Getaran

3.1K 217 9
                                        

Aku menoleh ke belakang. Tampak seorang lelaki yang dulu ku kenal sedang berjalan dengan seorang wanita yang memegangi perut buncitnya. Ya, itu Bima dan istrinya.

Tiba-tiba ada sebuah tangan menutupi mataku. Aku terkejut dan memegang tangan itu.

"Siapa nih? Sin, jangan iseng deh lo," ucapku sambil meraba tangan yang menutupi kedua mataku. Ia menggunakan tangan kanan untuk menutupi mataku, lalu ada dua buah gelang di pergelangan tangannya.

"Siapa? Orang gue di sini dari tadi," jawab Sindi. Suaranya masih berada di depanku. Aliya juga bukan sepertinya, Aliya tidak pakai gelang di tangan kanannya.

"Siapa Ra?" suara yang ku kenal, Ares.

"Udah tahu," jawabku. Lalu ia melepas tangannya dari mukaku.

"Kok bisa di sini?" tanyaku.

"Kan tempat umum," balasnya. Aku mencebik. Ya dia benar ini tempat umum, tapi kok bisa nemuin aku dan teman-temanku? Aku melirik Sindi. Sindi menggeleng. Aku melirik Aliya, tapi setahuku Aliya tidak pernah punya kontak Ares, jadi jelas tidak mungkin.

Aku kembali menoleh ke belakang, mencari sosok Bima yang tadi sempat tertangkap oleh mataku.

"Nyari siapa sih? Aku udah di sini kok," kata Ares yang membuatku terpaksa menoleh padanya dan melupakan sosok Bima yang sudah menghilang ditelan lalu lalang orang-orang.

Sindi dan Aliya berdehem sambil tersenyum. Meledek Ares yang sedang menatapku dengan jarak wajah kurang dari lima belas centi dariku. Aroma nafasnya yang segar tercium olehku.

Ditatap Ares sedekat ini membuat getar yang tak biasa di hatiku.

Aku mengalihkan pandangan, salah tingkah. Dari sudut mataku, aku tahu Ares tersenyum tipis.

"Kalian ke sini buat olah raga atau buat sarapan?" tanya Ares pada kami bertiga.

"Buat cuci mata, ngelupain dia yang nggak peka sama perasaan di dalam dada," balas Aliya. Ares tertawa, aku meliriknya sedikit.

Sejak kapan sih tawanya Ares jadi kelihatan semanis ini?

"Ya kodemu kurang sih Al, jadi dia nggak sadar-sadar."

"Bukan gitu, si Aliya ini kodenya pake sandi rumput. Cowoknya nggak bisa baca," kata Sindi.

"Kamu mau?" tanyaku pada Ares sambil menunjukkan piring yang berisi nasi pecel tinggal setengah porsi. Ia menggeleng.

"Minum?" tawarku pada Ares. Ia menggeleng sambil menunjukkan sebuah botol minum di tangannya.

"Tadi parkir di mana?" tanya Ares padaku.

"Di museum," jawabku. Ares manggut-manggut.

"Ya udah, kalian sarapan dulu deh. Aku mau jalan dulu," pamit Ares.

Aku terkejut. Tumben sekali seperti ini, biasanya dia akan betah ikut nimbrung dan ngobrol denganku atau pun Sindi.

"Duluan ya," katanya sambil mengacak puncak kepalaku.

Rambut yang diacak, hati yang berantakan, Res!

Aliya dan Sindi berpandangan, kemudian tersenyum padaku. Setelah menyuap sesendok nasi ke mulutnya, Aliya meneguk air lewat pipet.

"Kalian udah jadian?" tanya Aliya padaku.

"Jadian?"

Aliya mengangguk.

"Ya gimana, udah kayak gitu masa belum jadian sih Ra?"

"Kayak gimana?" tanyaku sambil meletakkan piring di atas meja.

Mampu (s) Tanpamu	 (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang