Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Pt. 17 | Uncle Sean

569 70 1
                                        

___
|A|
|B|
|A|
|N|
|G|
|K|
|U|

___|A||B||A||N||G||K||U|

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

  

    

     

Pagi.

Aku tidak menemukan Guan di mana pun. Aku hanya merasakan semua baik-baik saja terkecuali luka-luka di tanganku. Kamarku tertata rapih meski susunannya tidak sama seperti sebelumnya. Tidak ada beling kaca ataupun barang-barang yang berserakan.

Bagaimana bisa Guan membersihkan semuanya. Anak itu kelewat kurang kerjaan. Bahkan dia sudah menyiapkan seragam dan buku-buku sekolahku. Kenapa dia semakin membuatku sulit untuk membalas budi padanya?

Detik berikutnya aku memutuskan untuk pergi ke sekolah dengan perasaan yang entah bagaimana lagi. Kalau bukan karena Guan yang sangat terlihat memaksaku untuk sekolah, aku tidak akan pindah dari ranjang satu langkah saja.

Kali ini aku milih naik taksi. Karena akan tahu apa jadinya kalau aku masih pergi dengan angkot di situasi seperti ini. Sumpek, lambat, bikin emosiku semakin meraja lela. Aku tidak mau itu terjadi.

Hanya butuh beberapa menit, taksi yang kutumpangi sudah sampai di sekolahku. Aku langsung membayarnya dan keluar dari sana. Berjalan masuk ke pelataran sekolah dengan suasana hati yang tidak enak. Kalau boleh jujur, aku belum siap untuk memulai hari ini.

Sampai di sini belum ada yang tahu tentang kondisi luka-lukaku karena aku memakai hoodie. Sumpah rasanya panas kali. Tapi kalau aku tidak pakai benang tebal ini, satu sekolah mungkin akan memandangku jijik. Aku juga tidak mau itu terjadi.

"Yuna! Datang juga lo."

"Kemarin kenapa nggak masuk, lo sakit?"

Mea dan Hani langsung menanyaiku bergantian. Aku hanya bisa berbohong dan memainkan sandiwara baru pada mereka. Syukurlah kalau Guan masih belum kasih tahu siapa-siapa tentangku sekarang.

Di mana dia?

"Santai, gue cuma demam kemarin. Lupa kasih kabar. Maaf, ya."

"Tapi sekarang lo nggak kenapa-kenapa, kan?" Mea mulai menyentuh dahi dan leherku.

"Kalau lo masih nggak enak badan mending istirahat di UKS aja." Sekarang Hani yang mulai mengkhawatirkanku.

Mereka teman yang baik. Aku sangat bersyukur karena dikelilingi orang-orang seperti mereka. Jauh dari masalah pelanggaran aturan sekolah ataupun murid lain. Mungkin itu yang membuat hidupku sedikit tidak seru, ya?

Dear Brothe[r] | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang