Happy reading 💕
Duggg...
Bola basket mendarat di kepala Dinda, yang membuat gadis itu pusing dan membuat pandangannya buram seketika.
"DINDAAAAAAA!!!" teriak seorang pria yang berdiri di tengah lapangan.
Jiman berlari menghampiri Dinda yang pingsan di bahu Karent. Tetapi saat Jiman akan menyentuh Dinda, Jiman didorong oleh Fero sangat keras hingga terjatuh.
"Pergi lo!!! Gak usah lo sentuh Dinda lagi!!!" bentak Fero sangat marah.
Fero langsung membawa Dinda menuju UKS dan disusul oleh Karent.
"Sabar bro, Fero emang agak emosian orangnya." kata Dicky sambil menepuk pundak Jiman. "Mending lo nyusul Dinda di UKS, sekalian anter dia ke rumahnya. Gue lanjut latihan." tambah Dicky.
Jiman hanya mengangguk dan langsung menuju UKS. Di sana Jiman sudah melihat Dinda yang sudah sadar dan sedang minum teh hangat.
"Din..."
Dinda, Fero, Karent dan Uli penjaga UKS langsung berbalik melihat Jiman yang datang dengan nafas tak teratur.
"Jiman..." jawab Dinda lemah sambil tersenyum manis.
"Maaf, aku gak sengaja, beneran gak sengaja. Maaf ya Din" Jiman meminta maaf pada Dinda dengan rasa penuh bersalah.
"Makanya jangan otot aja yang lo pake!!! Otak juga harus!!!" bentak Fero.
Karent hanya terdiam, ia merasa tidak nyaman dalam ruangan ini. Karent melihat wajah Fero heran, sejak kejadian tadi Karent baru pertama kali melihat Fero semarah itu, dan rasa marah itu ditunjukkan untuk menjaga Dinda dari Jiman. Sangat mengganjal, sepertinya ada sesuatu diantara Dinda dan kakak kelas yang ia sukai itu.
"Iya Jiman, gak apa-apa kok, tadi kan kecelakaan." jawab Dinda.
"Hmm Jim lo bisa kan anter Dinda pulang? Soalnya gue udah di jemput sama papa gue." kata Karent menatap Jiman dan Dinda bergantian. "Din maaf ya, gue udah di jemput soalnya." tambahnya.
"Eh Rent ngapain lo nyuruh nih bocah?! Kan ada gue, biar gue aja yang anter Dinda." Fero tidak terima mendengar ucapan Karent.
Saat itu juga Karent terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Fero. Kecewa, itulah yang dirasakan Karent. Ternyata selama ini Ka Fero menyukai Dinda bukan dirinya, selama ini Karent meminta bantuan kepada Dinda untuk mendekatkan dirinya pada Fero ternyata sia-sia. Sekarang malah Fero yang jatuh cinta pada Dinda bukan pada dirinya.
"Gue duluan..." Karent langsung pergi tanpa melihat Dinda. Tentu saja Dinda mengerti apa yang membuat sahabatnya langsung pergi begitu saja.
Salah paham. Yap! Salah paham.
"Din lo bisa berdiri kan? Ayo gue bantu." ajak Jiman dengan membantunya turun dari bangker.
"Din..." panggil Fero.
"Gue bisa pulang sama Jiman kok Ka, makasih ya udah bawa gue ke UKS."
Jiman langsung membawa Dinda masuk ke dalam mobil. "Pak kita anter Dinda dulu ya?"
"Oh iya den."
***
Sesampainya di rumah Dinda, Jiman langsung memencet bel dan pintu gerbang pun terbuka, Jiman melihat wanita dengan wajah tenang, yang mengenakan daster batik.
"Mah..." panggil Dinda.
Jiman melirik ke arah Dinda dengan raut heran dan terkejut. Ternyata itu adalah mamanya Dinda.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hi! Jiman [SELESAI]
Teen FictionJiman Hanya siswa biasa, tidak nakal, tidak juga berandal. Pertemuannya dengan Dinda telah merubah hidupnya menjadi nano-nano. Manis... Asin... Asam... Pahit ?