Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Pt. 9 | I Like Me Better

690 75 2
                                        

___|A||B||A||N||G||K||U|

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

___
|A|
|B|
|A|
|N|
|G|
|K|
|U|

"Gue pernah berantam udah kaya perang dunia ketiga sama dia. Rasanya itu nyesek kali sumpah. Mau minta maaf tapi nggak ada rasa bersalah sama sekali. Menurutku juga ini semua salah dia. Tapi rasanya ego kalau aku yang maksa dia buat minta maaf. Karena juga sebenarnya aku yang salah."

Hani mulai menceritakan pengalaman dia minta maaf dengan cara ekstrem. Yang dengan bodohnya aku siap mendengarkan dan memoraktekkannya nanti. Demi apapun maafkan aku.

"Terus, gimana caranya lo minta maaf ke dia?" tanyaku dengan rasa penasaran extra.

"Bentar ya kuingat-ingat dulu."

Goblok memang. Asli, dari tadi aku nahan emosi mulu buat tidak menghujat salah satu makhluk dari saturnus ini. Mungkin setelah habis dari meneleponnya akan kumaki-maki dia dengan sopan dan terhormat.

"Oh, waktu itu gue saking enggak tahan diem-dieman sama si Angga. Bingung juga mau minta maafnya gimana. Jadi aku bawa pisau dapur terus samperin si Angga di ruang tamu."

"Bangke, lo udah gila?" potongku cepat saking tidak percayanya dengan apa yang dibilang si bodoh Hani.

"Dengerin dulu makanya, njir."

Aku berdehem pelan dan mengangguk-anggukkan kepala yang jelas Hani tidak bisa melihatnya. Jangan lupakan mulut dan tanganku yang masih sinkron memberi lambungku asupan micin.

"Si Angga kaget, kan. Terus maki-maki namaku kasar banget, dah. Terus aku teriak bilang minta maaf ke dia. Dia langsung cepat-cepat maafin gue. Yah, sebenarnya pisau itu cuma pencitraan doang biar lebih dalam aktingnya."

Bagus juga sih cara si Hani. Tapi kalau orangnya kaya Raey apa not impossible? Mau urung tapi kayanya memang ini cara bagus buat minta maaf ke bang Raey. Terimakasih panutanku.

"Tapi, Han. Kalau misalnya, misal ini ya. Misal aja kok, sumpah misal. Bukan beneran."

"Iya kalau misal APA?! Ngomong kok setengah-setengah."

"Iya-iya. Kalau misalkan pas itu kak Angga nggak peduli dan hanya anggap lo cuma lagi bercanda. Kira-kira apa yang bakal lo lakuin selanjutnya?" Iya, kan? Kalau Raey nggak peduli sama sekali gimana. Kan malu akunya.

Tidak ada suara yang terdengar dari ujung telepon. Hani sepertinya lagi mutar otak karena mencari jawaban dari pertanyaanku tadi. Kebiasaan nih anak kalau lagi mikir, bisa sampai berpuluh menit lamanya.

Dear Brothe[r] | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang