Patah Hati

5.3K 322 26
                                        

"Ra...," suara mama dibalik pintu kamar terdengar setelah beberapa kali ketukan di pintu terhenti. 

Aku tidak bergerak dari tempatku barang sejengkal. Masih meringkuk dan membungkus diriku dengan selimut. 

Semalaman aku tidak bisa tidur. Pikiranku masih melayang-layang dengan banyak pertanyaan tentang Bima yang tega menghianati aku. 

"Kamu nggak kuliah, Ra?" tanya mama setelah masuk ke kamarku. Aku merapatkan selimut, enggan menjawab pertanyaan dari mama.

"Ya udah, ini sarapanmu ya," kata mama. Aku mendengar mama meletakkan nampan di atas nakas, kemudian menutup pintu kamarku.

Belum lama mama meninggalkanku, ponselku berbunyi dengan nada panjang. Seseorang meneleponku, mungkin Sindi. Biar saja. Aku tidak ingin ke mana-mana hari ini. Aku masih kesal, marah, kecewa, uuugghh.

Bimantara Putra Aditya, tega sekali kamu, Bim. Aku ini kurang apa, hingga kamu tega bermanja ria dengan seorang wanita yang bernama Dina. Bahkan kamu pun sempat memperkenalkan kami berdua. Apa maksudmu waktu itu Bim? Membandingkan aku dengan Dina? Aku tidak kalah cantik dari Dina. Aku lebih tinggi beberapa centi dari pada selingkuhanmu, kulitku lebih putih, rambutku memang pendek sebahu, namun lebih hitam dari miliknya, aku masih lebih hawt ke mana-mana Bim. Ukuran BH mungkin aku dan dia sama, tapi masalah belakang, aku lebih komes ke mana-mana. Dina tepos, nggak se-sexy aku. 

Aku lebih terbuka  Bim, aku tidak pernah mengekangmu. Kamu ingin main basket, aku iyain. Pengen jalan dengan teman-temanmu, aku iyain. Kamu pengen kemah di Ranu Kumbolo, aku iyain juga. Nggak pernah sekali pun aku bilang tidak, ribut ingin ikut dan merecoki waktu bersenang-senangmu dengan teman-temanmu

Apa lagi? Masalah otak? Aku lebih pintar, aku dua kali loncat kelas waktu SD. Aku memang nggak tertarik dengan dunia kedokteran karena aku takut darah, tapi aku memilih jurusan yang lebih sulit dari pada selingkuhanmu, aku lebih memilih jurusan psikologi karena aku ingin memahami jiwa-jiwa dan perilaku manusia

Tapi sepertinya aku bodoh Bim, aku bahkan tidak pernah mengira bahwa kamu akan begini. Tidak pernah sekali pun aku curiga kepadamu. Karena setahuku, kamu begitu sayang padaku. Aku masih ingat semua hal yang kita lalui bersama. Aku masih ingat kamu meminjamkan jaket almet padaku, hingga kamu rela dihukum Pak Joko waktu itu. Aku juga ingat jaman dulu kita masih SMA naik sepeda motor, dan kamu hanya bawa satu mantel, kamu suruh aku pakai mantel dan kamu yang kehujanan sampai besoknya demam. Bahkan dulu hampir setiap hari datang ke rumah, ngerjain PR bareng, bercanda nggak jelas, makan bareng, dan banyak hal lain yang kita lakukan. Se-sweet itu yang kamu lakukan padaku, Bim. Tapi kenapa akhirnya harus begini? Kenapa kamu harus berpaling pada wanita lain? Sampai hamil pula.

Mampu (s) Tanpamu	 (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang