7 TAHUN KEMUDIAN....
Di melangkah keluar dari airport di kota kelahirannya. Langkahnya sedikit gontai mengingat ini kali terakhir dia harus geret koper sebagai pramugari. Ya siapa yang sangka pekerjaan ini dia dapatkan lima tahun yang lalu, tepat di detik-detik menjelang wisuda sarjana nya, dia mencoba melamar pekerjaan ini, pekerjaan yang memenuhi hasrat nya untuk berlari dari bayang-bayang kakak dan orang tuanya.
Pekerjaan yang menuntunnya untuk lari dari rumah dan merasakan nikmatnya kebebasan. Bebas lepas, bahkan Di terkadang sampai lupa memiliki keluarga. Padahal keluarganya tidak demikian. Ayah bunda nya selalu sayang, Ally juga sayang padanya, mereka sangat kuatir pada Di.
Mereka selalu menanyakan kabarnya, dan mengetahui Di selalu menghindar, bahkan akhirnya ayah memaksa Di untuk berhenti bekerja, ayah memintanya pulang untuk menjaganya yang sudah sakit-sakitan. Tentu saja itu hanya akal-akalan ayah saja agar Di mau pulang.Tanpa setau Di, ayah-bunda dan Ally sudah menyiapkan jodoh buat Di. Mereka hanya ingin Di bahagia dan menyayangi mereka, tidak lari seperti lima tahun terakhir ini.
"kamu dimana? Aku sudah diujung terminal kedatangan" tanya Ally begitu ku angkat telfonnya.
"iya Di sudah lihat kakak, buka bagasinya" jawab Adia, dia melambaikan tangan lentiknya ke arah Ally yang menyetir sedan merahnya sambil melangkah menghampiri.
"makin cantik aja kamu dek" sapa Ally sambil memeluk Adia.
"biasa aja kak, kakak tu yang makin cantik" balas Adia mengagumi kakaknya yang terlihat menawan.
Kedua gadis cantik itu begitu berbeda. Allysa dengan kulit tanning sempurna, rambut ikal sepinggang, rahang kuat, alis tebal dan bibir tipisnya, kesan tegas dan anggun tapi hangat memancar dari tubuhnya imut yang tinggi hanya 155cm. Dia mewarisi garis wajah ayahnya. Allysa begitu manis, begitu mudah untuk bersahabat dengan semua orang. Hari ini dia mengenakan blazer terusan warna salem yang pas sekali ditubuhnya. Dibantu dengan heels 15centi membuatnya nampak lebih tinggi.
Adia dengan tubuh tinggi 172cm, wajah oval, rambut lurus sebahu yang saat ini disanggul, mengenakan seragam kebanggaan pramugari indonesia kebaya berwarna toska dan wiron senada. Kulit putih, hidung bangir, bibir bulat penuh menggoda dan matanya yang bulat, kesan anggun, cantik dan agak dingin ada padanya, seperti ada benteng disekitar tubuh yang selalu tersenyum simetris itu. Sikap tubuhnya juga tegak sempurna. Membuat semua mata akan berpaling dua kali untuk menatapnya lebih lekat tapi tak kan berani mendekat. Wajahnya mewarisi garis ibunya, tapi ibunya begitu ramah dan hangat tapi Adia begitu dingin. Mungkin kebanyakan menahan dan menutup diri, membuatnya seperti begitu.Adia masuk dan duduk disamping Ally setelah memasukkan kopernya ke bagasi. Ally segera menginjak gas dan melajukan kendaraan meninggalkan airport.
"kamu udah makan? Kakak mau ajak kamu makan ketemuan sama calon suami kakak" kata Ally
"kapan kak? Sekarang? Di belum ganti seragam nih. Masih lecek abis tugas"
"kamu tu pramugari kan? Selalu cantik kapan aja dimana aja. Lagian yang harus kuatir penampilan itu kakak. Yang mau kita temui kan pacar kakak, bukan pacar kamu."
Adia hanya tersenyum mendengarnya kemudian manggut-manggut.
"apa kamu mau tampil all out dan rebut lelaki ini lagi dari kakak? " ledek Ally
Adia gak senang ledekan ini dan menganggap serius.
"kalau dia tertarik padaku dan meninggalkan kakak berarti dia bodoh, dia bukan orang yang tepat untuk melihat kesempurnaan kakak". Jawabnya sambil cemberut.
"duh segitunya dek... " tawa Ally memecah. "kami seminggu lagi sudah nikah, masa' dia masih berani mau ninggalin kakak?"
"loh, aku kok gak tau kakak mau nikah minggu depan? " jawab adia kaget, mata nya yang bulat makin membulat besar.
"makanya jangan kelamaan mengudara, sampe lupa dan gak peduli sama kakak semata wayangnya ini"Kemudian keduanya hening, Ally sibuk memperhatikan lalu lintas, sementara Adia terus memandangi kakaknya. Sang ahli Gizi - nutritionist kondang, yang jadi penasehat gizi dari beberapa artis dan selebritis. Ally bertanya-tanya siapakah lelaki beruntung yang menjadi tempat hati kakaknya ini bertaut. Mengingat begitu mudahnya dulu dia jatuh cinta dan bosan.
"kamu bawa baju ganti kan Di? "
" ada di koper
"kamu bisa ganti pakaian nanti di cafe itu, bang Thariq dan aku janjian jam 5, ini masih jam 4 lewat, masih banyak waktu"
"bang Thariq? " tanyaku, "ini Thariq yang dosen kakak dulu itu bukan?" Ally mengangguk sambil tersenyum lebar.
"tanya dong, kok bisa!" kata Ally sambil terkekeh
"iya kak kok bisa? " tanya Adia heran, Ally terus tertawa.
"ya kan kami bertemu terus. Kamu lupa ya, dia dosen pembimbing skripsiku. Setelah tamat kami juga sering bertemu di seminar. Proyek pertamaku juga diperoleh dari dia. Kami sering bersama, lalu akhirnya tiga tahun yang lalu dia langsung melamar kakak"
"trus kok lama baru kakak menikah sama dia? Ngumpulin modal ya?" canda adia
"hush... Enak aja. Bang thariq tu high quality jomblo ya waktu itu. Dia ganteng, mapan sempurna. Yang gak sempurna itu otak kakak, kakak sengaja pending buat memastikan bahwa dia memang benar-benar milih kakak dan melupakan kamu"
Aku jadi terdiam. "Kakak gak mau kejadian Taufik terulang. Dia deketin kakak buat jadi jembatan ke kamu."
"kakak tenang aja, aku gak bakal mau sama dia, bukan tipe ku. Sorry ya"
"eh iya ya, pramugari sih, sukanya tipe siapa sih? Dulu sukanya sama si Aulia itu kan ya? Setelah itu siapa lagi cowok mu dek? Pilot? Co-pilot? Flight engineer? Pejabat? Atau artis ya??"
Adia tertawa saja sambil menggeleng-geleng. "gak ada kak, aku gak sempat"
"what? Gak sempat katamu? Segitu banyak cogan disana gak satupun kepincut dek? Cinta mati kamu sama si Aulia itu ya? Sudah nikah dia dek. Move on dong kamu"
"enak aja kakak" adia mencubit lengan Ally sampai dia mengaduh "aku aja udah lupa banget sama dia. Nyebelin ih. Lagian aku gak suka cowok kak" lanjutnya. Membuat Ally mengerem mendadak, melongo menatap adiknya.
"kamu lesbi? " tanya Ally panik,
" aku suka nya lagan kak, laki-laki ganteng, bukan cowok, cowok itu boys, childish, bikin repot" lanjut Di sambil terkekeh bahagia berhasil mengerjai kakaknyaKeduanya tergelak bersama menikmati perjalanan sambil bernostalgia cinta segitiga bodoh saat mereka remaja.
Ally menepikan mobilnya ke parkiran sebuah cafe yang nuansanya cukup cozy. Adia membuka bagasi dan membuka kopernya mengambil pakaian ganti, hanya celana jeans dan blus simpel polkadot biru, dan masuk kembali ke jok belakang mobil Ally, mengganti pakaian disana. Ally menunggu diluar mobilnya sambil menelfon Tunangannya.
Adia keluar dari mobil sambil membawa seragamnya yang sudah terlipat rapi, memasukkannya kembali ke kopernya. Mengambil dompet dan hp dari handbag dan menyelipkannya ke kantong celana jeansnya. Sambil melangkah masuk ke dalam cafe mengikuti langkah Ally, Adia melepas sanggulan rambutnya. Menyisirnya dengan jari, membuat rambut lurusnya menjadi agak bergelombang, terlihat sedikit berantakan tapi sexy.
"kak aku ke toilet dulu ya" Adia terus ke toilet cafe untuk. Mencuci wajahnya agar lebih segar dan mengeringkannya dengan tisu. Wajah polosnya membuat dia makin segar dan nampak lebih imut.
Selesai keluar dari toilet, Adia mendapati Ally, mereka segera memesan minuman dan makanan. Tak lama hp Ally berbunyi, Thariq calling...
"ya bang? Kami sudah didalam, masuk aja ke bagian kanan cafe ya" jawab Ally, kemudian langsung mematikan telfonnya. Tak lama Thariq muncul, lelaki itu nampak keren dengan kemeja warna salem, dan celana kain hitam, lengan kemejanya digulung rapi sampai siku, Adia tersenyum kemudian melirik kakaknya. Dia yakin Ally yang mendandaninya begitu serasi layaknya couple.
Tanpa risih Ally dan Thariq cipika cipiki depan Adia. Kemudian Thariq mengucek kepala Adia.
"Hai, lama banget gak ketemu kamu ya. Masih unyu kayak dulu" disambut cengiran Adia, dan cebikkan Ally.
"pak dosen ngerti arti unyu?" tanya Adia.
"ngertilah!" jawabnya juga sambil tersenyum.
"ya udah ya, aku pulang aja, biar kalian puas nostalgia gebet gebetan jaman jahiliah dulu" rajuk Ally, disambut derai tawa Thariq.
"kakak mu ini cemburuan banget ya Di. Lelah ngadepinnya. Syukur aku punya cadangan kesabaran ngadepinnya" Thariq memandang calon istrinya dengan tatapan dalam dan penuh kelembutan. "saat ku bilang hanya kamu dihatiku harusnya kamu percaya Al..."
And that's how love goes...

KAMU SEDANG MEMBACA
MISS Versus MAS
RomanceAdia gadis 27 tahun yang terpaksa harus pensiun dini jadi pramugari karena permintaan orang tua nya yang takut anak gadis nya jadi perawan tua, padahal kakak nya sendiri Allisa (29 tahun) yang seorang nutritionist juga belum menunjukkan tanda mau...