Pesan 8

514 36 0
                                    

Pagi buta terasa dingin, embun-embun menetes dari dedauan pohon juga menempel pada jendela kaca, dan suara jangkrik yang bersahutan menambah kesan menyejukkan bagi Fayla.

Orang-orang masih sibuk bergelung dengan selimut tebal mereka. Setelah hujan semalaman suntuk baru reda.

Berbeda dengan Fayla yang justru tak bisa tidur sejak ia terbangun dari tidurnya, jam 2 pagi.

Sekarang jam menunjukkan pukul 3 lebih 45 menit. Sebentar lagi pasti akan subuh, tapi penghuni rumah ini sama sekali belum ada yang bangun.

Di kursi dapur dengan penerangan minim dari lampu luar, Fayla duduk dengan tenang. Hatinya gelisah karena tak kunjung bisa mengambil hati mertuanya.

Fayla mendengus karena tak ada jawaban yang muncul di otaknya, setiap kali hatinya bertanya apa yang harus dia lakukan agar ayah dan nenek anaknya luluh terhadapnya. Setidaknya hati neneknya terlebih dahulu.

Fayla menelengkupkan kepalanya di meja. Ia pusing memikirkannya. Sampai rasa rasanya dia ingin menangis sampai meraung-raung. Agar siapa tahu pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya.

TAK

Lampu dapur menyala terang. Fayla mendongak melihat pada orang yang berdiri di dekat saklar lampu, Rendi -kakak iparnya.

"Kamu ngapain di sini?" tanyanya. Ia berjalan menuju ke kulkas.  Diambilnya botol air dingin dan sebuah gelas dari rak.

Fayla menggelang, "Dingin-dingin malah minum air dingin," ujar Fayla.

"Dari pada kamu, Dingin-dingin bukannya minta kelon sama suami malah keluar kamar." balas Rendi setelah meneguk air dingin.

"Jangan bilang kamu setiap hari tidurnya di sini? Rimba enggak ngebiarin kamu tidur di dalem ya?"

"Enggak kok, aku cuma kebangun aja. Jadi aku turun ke sini, dari pada ganggu Rimba." Fayla menatap Rendi yang kini duduk di depannya.

"Oh, kirain." Mereka diam, mendengarkan suara jangkrik yang sangat mendominasi suasana.

Fayla kembali melamun sedangkan Rendi mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.

"Kamu lagi ada pikiran ya?" tanya Rendi setelah memperhatikan Fayla. Fayla menatap Rendi. Ia terkekeh pelan.

"Ketara banget ya?" tanya Fayla polos.

"Kenapa mikirin karena belum bisa ambil hati mama?" Fayla diam. Ia merasa tak enak jika harus mengatakan iya.

"Atau karena belum bisa buat Rimba cinta sama kamu?" Fayla mengalihkan pandangan pada kulkas yang ada di sudut ruangan.

"Ambil hati ibunya baru ambil hati anaknya." Setelahnya Rendi berdiri, pamit untuk kembali ke kamar.

Benar apa yang dikatakan Rendi bahwa ia harus mengambil hati mamanya.

Fayla tersenyum. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.

Suara Azan subuh berkumandang. Fayla membuang jauh jauh rencananya sejenak. Ia ingin mebdekatkan dirinya terlebih dahulu. Ia ingin menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim terlebih dahulu.

***

Di meja makan tampak riuh dengan celotehan bocah SD yang kini duduk di samping papanya. Dia selalu bertanya apa saja fungsi dan manfaat sayuran bagi tubuhnya.

Di atas meja telah tersaji hasil karya Fayla. Seperti semur, tahu tempe goreng dan lalapan. Ada juga cap cai dan mi goreng.

Sebenarnya Fayla tak tahu apakah ini cocok untuk sarapan atau tidak. Namun, hal itu mendapat pujian dari papa mertua, kakak ipar dan keponakannya.

Pesan Dari HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang