ending aja :')

Kali ini minta full vote nya boleh kan?

.

How Can I Say: END

.

.

Drrrt

Drrrt

IPhone yang tergeletak di dashboard itu terus bergetar sedari tadi, pertanda ada panggilan masuk. Seorang gadis menyandarkan kepalanya pada jendela, merasa muak dengan segala hal yang datang secara bertubi-tubi.

Entah itu ponselnya ataupun ponsel sang manajer, sedari tadi kedua benda itu terus berdering memenuhi mobil, membuat kepala sang gadis semakin pusing. Maka dari itu si manajer mengaktifkan mode getar, masih mengganggu namun tak se-parah tadi.

"Oppa, kenapa tak segera angkat saja teleponnya. Pasti dari agensi kan?"

Pria yang sedari tadi hanya diam sambil menyandarkan keningnya di atas kemudi itu menghela nafas, maniknya menatap permata bambi Lisa dari cermin mobil. Ia dapat melihatnya, betapa frustasi gadis itu saat ini.

"Jangan perdulikan aku, cukup tenangkan dirimu"

"Ani, oppa bisa  dapat masalah dari agensi karenaku"

Kekeham samar sang manajer membuat Lisa mengernyit, saat itu manajer oppa berbalik dan tersenyum kearahnya.

"Sajangnim boleh marah besar padaku, aku bahkan tak apa jika mendapatkan lemparan sendal bertubi-tubi dari beliau. Perusahaan boleh memecatku, toh aku dapat menemukan pekerjaan lain dan melanjutkan hidupku setelahnya"

Senyuman sang manajer lenyap, ia menghela nafas.

"Tapi aku tak bisa membiarkanmu melakukan hal yang kau benci, mengambil jalan yang salah dan  menjadi hal yang kau sesali kelak di kemudian hari. Aku tak bisa melihatmu membuat keputusan gegabah yang akan menghancurkan hidupmu"

"Oppa..."

"Kau idol, tapi kau bukan robot. Kau juga manusia Lisa-ya, kau berhak untuk bahagia"

Saat itu manik sang gadis yang memanas tak lagi dapat membendung perasaannya, pada akhirnya cairan itu tumpah. Membasahi sisi wajahnya, meluapkan segala emosi dan perasaan yang memenuhi sesak hatinya.

Dan ponsel sang manajer kembali bergetar untuk kesekian kalinya. Ia melirik wajah artistnya dari cermin, kemudian mengatur nafas sebelum mengangkat panggilan tersebut.

"Ye sajangnim..."

Untuk beberapa saat, si manajer kembali melirik Lisa sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Kami masih dijalan, terjebak kemacetan. Lalu lintas cukup padat, dan kami tak dapat menarik perhatian lebih dari ini jika harus membuat Lisa naik taxi ke perusahaan"

Bohong sekali, padahal saat ini mereka masih berada di rest area jalan tol. Entah apa yang dikatakan oleh perusahaan pada si manajer, punggungnya terlihat menegang entah karena apa. Hingga ponselnya dimatikan, Lisa dapat melihat manajernya beberapa kali mengatur nafas berusaha menenangkan pikiran.

How Can I Say? [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang