I love you guys, really. I wish i could say it louder than just type some words like this, kalian semua alasan dari terbentuknya ff ini..
So, can i get my ☆ cause that's the only thing that i want from y'all (and a few comments of course)~
.
Happy reading ^^
❣
Hari itu lebih cerah dari biasanya, sekalipun waktu masih terlalu pagi namun sinar Mentari menghampiri penduduk Seoul lebih cepat. Memeluk setiap penganut morning person, menghangatkan pagi yang cukup dingin itu.
Termasuk salah seorang pemuda yang kini tengah membereskan barangnya ke dalam ransel, ia mengancingkan ranselnya saat dirasa cukup. Tangan pemuda dengan surai kelam itu menarik ransel berwarna hitam, menyampirkannya di atas bahu tegap yang tampak kokoh.
Ia tersenyum kecil menatap pantulan dirinya di dalam cermin, sebuah kepercayaan diri yang menghilang kini telah kembali.
Sepuluh menit lagi sebelum jadwalnya hari ini dimulai, manajer sudah pasti telah menunggu di parkiran. Ia melangkah keluar kamar, nyaris bertabrakan dengan rekan member se-grup nya di depan pintu.
"Ten hyung, terburu-buru sekali?"
Jaehyun tersenyum tipis, di tangannya terdapat sebuah buku dan americano yang masih mengepul. Sedang Ten yang kini telah berada di ambang pintu memasang sepatunya dengan tergesa, ia hanya tertawa kecil sebelum berujar pelan.
"Manajer hyung menunggu! Sudah ya, Jae!"
Dan pemuda itu benar-benar menghilang setelahnya, Jaehyun terkekeh pelan. Belakangan ini atmosfir di dorm NCT menjadi lebih baik, udara jadi terasa menghangat. Nah, sekarang saatnya membangunkan member lain.
♣
"Perfect!"
Tepukan tangan riuh menggema setelah street dance performance team menyelesaikan penampilannya di hadapan idol lain. Mereka membungkuk dan tersenyum bangga, apalagi trainer memberikan pujian penuh pada mereka semua.
Ten senang sekali, pemuda itu tersentak saat merasakan pukulan pelan di bahunya. Lisa, meninju main-main lengannya dan tersenyum lepas. "We did it!". Dan disinilah Ten, tak dapat menahan senyuman cerah yang terulas menghiasi wajahnya.
Manik pemuda itu tak dapat beralih, mengikuti kemana langkah gadis itu membawa tubuh kurusnya. Hingga Lisa mengambil tempat disisi Seulgi dan bersandar di cermin, Ten masih tak dapat mengalihkan tatapannya.
Gadis itu, benarkah masih Lalisa yang ia kenal?
Lalisa yang ini terlalu bersinar, terlalu bercahaya hingga terasa menyilaukan. Ten masih berdiri, enggan beranjak dari tempatnya. Mengamati bagaimana ekspresi gadis itu berubah-ubah dengan lucu, menggemaskan.
Melihat Lisa yang seperti ini, membuatnya menyesal pernah melukai gadis itu.
"Himdeuro?"
"Uh... Anieo~"
Ten tersenyum tipis, duduk agak terpisah dari Lisa dan menjawab kalimat gadis itu sekedarnya. Hubungan mereka memang telah membaik, Lisa tak lagi mengabaikannya. Terkadang mereka akan mengobrol singkat tentang music, dance, anything!
KAMU SEDANG MEMBACA
How Can I Say? [END]
FanfictionTentang Lisa, tentang Ten, tentang Taeyong. Lisa mencintai Ten, sangat. Saat pemuda itu meminta izinnya untuk pergi meraih mimpi, Lisa tak punya pilihan selain melepasnya. Namun Ten benar-benar lepas, selayaknya layangan yang putus. Lisa berusaha me...
![How Can I Say? [END]](https://img.wattpad.com/cover/122251271-64-k948643.jpg)