Clakk
Lisa meneguk minuman isotoniknya, manik sang gadis mengawasi tubuh pemuda yang berdiri membelakanginya. Taeyong merentangkan tangan, merasakan hembusan angin yang menghujam tubuhnya.
Saat ini keduanya sedang berada di atap gedung studio.
Pemuda itu tersenyum senang, maniknya terbuka. Ada sebuah arti dalam tatapan yang mencerminkan lautan tersebut, pemuda Lee menyeringai tanpa mengubah posisinya.
"Bukankah ada yang ingin kau tanyakan?"
"Siapa kau sebenarnya"
Lisa telah meneguk habis minumannya, ia mencengkeram kaleng kosong itu hingga penyok. Tatapannya menajam, teringat perkataan Jaehyun sebelumnya. Namun ia penasaran, sosok didepannya benar-benar laksana samudera. Misterius, unpredictable.
"Sebenarnya apa maksud dari sikapmu selama ini. Kau awalnya menyambutku dengan ramah, lalu waktu itu kau membentakku dan mengabaikan sapaanku. Sekarang tiba-tiba saja-"
Gadis itu menghela nafas. Pemuda yang masih membelakanginya terkekeh pelan, ia berbalik. Menatapnya dengan tatapan dan seringai yang sama dengan saat keduanya bertemu di depan toilet kala itu.
Mengerikan.
Pemuda itu sampai dihadapan Lisa, mencengkeram kuat kedua bahunya hingga si gadis meringis.
"Aku... Manusia... Hanya manusia, yang bersikap selayaknya manusia..."
Suaranya dalam dan menggema, seolah keluar dari palung laut terdalam samudra. Perkataan Taeyong begitu absurd, meskipun sang gadis tau ada makna yang tak ia pahami dalam kalimat leader NCT tersebut.
Tangan kanannya terangkat, menutupi wajah sebelah kanannya. Ia tersenyum dengan hanya wajah sebelah kirinya yang terlihat, senyuman hangat yang begitu ramah. Mengingatkan Lisa akan pertemuan pertama keduanya.
"Setiap manusia memiliki topeng, yang akan menutupi jati diri mereka yang sesungguhnya. Entah untuk melindungi diri, image, ataupun menjaga hal-hal yang telah mereka miliki. Entah itu baik-"
Tangannya bergeser, kini menutupi wajah sebelah kirinya. Wajah sebelah kanannya menampilkan seringai meremehkan dengan tatapan tajam yang begitu pongah, seperti beberapa detik lalu pemuda itu menatapnya.
"-ataupun buruk. Tapi semua itu tergantung orang yang menilai, apakah topeng mereka baik atau buruk. Karena bagi si manusia, semua yang mereka lakukan itu baik, dan benar. Karena semua demi kepentingan diri mereka sendiri"
Kini tangannya menepuk kepala Lisa, pemuda itu menunduk mensejajarkan tinggi keduanya. Ditatapnya manik sang gadis dalam, Taeyong tersenyum lembut dengan tatapan yang berbahaya.
"Aku mengajarimu hidup di dalam dunia hiburan ini, jika bukan aku akan ada orang lain yang memperlakukanmu seperti itu. Awalnya kau akam dibuainya dengan topeng yang baik, hingga terjerat dan terjerembab. Setelahnya kau akan dibuang seperti sampah, seperti kau tak pernah ada artinya. Kau tau?"
Puk
Puk
Gadis itu terpaku ditempatnya. Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jari sang gadis memerah. Taeyong meninggalkan sang gadis sambil berjalan pelan, saat berada di ambang pintu pemuda Lee berhenti.
"Jangan percaya siapapun di dunia entertainer ini, tidak siapapun termasuk aku"
Seringainya kembali tercetak sebelum benar-benar meninggalkan Lisa seorang diri disana. Gadis itu menatap lurus, cakrawala yang mulai dirayapi semburat senja. Lisa tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
How Can I Say? [END]
Fiksi PenggemarTentang Lisa, tentang Ten, tentang Taeyong. Lisa mencintai Ten, sangat. Saat pemuda itu meminta izinnya untuk pergi meraih mimpi, Lisa tak punya pilihan selain melepasnya. Namun Ten benar-benar lepas, selayaknya layangan yang putus. Lisa berusaha me...
![How Can I Say? [END]](https://img.wattpad.com/cover/122251271-64-k948643.jpg)