Sebenarnya Lucid bukan TY×Liz shipper kelas berat, Lucid hanya manusia laknat yang mencintai moment kecil mereka yang begitu manis
(Insiden bangku, colek colekan)
But still, i love them 💗
Tupyohage juseyo, click ☆☆☆☆
❣
❣❣🖤❣❣
❣
"Taeyong! Taeyong! Taeyong!"
Bisikan penuh ancaman, cubitan dan tangan Lisa yang terus berusaha berontak dari genggaman pemuda itu diabaikan. Taeyong hanya terus menarik pergelangan tangan sang gadis dengan langkah yang luar biasa angkuh, ini murni perasaan Lisa, karena sejujurnya ia cukup menciut saat merasakan aura mengintimidasi yang menguar dari tubuh pemuda dihadapannya.
Beberapa staff SMEnt berpapasan dengan mereka, dikiranya Lisa pemuda itu akan mendapatkan teguran atau langsung melepaskan pegangannya. Siapa sangka, setiap staff yang berpapasan dengan mereka malah buang muka atau mengalihkan pandangannya, pura-pura tidak lihat. Padahal kita semua pun tahu, baik Lisa maupun Taeyong merupakan objek penuh pesona yang sulit terabaikan.
Ada apa sih dengan agensi ini? Masa artisnya menyeret-nyeret idol wanita sepanjang koridor malah diabaikan?
Ting!
Akhirnya Lisa dapat bernafas lega.
Bersamaan dengan langkah keduanya yang meninggalkan lift, cengkeraman Taeyong pada pergelangan tangan sang gadis dilepaskan. Iya, sedari tadi pemuda itu begitu kekeuh mencekal pergelangan tangannya. Bahkan saat berada di dalam lift, ia tak mengatakan apapun sekalipun tangannya masih mencengkeram tangan Lisa.
Ia menghela nafas, tak memiliki ide apapun atas apa yang terjadi. Taeyong membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan di lantai teratas, sebuah studio rekaman sepertinya, hanya memiliki ukuran yang lebih kecil dengan desain interior yang dibuat senyaman mungkin.
Pintu dibelakangnya ditutup, namun Taeyong tak menguncinya. Ia mengambil tempat di depan ratusan tombol dengan monitor super besar dan sekat kaca yang menunjukkan ruang rekaman yang kosong, tangannya memutar kursi dihadapannya ke arah Lisa.
"Duduk"
"Kenapa aku harus?"
"Kau lelah, setidaknya duduklah"
Tak ada kata lain setelahnya, Taeyong hanya menatap Lisa. Hingga gadis itu merasa kalah dan menghela nafas, ia mengambil tempat pada kursi putar di hadapan Taeyong. Lisa menggigit kecil ujung bibirnya, berusaha memilih kata yang tepat saat maniknya terpejam sebentar.
Maniknya terbuka, dan ia menghujam ice gaze dihadapannya.
"Kenapa melakukan hal ini?". Tak ada penekanan, Lisa berusaha berbicara dalam suara normal.
"Ini jam istirahatmu, berada di ruang latihan akan membuatmu muak"
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Siapapun yang melihat bagaimana ekspresi dan sikap defensif mu saat berbicara dengan Ten akan tahu, seberapa ingin kau terbebas dari pembicaraan dengannya"
Kali ini Lisa membuang muka, merasa kesal, bagaimana Taeyong dapat membaca dirinya seperti sebuah buku yang terbuka.
"Itu bukan urusanmu"
KAMU SEDANG MEMBACA
How Can I Say? [END]
FanfictionTentang Lisa, tentang Ten, tentang Taeyong. Lisa mencintai Ten, sangat. Saat pemuda itu meminta izinnya untuk pergi meraih mimpi, Lisa tak punya pilihan selain melepasnya. Namun Ten benar-benar lepas, selayaknya layangan yang putus. Lisa berusaha me...
![How Can I Say? [END]](https://img.wattpad.com/cover/122251271-64-k948643.jpg)