Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___ |A| |B| |A| |N| |G| |K| |U|
Satu hari saja sepertinya belum cukup buat Yuna bisa tidur nyenyak. Karena sampai detik ini, dia belum membuka matanya sama sekali. Setelah dikonfirmasi oleh pihak rumah sakit sebelumnya, Yuna sudah dipindahkan ke rumah sakit tempat Dokter Sean dan ibunya bejerja. Namun kondisinya masih belum membaik sekarang.
Tentu saja itu membuat Ayah, Ibu, dan abangnya khawatir. Mea dan yang lain belum tahu soal ini. Karena Raey tidak mau sampai orang lain tahu. Bahkan terlalu ikut campur dengan urusan keluarganya. Contohnya Guan, dia sudah trauma menghadapi anak itu.
Wait, keluarganya? Nggak, salah. Baru sekarang dia sadar masih punya keluarga. Ke mana saja selama ini. Ngapung, ngambang, rebahan?
Oke, oke. Dia sudah tobat sekarang. Jadi mulailah hilangkan rasa kebencianmu sama anak satu ini. Keadaannya sekarang pun sudah terpuruk, tersudut, terpojok, semuanyalah.
Kau tahu, bagi Raey sekarang mati telah menjadi prioritasnya. Silahkan bunuh dia tapi sebelum itu Raey sangat ingin bicara dengan adik bungsunya itu. Bahkan dia rela bila itu jadi basa-basi terakhirnya dengan Yuna. Asalkan dia tetap bisa melihat tiap senyum Yuna.
"Bangun, Na. Gue di sini."
Raey menggenggam tangan kecil Yuna yang sekarang dipenuhi selang-selang medis. Pasti sakit, kali. Dia menenggelamkan kepalanya di ranjang. Berharap bisa menyembunyikan segala penyesalannya. Apa ini terlalu terlambat?
Memang terlambat.
Sakit yang dialami Yuna ternyata sudah masuk stadium akhir. Belum tentu tenaga medis bisa menyelamatkan nyawa gadis ini. Apalagi saat ini kondisi Yuna hampir bisa dibilang koma. Tapi dokter menyangkal dan memberi harapan kalau Yuna hanya tertidur karena pengaruh obat-obat yang mengalir di dalam tubuhnya.
"Keluar."
Suara berat seorang pria tiba-tiba menguasai atmosfer ruangan itu. Raey terkejut dan mengangkat kepalanya pelan. Itu ayahnya. Orang yang dulu pernah difitnahnya. Bukan, bukan fitnah. Tapi menghakimi.
Mendengar berita bahwa putri semata wayangnya masuk rumah sakit, pria pembisnis itu langsung mengatur jadwal untuk segera pulang menemui anaknya. Sementara jadwal kerjanya dia tunda sebisa mungkin. Saat ini tidak ada lagi yang lebih penting dari anaknya.
Jadi jelas dan wajar kalau ayahnya marah dan tidak suka lihat Raey yang baru peduli dengan adiknya sendiri. Walau semalam dia sudah dihajar habis-habisan oleh ayahnya. Tapi dia tetap ingin bertemu dengan Yuna. Meski untuk terakhir kalinya.