Rasa yang tersembunyi

1.2K 55 0
                                        

Malam harinya di sebuah restoran Korean Foods, Evan dan Reynaldi sedang makan malam bersama. Reynaldi tampak menikmati beef BBQ-nya. Sementara Evan, memesan lebih banyak makanan. Ada spicy Bulgogi, Jajamyung, Odon, beserta Kimchi.

"Sepertinya ada yang aneh," kata Reynaldi

"Apanya yang aneh?" balas Evan sambil melahap udonnya

"Sejak kapan nafsu makanmu meningkat?"

Evan pun menghentikan kegiatan makannya seraya berpikir, "Hemm ... Mungkin sejak saat ini," jawab Evan sekenanya.

"Dan belakangan ini, kamu juga cukup sering tersenyum. Sungguh menakutkan," kata Reynaldi seraya bergidik ngeri.

Mendengar itu, Evan tentu tak terima. Sebuah jitakan mendarat di kepala Reynaldi.

"Heh, apa maksudmu? Bukankah dulu kamu sendiri yang menyarankan untuk sering-sering tersenyum."

"Iya, tapi tidak mendadak seperti ini. Dan lagi, kalo aku perhatikan, kamu sering sekali menyiksa sekretarismu. Kamu selalu memerintahkan dia melakukan pekerjaan yang bukan bagiannya. Apa itu masuk akal?"

"Maksudmu si gadis aneh itu? Biar saja, meski awalnya aku hanya sekedar iseng menghukumnya. Tapi siapa sangka, makin lama, dia terlihat semakin lucu. Dia seperti hiburan yang menarik untukku."

Mendengar itu, Reynaldi pun terdiam. Tapi tetap saja, perhatiannya masih tertuju pada sepupunya itu.

'Dan kamu pasti tidak menyadari, bahwa kamu sudah mulai mencintainya.' batin Reynaldi.

"Ah ya ... Hari ini aku akan menginap di apartemenmu, apa boleh?" pinta Evan yang langsung membuyarkan lamunan Reynaldi.

"Tentu, kenapa tidak? Tapi, memangnya ada apa dengan mansionmu?"

"Penyihir dan si anak manja sudah kembali dari Paris. Entah apa lagi yang mereka rencanakan kali ini."

"Hey ... Dia itu ibu dan adikmu. Yang artinya dia tanteku juga."

"Ibu? Dia hanya seseorang yang selalu menganggapku pencuri. Tak peduli bagaimana aku berusaha keras untuk merebut hatinya, tetap saja ... hanya mendiang kakakku yang selalu ada di hatinya. Jika saja kakakku tidak meninggal lima tahun yang lalu, jabatan direktur ini pasti sudah menjadi miliknya. Dan adikku ... Kamu tahu sendiri dia itu selalu menghambur-hamburkan uang."

Reynaldi pun mengangguk seperti meyakini pernyataan Evan.

"Entah kenapa, aku memiliki firasat buruk tentang hal ini," ucap Reynaldi.

"Tidak perlu khawatir, aku akan mencabut akses kartu kredit mereka, jika mereka berbuat ulah kembali."

"Hemm ... Kalian memang keluarga yang rumit."

"Sudah, tidak perlu di pikirkan. Makanlah yang banyak," balas Evan.

*********

Sementara itu di rumah, Luna terlihat tengah mengompres kakinya. Agak sedikit bengkak. Dalam hati ia masih menggerutu akibat ulah Evan padanya.

"Ibu ... Bolehkah besok aku libur? Lihat kakiku, Bu. Aku memiliki bos yang kejam di kantor," keluh Luna.

"Tidak boleh, Luna! Kamu bilang bos kamu itu masih single. Harusnya kamu memanfaatkan waktu ini untuk menggaetnya."

"Ibu!! Apa-apaan sih. Aku itu sudah memiliki tunangan, Bu. Dia Kevin. Ibu sendiri sudah merestui kami. Ingat loh, Bu ... Dua bulan lagi kami menikah."

"Ya ... Kecuali dia tidak mampu memenuhi syarat yang ibu inginkan. Ibu ingin kalian memiliki rumah sendiri."

"Ibu ... Ibu bilang waktu itu, ibu hanya ingin bisa menikahkan aku di sebuah gedung, dengan orkes dan makanan yang lebih dari 100 macam, di tambah seperangkat perhiasan, serta uang tunai 30jt!! Kenapa sekarang ibu malah meminta sebuah rumah?"

My Possessive BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang