Kalimat Pertama

86 1 0
                                        

"Yaaay! Selamat sarjana!" Teriak Sasha, gadis nyentrik dengan gaun vintage yang menghampiri Ara dengan semangat. Ara tertawa dan memeluk salah satu sahabatnya itu, lalu menyambut pelukan dari teman-teman lainnya yang datang khusus untuk hari sidangnya hari ini. Akhirnya, dia Sarjana!

"Ayo, foto-foto" ujar Ara semangat sambil mengeluarkan ponselnya. Dilihatnya sekilas pesan dari Radian, yang juga menyelamatinya dari jauh disana. Dirinya tersenyum senang dan mulai berfoto dengan teman-temannya, dengan stelan blazer putih dan kacamata higam yang membuatnya merasa super keren.

Tiba-tiba ia merasakan sentuhan jari di balik punggungnya, dan bunga matahari besar terikat pita putih serta kertas coklat jatuh tepat didepan mukanya. Senyum gadis bertubuh kurus yang cantik hadir dibalik bunga matahari itu. "Selamat Ara!"

"Aileena!" Ara berteriak kaget dan refleks memeluk Lena, yang langsung balas memeluknya dengan hangat.

Sudah lama sekali sejak terakhir mereka bertemu di malam terburuk Lena. Mata Ara menelusuri tampilan Lena yang kali ini rambutnya sudah memanjang lagi diikat rapi kebelakang, wajahnya dipoles make up nuansa pink natural yang membuatnya segar, dan outfit serba putih yang membuat gadis itu sangat manis. Singkatnya, Lena amat terlihat jauh lebih baik, daripada sebelumnya.

"Kamu sehat??" Tanya Ara, memegangi dua lengan Lena.

"Ya ampun" kata Lena, tergelak. "Ya sehat dong!"

Ara tertawa sumringah melihat Lena sudah lebih "hidup", dan terlihat bahagia. Ia memeluk lagi gadis itu dengan heboh, "Makasih udah dateng!!!"

"Iya, ini bunganya awas rusak!" Teriak Lena, melindungi bunga matahari Ara yang hampir terkena kibasan tangan Ara. "Selamat wisuda, Ara! Doakan aku cepat menyusul, ya. Hehehe"

Ara meraih bunga matahari itu dan menciumnya seraya tersenyum. "Makasih Lena. Eh, iya, bukannya kamu cuti? Udah ambil lagi kelas semester depan, kan? Tinggal skripsi, kan?" Tanyanya, penasaran.

Lena mengangguk. "Iya. Aku mau selesain cepat. Doain ajaya." Jawab Lena mantap, membuat Ara tersenyum lagi. Tiba-tiba gadis itu seperti teringat sesuatu, dan langsung melihat ke sekeliling. Saat ia sepertinya sudah menemukan yang ia cari, gadis itu menoleh ke Ara lagi sambil tersenyum. "Oh iya,.. aku harus ke Vano. Dah, Ara! Selamat lagi, ya."

"Oh, iya. Dah!" Kata Ara, kikuk, dengan mata masih mengikuti langkah Lena yang berlari ke arah Vano di sisi lain, yang juga sidang hari ini.

Dilihatnya Vano menyambut Lena dengan amat senang, mengetahui gadis itu datang membawa bunga yang lebih besar daripada yang gadis itu berikan untuk Ara. Vano dan Lena berfoto bersama dan saling menatap satu sama lain dengan bahagia, dan yang Ara tahu, di mata Lena, kesedihan itu tak tampak lagi.

Dirinya menarik nafas, sambil tersenyum. Mungkin kalau bulan-bulan lalu Radian tak memutuskan pergi, saat iniㅡRadian lah yang dikunjungi Lena, mungkin di tempat yang sama dengan tempat Vano berdiri saat ini.

Radian, radian.

Semua orang punya pilihan, namun Ara senang melihat Lena akhirnya dengan Vano saat ini.

***

"Iya, No. Aku tunggu di Yellow Doors, ya."

Lena mendorong pelan pintu kuning yang familiar itu sementara tangan kirinya menutup sambungan telefonnya dengan Vano. Wangi roti croissant dan kopi yang khas bercampur menarik fokusnya kembali ke tempat dimana ia berada. Langkahnya terhenti sejenak didepan pintu; mendengar seruan selamat siang dari para pramusaji.
Matanya berkeliling, nuansa tembok kuning, putih, coklat, dan lampu-lampu kuning menyambutnya, dengan setiap meja-meja yang berdekatan dipenuhi banyak orang seumurannya.

Dear My Aileena (Book 2)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang