Menunggu Pulang

86 2 0
                                        

Radian menghela nafas seraya duduk di kursi kayu di taman depan kantornya. Matanya jatuh pada tanggal yang tertera di layar ponselnya, yang sudah bertuliskan 2 Juni.

Pikirannya melayang ke pagi ini, saat ia tepat sudah sebulan magang di kantor sutradara Brian Hellsn. Iya, sudah sebulan, dan tak banyak yang ia pelajari selain menyeduh kopi dan menunggu rapat usai untuk membereskan ruangan rapat. Oh, mungkin yang sedikit bermanfaat adalah, memilah kamera.

Apa yang harus ia lakukan? Demi magang ini ia harus keluar dari pekerjaan tambahan sebelumnya dan otomatis uangnya semakin menipis. Akhirnya ia hanya bekerja dua hari di toko kelontong setiap sabtu hingga senin pagi, yang penghasilannya pun tak sebanyak biasanya.

Jika begini terus, kemungkinan ia tak bisa pulang ke Jakarta.

Memang ekspekstasinya terlalu tinggi saat Mr. Adams mengajaknya magang karna karyanya dianggap bagus. Malahan, di kantor tersebut, ia jarang melihat Mr. Adams. Belakangan ini Radian tahu Mr. Adams sedang pergi dinas keluar kota. Terjebaklah ia, kebingungan disini, mahasiswa amatir dari Indonesia yang amat naif.

Dirinya menarik nafas, dan meski ini musim semi, ia masih bisa melihat nafasnya karena cuaca sore itu cukup dingin. Untung saja semester ini tidak terlalu padat karena hanya diisi oleh tugas-tugas praktek. Senior bilang tahun paling padat adalah tahun ke 2 atau semester 3 hingga 5, dimana akan ada projek besar setiap angkatannya.

Tiba-tiba suara bersin seseorang dari arah kirinya membuatnya terkaget. Terlihat laki-laki seumur dirinya dengan hidung memerah sibuk menutup hidungnya. Radian mengerutkan kening, sedikit aneh karena ada orang flu di musim semi. Meski memang malam ini cuaca agak dingin.

Ditatapnya laki-laki keturunan inggris itu. Laki-laki itu bersin terus menerus, namun yang menarik adalah mata laki-laki itu lurus kedepan, seperti memperhatikan sesuatu, bahkan bersin itu tak mengganggu. Radian menoleh ke arah pandang laki-laki itu dan mengerti apa yang laki-laki itu lihat. Seorang wanita yang sedang memilih bunga. Yap, itu titiknya.

Radian tersenyum menatap wajah laki-laki itu. Ia mengeluarkan kameranya dan lensanya mulai bermain.
Senyum Radian mengembang saat laki-laki itu bahkan tak menyadari dirinya jadi objek kamera, karena fokus terkesima oleh wanita itu.

Radian berpindah-pindah tempat, mengambil gambar terbaik untuk mendukung cerita yang ada diotaknya. Lensa kameranya terus menangkap laki-laki itu dan wanita itu bergantian. Dirinya berjalan mengambil beberapa gambar dari sudut yang berbeda, bahkan tanpa sepengetahuan dua tokoh ini.

Lensanya menangkap pemandangan saat wanita itu menoleh dan baru menyadari keberadaan laki-laki itu. Radian tersenyum saat ia menyadari bahwa wanita itu pun kaget dengan kehadiran lelaki ini. Ia menyaksikan dua pasang itu saling bertemu di pertengahan jalan.
Bercakap-cakap dan langsung memeluk satu sama lain.

Singkatnya, laki-laki itu baru datang lagi menemui wanita itu, namun ternyata laki-laki itu alergi bunga. Daripada mengganggu wanita yang asyik memilih bunga; ia memilih menunggu, dan terkesima lagi, lagi dan lagi untuk wanitanya. Entah kenapa, itu membuatnya teringat pada seseorang.

Seseorang yang selalu membuatnya terkesima, lagi dan lagi.

Radian tertawa sendiri, terlampau senang mendapat adegan bahagia yang menular itu, dan kontan menghampiri pasangan itu. "Halo. Nama saya Radian. Maaf, tapi saya telah mengambil gambar anda lima menit lalu tanpa izin, karena saya penasaran. Tapi saya mendapat gambar yang bagus dari momen tadi. Apakah anda tertarik untuk melihatnya?" Ucap Radian semangat dalam bahasa inggris. Pasangan yang bernama Nicole dan Jeffrey itu menyambutnya dan mengatakan bahwa mereka terharu dan sangat senang. Setengah jam setelahnya Radian sibuk membidik kesan pesan Nicole dan Jeffrey dan bertukar alamat untuk mengirimkan hasil editan videonya.

Dear My Aileena (Book 2)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang