Happy Reading 💕
Di part ini, ibu Jiman sudah menikah. Mereka akan merayakan pesta resepsi pernikahan dan akan tinggal bersama di Bandung.
"Sudah siap semuanya? Baju-baju sudah di masukkan? Terus buku buku untuk belajar jangan lupa." ucap ibu sedikit mengencangkan suara karena sedang berada di dalam kamar. "Sudah bu,sudah siap semuanya kok." hanya Ka Isu yang menjawab. "Buku-buku Jiman juga sudah Isu masukkan ke dalam tas Jiman." tambah Ka Isu.
Jiman yang dari tadi hanya melihat Kakak dan ibunya sibuk mengemas barang-barang, langsung bangkit dari kursi dan menghampiri ibunya yang berada di kamar "Bu, memangnya harus ya kita ke Bandung sore ini?" tanya Jiman dengan wajah melas. Ibunya hanya senyum dan mengacak-ngacak rambut Jiman dengan gemas "Ya harus lah nak, memang ada apa?" ucapnya dengan nada pelan.
Jiman hanya menatap ibunya dengan wajah yang masih melas. "Apa Jiman tidak mau pindah ke Bandung Kalau tidak mau, ibu bisa membicarakannya dengan ayah mu." Kata ibu memecahkan keheningan dan lamunan Jiman. "Bukan-bukan, bukan nya Jiman tidak mau, tapi Jiman belum siap aja, kan Jiman sudah dari kecil di sini, banyak kenangan indah bersama ibu dan kakak di rumah ini. Sayang sekali jika di tinggal begitu saja, tapi bukan berarti Jiman menolak untuk pindah, Jiman mau kok pindah ke Bandung." Jiman mengakhiri ucapannya dengan sedikit senyuman.
Ibunya hanya senyum, "kalau begitu Jiman bantu ibu beres-beres ya." Jiman hanya mengangguk dengan cepat.
***
Sore hari pun tiba, Halim datang untuk menjemput mereka yang sudah bersiap di depan rumah. "Ayo, sudah siap?" ajak Halim dengan semangat. "Ayo anak-anak, masukkan semua koper ke mobil." perintah ibu. Dengan penuh semangat Halim membantunya.
Di perjalanan, Jiman dan Ka Isu hanya tidur, sedangkan ibunya dan Halim berbincang tentang resepsi pernikahan yang akan di rayakan di Bandung.
Sesampainya di Bandung, tepatnya di perumahan yang terbilang elit, mereka datang dengan rasa ngantuk yang belum hilang. Mereka menurunkan koper-kopernya. "Hoammmm" Ka Isu menutup mulutnya dengan pelan. "Jadi ini Bandung? Akhirnya aku bisa merasakan tinggal di Bandung." Ka Isu berjalan mengikuti Halim ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, silahkan masuk." Halim membuka kan pintu rumahnya untuk mempersilahkan mereka masuk. "Mas kamu tinggal di sini sendirian?" tanya ibu Jiman. "Engga, ada pembantu rumah tangga dan tukang kebun juga kok." jawab Halim. "Ohhh" balas Mila dengan anggukan mengerti.
"Nah ini kamar Jiman, dan yang di sebelahnya kamar Isu" Halim menunjukan dan membukakan pintu kamar, mempersilahkan mereka untuk masuk. "Selamat istirahat ya." Halim menatap kedua anaknya. Mereka hanya mengangguk dan tersenyum. Dan Halim pun masuk ke kamarnya bersama dengan istrinya.
***
05.15 Jiman sudah bangun untuk shalat subuh. Dia ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah keluar dari kamar mandi, Jiman melihat sekeliling kamarnya "Kamar yang besar" ucapnya dengan pelan, mungkin hanya dia yang dapat mendengarnya.
Setelah shalat, Jiman membuka gorden dan jendela untuk menghirup udara segar di pagi hari. "Jiman" tok... tok... tok... Panggil ibu sambil mengetuk pintu. "Ayo keluar, kita sarapan bersama." ajak Mila. Jiman membukakan pintu dan tersenyum pada ibunya. "Ayo turun, kita sarapan." Jiman hanya mengangguk dan tersenyum.
Di meja makan sudah tersedia beberapa roti. Ka Isu menyuruh Jiman untuk duduk di sampingnya. "Jiman, Isu kalian suka membaca ya? Suka membaca buku apa?" tanya Halim memecahkan keheningan. "Apa saja sih pak, ta...", "panggil saja Ayah, jangan Pak" potong Halim sambil tersenyum kecil.
Isu mengangguk "Apa saja sih Yah, tapi paling suka buku Novel." lanjut Ka Isu membenarkan perkataannya. "Kalau Jiman?" Halim menatap Jiman, "Apa saja Yah." balas Jiman.
"Oh iya, besok kita pergi ya ke Mall. Ayah mau belikan kalian baju dan sepatu, pokoknya semua kebutuhan kalian dan ibu kalian."
"Mall?" Jiman heran.
"Pusat perbelanjaan, di sana kita bisa membeli perlengkapan yang kita butuhkan." jawab Halim.
"Apa di sana ada yang menjual buku?" tanya Jiman,
"Tentu saja" balas Halim cepat. "Jiman mau buku apa?, nanti Ayah belikan."
"Jiman mau buku tentang cara membuat robot" jawab Jiman senang. Ayahnya hanya mengangguk dengan senyuman.
Keesokan harinya, mereka pergi ke Mall. Di Mall mereka mampir ke berbagai toko, mulai dari toko baju, toko sepatu, dan toko lainnya. Sesuai janji Halim kemarin, Jiman diantar ke toko buku untuk membeli buku yang Jiman inginkan, Jiman tampak senang, wajahnya tidak sesenang biasanya.
Maklum di dekat rumahnya yang dulu tidak ada tempat seperti ini. "Jiman tampak sangat bahagia." ucap Halim yang sedang melihat Jiman yang sedari tadi sibuk sendiri mencari buku yang diinginkan. Mila hanya mengangguk dan tersenyum bahagia.
#authormasihpenulisamatiran
#mohondimaafkan
#mohondimaklumi
#typotypotolongmaklumihehehe 😂

KAMU SEDANG MEMBACA
Hi! Jiman [SELESAI]
Teen FictionJiman Hanya siswa biasa, tidak nakal, tidak juga berandal. Pertemuannya dengan Dinda telah merubah hidupnya menjadi nano-nano. Manis... Asin... Asam... Pahit ?