Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___ |A| |B| |A| |N| |G| |K| |U|
14:45 pm.
Setibanya di rumah, aku langsung mengarah ke kamarnya. Tapi tidak menemukan seutas manusia pun di sana. Aku terus mencarinya sampai ke seantero rumah. Meneriaki namanya sampai mendengung ke seluruh penjuru rumah.
Bukannya apa, aku hanya takut kalau-kalau dia berusaha kabur dari rumah. Tidak mendapatkan makanan dan tempat hidup yang layak. Bisa jadi dia rela mengemis di jalanan. Atau bahkan diculik sama bandar sabu-sabu. Atau orang yang ingin menjual organ tubuhnya. Sumpah aku gila.
Jujur aku lelah kalau harus membeli terus membeli sarapan pagi di sekolah. Memastikan seluruh rumah terkunci malam saat pagi, siang, sore, ataupun malam. Membereskan rumah, menyapu dan mengepel lantai sendirian. Aku tidak sanggup dengan semua pekerjaan itu!
Bang Raey kumohon cepatlah pulang!
Wait! Sebenarnya kenapa aku masih mencari anak itu di rumah sementara motornya saja nggak ada di mana pun! Anak siapa sih, kok bodoh kali?! Bawa pulang, gih!
"Haah!" Aku membuang nafas panjang.
Nafasku sampai terengah-engah. Ah tidak, kumohon jangan lagi. Aku menumpu badanku dengan sofa. Ya, sekarang aku kembali berada di ruang tengah. Kakiku terasa lemas, bahkan badanku juga. Apa aku kelelahan? Dadaku sesak, sama seperti saat akan pergi menemui mama tadi. Apa lagi sekarang? Kepalaku terasa berat.
Rasa sakit ini, aku sampai bosan merasakannya. Kuambil ponsel yang ada di saku kananku. Mungkin saat ini memang google bisa membantuku. Segera jariku mengetikkan hal-hal yang sering menggangguku akhir-akhir ini. Seperti seketika mimisan, dada terasa sesak, pusing, dan cepat lelah.
Akh, aku kurang suka membaca artikel yang berkepanjangan. Jadi kubaca saja yang simpel-simpel.
"Kurang darah? Sinusitis? Tekanan darah rendah? Asma? Kanker darah?"
Sudah cukup. Aku tidak akan mau membacanya lebih banyak lagi. Baru lihat saja sudah membuatku bergidik ngeri. Tidak mungkin separah itu, kan. Aku selalu menjaga pola makanku, rajin olahraga, dan setidaknya itu pernah kulakukan dulu.
Baiklah, aku akui itu dulu. Tapi apa rajin berlari di sekolah bukan termasuk olahraga? Oke, dan aku juga tidak memperhatikan makananku sejak beberapa bulan yang lalu. Soda, mie instan, keripik kentang yang sudah mengandung micin, cokelat, itu semua masuk begitu saja ke tenggorokanku.
Ayolah, ini hanya makanan biasa!
Tiga puluh menit lebih kutunggu rasa sakit ini mereda. Tidak, lebih tepatnya aku tertidur. Bayangkan saja, aku terkapar lemas di atas karpet. Setelah bangun, aku segera keluar dari rumah. Mengunci pintu depan dan gerbang rumah. Lalu kulanjutkan mencari bang Raey.