Pt. 13 | I Was a Mistake

696 122 4
                                        

___|A||B||A||N||G||K||U|

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

___
|A|
|B|
|A|
|N|
|G|
|K|
|U|


Pagi tadi aku bangun dalam keadaan yang nahas. Tubuhku tergeletak di atas lantai dengan darah di hidung dan tanganku yang sudah mengering. Aku tidak ingat kenapa bisa terbaring di lantai kamarku sendiri. Yang bisa kuingat cuma kepalaku berat sekali rasanya.

Tapi sekarang aku merasa mendingan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin aku hanya sedang merasa pusing dan terlalu banyak pikiran. Lain kali akan kuperhatikan diriku sendiri. Ah, senang sekali rasanya berbohong.

Soal pertengkaran antara papa dan bang Raey, sama sekali tidak bisa kutanyakan. Mulutku bungkam. Nggak tahu juga karena apa. Mungkin memang bukan sekarang saatnya. Jadi suasana sarapan pagi kali ini, tidak ada suara jahilku kecuali bunyi yang dihasilkan dari tabrakan antara sendok dengan piring.

Oh, hari ini bunda libur katanya. Sementara papa sudah kembali ke kota tempat kelahiran bisnisnya. Dasar. Aku dan bunda lagi sarapan sejak satu menit yang lalu. Kami hanya berdua. Sial, rasanya ingin sekali kutanyakan ini pada bunda. Pasti dia tahu kenapa, kan.

Benar nggak sih, kalau diam itu emas?

Detik saat sarapanku hampir selesai, ada sebuah fenomena yang mungkin sangat membuatku geram. Gimana enggak, bang Raey dengan jiwa nolep-nya turun dengan santai melewati ruang makan. Berjalan seperti tidak ada beban ke pintu utama.

Serius aku ingin bertanya. Apa dia sebenarnya mau mati sampai melewatkan sarapan paginya. Ah, aku terlalu lebay mengkhawatirkannya. Makanan berserak di pinggir jalan sampai dalam sekolah, bro. Dia pasti memungutnya.

Tapi bukan itu yang membuatku merasa kesal.

"Raey, kamu tidak sarapan. Itu sudah mulai dingin. Perutmu masih kosong, apa tidak apa-apa?" ucap bunda berusaha mencegahnya pergi. Tapi tidak ada respon dari makhluk itu. Dia tetap melanjutkan aktivitasnya untuk pergi sekolah.

Sama batunya, bunda juga belum menyerah. Dia menyusul bang Raey sambil membawa segelas susu dan roti yang dibuatkannya dengan penuh cinta.

"Raey, setidaknya minumlah sedikit dan bawa beberapa roti. Kamu bisa makan di jalan nanti. Kalau perutmu kosong, kemungkinan mengurangi fokus pada pelajaran. Makanan di luar juga tidak sama sehatnya dengan makanan di rumah."

Diam-diam aku mengikuti mereka dan bersembunyi di balik pilar dinding. Yang kulihat dari pantauanku, bang Raey malah tertawa paksa setelah ditawarkan minum oleh mama.

"Jadi sekarang, kau mendoakanku cepat sakit? Apa kau berusaha menutup mulutku dengan perkataan manis?"

Aku membesarkan pupil mataku saking terkejutnya. Bahkan aku bisa merasakan sakit yang sama dengan apa yang dirasakan bunda. Aku tahu rasanya menerima kata-kata sarkas dari mulut Raey. Bahkan pernah lebih dari yang ini. Tapi dia tidak sepantasnya ngomong gitu ke bunda.

Dear Brothe[r] | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang